TIGA TANDA ALLAH MENGHENDAKI KEBAIKAN
KEPADA HAMBA-NYA
Pernahkah kita merasa hidupnya seolah berada di jalan buntu? Doa telah dipanjatkan, ikhtiar telah dilakukan, namun persoalan belum juga menemukan jalan keluar. Tekanan ekonomi, sulitnya mencari pekerjaan, derasnya arus informasi, persaingan hidup, hingga kecemasan terhadap masa depan sering membuat hati mudah gelisah.
Padahal, yang sebenarnya sering kali buntu bukanlah jalan hidup kita, melainkan prasangka kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita mulai mengira bahwa pertolongan Allah telah jauh, padahal Allah memiliki cara-cara yang tidak pernah terlintas dalam pikiran kita sebagai manusia.
Mari kita belajar dari kisah Nabi Musa 'alaihissalam. Ketika beliau dan kaumnya berada di tepi Laut Merah, di depan terbentang hamparan lautan luas dan dalam, sementara di belakang pasukan Fir'aun terus mengejar. Secara logika!, tidak ada lagi jalan keselamatan. Namun ketika pertolongan Allah datang, lautan pun terbelah dan menjadi jalan keselamatan.
Karena itu, jangan pernah membatasi kekuasaan Allah dengan sempitnya akal kita. Tugas kita hanyalah bertakwa, berikhtiar, dan bertawakal. Sebagaimana Firman Allah Swt : (QS. At-Thalaq: 2-3)
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا - وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya - dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.
Pernahkah kita merasa tertinggal dari orang lain. Melihat Ada yang lebih dahulu sukses, lebih dahulu menikah, lebih dahulu mapan, atau lebih dahulu meraih cita-cita. Lalu hati bertanya, "Mengapa hidupku belum seperti mereka?"
Padahal, kita sering lupa bahwa Allah tidak pernah terlambat dalam menetapkan sesuatu. Rezeki, jodoh, kedudukan, bahkan setiap ujian dan kebahagiaan telah Allah tetapkan jauh sebelum kita dilahirkan.
Ketika doa belum dikabulkan, bukan berarti Allah tidak mendengar. Ketika harapan belum terwujud, bukan berarti Allah mengabaikan kita. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan waktu terbaik yang belum mampu kita pahami hari ini.
Di era Social Media, kita begitu mudah membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Padahal yang kita lihat hanyalah potongan kebahagiaan mereka, bukan seluruh perjalanan hidupnya. Akibatnya, kita lebih sibuk menghitung nikmat orang lain daripada mensyukuri betapa besarnya nikmat yang Allah titipkan kepada kita saat ini.
Karena itu, jangan habiskan hidup dengan kegelisahan terhadap masa depan, dan jangan tenggelam dalam penyesalan masa lalu. Teruslah berikhtiar, bertawakal, dan berbaik sangka kepada Allah. Sebab tidak ada takdir yang tertukar, tidak ada rezeki yang salah alamat, dan tidak ada ketetapan Allah yang datang terlambat.
Mari kita mengambil ibroh pula dari kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Ketika beliau dilemparkan ke dalam kobaran api, Allah tidak memadamkan api itu. Api tetap menyala, berkobar, tetap besar, tetap tampak mengerikan dan menakutkan. Namun Allah berfirman:
يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
"Wahai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim."
Apinya itu tidak hilang, tetapi sifatnya diubah sehingga tidak lagi menyakiti.
Demikian pula dalam kehidupan kita. Kita sering berdoa agar masalah segera lenyap/hilang. Namun terkadang Allah tidak menghilangkan masalah itu. Yang Allah ubah adalah hati kita. Allah melapangkan dada yang sempat sempit, menguatkan kesabaran, menenangkan jiwa yang gelisah, dan memberikan kekuatan untuk melewati ujian. Akhirnya, dengan masalah yang sama itu, tidak lagi mampu melumpuhkan hati kita. Ini adalah anugrah dari Allah Swt.
Dari sekian perjalanan hidup dan kehidupan kita di dunia ini, Islam hadir mengajarkan kita untuk senantiasa memperluas syukur kepada Allah, menguatkan husnudzon pada siapapun terlebih kepada pada Allah Swt, yang semua itu akan bermuara pada satu titik yang disebut kesholehan atau kebaikan dan keridhoan Allah.
Lantas bagaimana kita bisa mengetahui bahwa Allah Swt telah benar-benar menganugrahi kesholehan atau kebaikan-kebaikan tersebut pada diri kita?
kabar baiknya ... Rasulullah Saw memberikan pelajaran dan tanda-tanda untuk kita semua, sekaligus menjadi alat identifikasi / muhasabah atau kesholehan check up, apakah Allah telah menganugerahi cahaya kebaikan pada hambanya ?
Setidaknya Di antara tanda atau kondisi bahwa Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, dapat dicek pada 3 kondisi :
Konsisi yang Pertama, Allah memberikan pemahaman agama kepadanya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Barang siapa dikehendaki Allah memperoleh kebaikan, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama."
----
Ilmu agama bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjadi cahaya yang membimbing seseorang agar mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang halal dan yang haram, serta menjadikan hidupnya lebih dekat kepada Allah.
Perhatikanlah, Nabi tidak mengatakan "Allah memberinya banyak harta" atau "Allah menjadikannya terkenal", tetapi Allah memberinya pemahaman tentang agama. Sebab, ilmu agama adalah kompas kehidupan. Orang yang cerdas tetapi tidak mengenal petunjuk Allah bisa tersesat dalam menggunakan kecerdasannya. Sebaliknya, orang yang memahami (berusaha memahami) tuntunan agama akan mampu menempatkan ilmu, harta, jabatan, dan seluruh nikmat dunia pada jalan yang benar.
Kondisi yang Kedua, Allah memudahkan dirinya melakukan amal saleh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ
“Ketika Allah berkehendak kepada seorang hamba berupa kebaikan maka Allah akan mempekerjakan Hamba tersebut”
Para sahabat bertanya, "Bagaimana Allah mempekerjakannya wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab:
يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ
"Allah memberikan taufik kepadanya untuk melakukan amal saleh sebelum ia meninggal."
Apa itu taufiq ? kata imam Jurjani dalam kitabnya At-Ta’rifat, Taufiq adalah :
خَلْقُ قُدْرَةِ الطَّاعَةِ عَلى الْعَبْدِ
Diberikannya kemampuan ta’at ibadah oleh Allah kepada seorang hamba.
Jadi Taufiq ini lebih mahal, lebih tinggi daripada Hidayah, karena hidayah adalah kesadaran, akan tetapi taufiq adalah adanya kemampuan yang diberikan Allah Swt.
Maka jangan pernah meremehkan kesempatan berbuat baik. Bisa jadi satu langkah menuju masjid, satu ayat yang kita baca, satu sedekah yang kita keluarkan, atau satu nasihat yang kita sampaikan menjadi tanda bahwa Allah sedang menghendaki kebaikan bagi kita.
Begiitulah Allah "mempekerjakan" seorang hamba. Allah memberi kesempatan lisannya untuk berdzikir, tangannya untuk membantu sesama, ilmunya untuk mengajar, hartanya untuk bersedekah, tenaganya untuk melayani umat, dan waktunya dipenuhi amal-amal yang diridhai-Nya.
Karena itu, jangan hanya berdoa agar diberi rezeki yang banyak, tetapi berdoalah agar Allah memberikan taufik untuk mengisi setiap rezeki, profesi, dan usia kita dengan amal saleh. Sebab seseorang belum disebut berhasil hanya karena memiliki pekerjaan, tetapi ia benar-benar beruntung ketika Allah menjadikan pekerjaannya sebagai jalan menuju surga.
Kondisi yang Ketiga, Allah menguji hamba tersebut.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan menimpakan ujian kepadanya." (HR. Bukhari)
Para ulama, di antaranya Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari’-nya, menjelaskan bahwa : “ujian bagi seorang mukmin bukanlah tanda Allah membencinya, tetapi salah satu cara Allah membersihkan dosa, meninggikan derajat, dan menyempurnakan keimanannya”. Seorang hamba yang diuji dengan kesabaran akan memperoleh kedudukan yang mungkin tidak dapat diraih hanya dengan banyaknya amal ibadah.
Maka jangan hanya meminta agar ujian diangkat, tetapi mintalah agar Allah menguatkan hati ketika diuji. Sebab bukan beratnya ujian yang menentukan kemuliaan seseorang, melainkan bagaimana ia tetap beriman, bersabar, dan terus taat di tengah badai ujian itu.










