Selamat Datang di Situs Resmi MGMP PAI SMKN 5 Surabaya

"Tata Niat, karena baik buruknya niat akan kembali pada yang berniat"

Nasionalisme sebagai bagian dari kerakter religius Murid

Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman.

Gerakan Menulis Mushaf Al-Qur'an

Antusiasme Para Murid SMKN 5 Surabaya dalam belajar menulis Ayat-AYat Al-Qur'an.

Istiqomah Dalam Dendirikan sholat 5 Waktu

Dimulai dari Program Penguatan Karakter dan Materi PAI (PPKM PAI) di SMKN 5 Surabaya .

Pembiasaan Cinta Al-Qur'an

Pengembangan Program Tahfidz AL-Qur'an SMKN 5 Surabaya.

Subscribe Us

# SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI GURU MAPEL PAI SMKN 5 SURABAYA, NGAJI SEPANJANG HAYAT | INFO : SELAMA MASA PEMBELAJARAN DI RUMAH, PEMBELAJARAN PAI DIPUSATKAN DI SITUS RESMI INI, BAGI SISWA-SISWI SMKN 5 SURABAYA SILAHKAN KOORDINASI DENGAN GURU PAI MASING-MASING UNTUK BERSAMA-SAMA MEMBERDAYAKAN SITUS INI DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH # .....
Tampilkan postingan dengan label KHUTBAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KHUTBAH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juli 2026

TIGA TANDA ALLAH MENGHENDAKI KEBAIKAN KEPADA HAMBA-NYA

 TIGA TANDA ALLAH MENGHENDAKI KEBAIKAN 

KEPADA HAMBA-NYA


Pernahkah kita merasa hidupnya seolah berada di jalan buntu? Doa telah dipanjatkan, ikhtiar telah dilakukan, namun persoalan belum juga menemukan jalan keluar. Tekanan ekonomi, sulitnya mencari pekerjaan, derasnya arus informasi, persaingan hidup, hingga kecemasan terhadap masa depan sering membuat hati mudah gelisah.

 Padahal, yang sebenarnya sering kali buntu bukanlah jalan hidup kita, melainkan prasangka kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita mulai mengira bahwa pertolongan Allah telah jauh, padahal Allah memiliki cara-cara yang tidak pernah terlintas dalam pikiran kita sebagai manusia.

 

Mari kita belajar dari kisah Nabi Musa 'alaihissalam. Ketika beliau dan kaumnya berada di tepi Laut Merah, di depan terbentang hamparan lautan luas dan dalam, sementara di belakang pasukan Fir'aun terus mengejar. Secara logika!, tidak ada lagi jalan keselamatan. Namun ketika pertolongan Allah datang, lautan pun terbelah dan menjadi jalan keselamatan.

 

Karena itu, jangan pernah membatasi kekuasaan Allah dengan sempitnya akal kita. Tugas kita hanyalah bertakwa, berikhtiar, dan bertawakal. Sebagaimana Firman Allah Swt : (QS. At-Thalaq: 2-3)

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا - وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya - dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.  

 

Pernahkah kita merasa tertinggal dari orang lain. Melihat Ada yang lebih dahulu sukses, lebih dahulu menikah, lebih dahulu mapan, atau lebih dahulu meraih cita-cita. Lalu hati bertanya, "Mengapa hidupku belum seperti mereka?"

 

Padahal, kita sering lupa bahwa Allah tidak pernah terlambat dalam menetapkan sesuatu. Rezeki, jodoh, kedudukan, bahkan setiap ujian dan kebahagiaan telah Allah tetapkan jauh sebelum kita dilahirkan.

 

Ketika doa belum dikabulkan, bukan berarti Allah tidak mendengar. Ketika harapan belum terwujud, bukan berarti Allah mengabaikan kita. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan waktu terbaik yang belum mampu kita pahami hari ini.

 

Di era Social Media, kita begitu mudah membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Padahal yang kita lihat hanyalah potongan kebahagiaan mereka, bukan seluruh perjalanan hidupnya. Akibatnya, kita lebih sibuk menghitung nikmat orang lain daripada mensyukuri betapa besarnya nikmat yang Allah titipkan kepada kita saat ini.

 

Karena itu, jangan habiskan hidup dengan kegelisahan terhadap masa depan, dan jangan tenggelam dalam penyesalan masa lalu. Teruslah berikhtiar, bertawakal, dan berbaik sangka kepada Allah. Sebab tidak ada takdir yang tertukar, tidak ada rezeki yang salah alamat, dan tidak ada ketetapan Allah yang datang terlambat.

 

Mari kita mengambil ibroh pula dari kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Ketika beliau dilemparkan ke dalam kobaran api, Allah tidak memadamkan api itu. Api tetap menyala, berkobar, tetap besar, tetap tampak mengerikan dan menakutkan. Namun Allah berfirman:

يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

"Wahai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim."

Apinya itu tidak hilang, tetapi sifatnya diubah sehingga tidak lagi menyakiti.

 

Demikian pula dalam kehidupan kita. Kita sering berdoa agar masalah segera lenyap/hilang. Namun terkadang Allah tidak menghilangkan masalah itu. Yang Allah ubah adalah hati kita. Allah melapangkan dada yang sempat sempit, menguatkan kesabaran, menenangkan jiwa yang gelisah, dan memberikan kekuatan untuk melewati ujian. Akhirnya, dengan masalah yang sama itu, tidak lagi mampu melumpuhkan hati kita. Ini adalah anugrah dari Allah Swt.

 

Dari sekian perjalanan hidup dan kehidupan kita di dunia ini, Islam hadir mengajarkan kita untuk senantiasa memperluas syukur kepada Allah, menguatkan husnudzon pada siapapun terlebih kepada pada Allah Swt, yang semua itu akan bermuara pada satu titik yang disebut kesholehan atau kebaikan dan keridhoan Allah.

Lantas bagaimana kita bisa mengetahui bahwa Allah Swt telah benar-benar menganugrahi kesholehan atau kebaikan-kebaikan tersebut pada diri kita?

 

kabar baiknya ... Rasulullah Saw memberikan pelajaran dan tanda-tanda untuk kita semua, sekaligus menjadi alat identifikasi / muhasabah atau kesholehan check up, apakah Allah telah menganugerahi cahaya kebaikan pada hambanya ?

Setidaknya Di antara tanda atau kondisi bahwa Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, dapat dicek pada 3 kondisi :

 

Konsisi yang Pertama, Allah memberikan pemahaman agama kepadanya.

Rasulullah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barang siapa dikehendaki Allah memperoleh kebaikan, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama."

----

Ilmu agama bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjadi cahaya yang membimbing seseorang agar mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang halal dan yang haram, serta menjadikan hidupnya lebih dekat kepada Allah.

Perhatikanlah, Nabi tidak mengatakan "Allah memberinya banyak harta" atau "Allah menjadikannya terkenal", tetapi Allah memberinya pemahaman tentang agama. Sebab, ilmu agama adalah kompas kehidupan. Orang yang cerdas tetapi tidak mengenal petunjuk Allah bisa tersesat dalam menggunakan kecerdasannya. Sebaliknya, orang yang memahami (berusaha memahami) tuntunan agama akan mampu menempatkan ilmu, harta, jabatan, dan seluruh nikmat dunia pada jalan yang benar.

Kondisi yang Kedua, Allah memudahkan dirinya melakukan amal saleh.

Rasulullah bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ

“Ketika Allah berkehendak kepada seorang hamba berupa kebaikan maka Allah akan mempekerjakan Hamba tersebut”

 

Para sahabat bertanya, "Bagaimana Allah mempekerjakannya wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab:

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ

"Allah memberikan taufik kepadanya untuk melakukan amal saleh sebelum ia meninggal."

 

Apa itu taufiq ? kata imam Jurjani dalam kitabnya At-Ta’rifat, Taufiq adalah :

خَلْقُ قُدْرَةِ الطَّاعَةِ عَلى الْعَبْدِ

Diberikannya kemampuan ta’at ibadah oleh Allah kepada seorang hamba.

Jadi Taufiq ini lebih mahal, lebih tinggi daripada Hidayah, karena hidayah adalah kesadaran, akan tetapi taufiq adalah adanya kemampuan yang diberikan Allah Swt.

 

Maka jangan pernah meremehkan kesempatan berbuat baik. Bisa jadi satu langkah menuju masjid, satu ayat yang kita baca, satu sedekah yang kita keluarkan, atau satu nasihat yang kita sampaikan menjadi tanda bahwa Allah sedang menghendaki kebaikan bagi kita.

Begiitulah Allah "mempekerjakan" seorang hamba. Allah memberi kesempatan lisannya untuk berdzikir, tangannya untuk membantu sesama, ilmunya untuk mengajar, hartanya untuk bersedekah, tenaganya untuk melayani umat, dan waktunya dipenuhi amal-amal yang diridhai-Nya.

Karena itu, jangan hanya berdoa agar diberi rezeki yang banyak, tetapi berdoalah agar Allah memberikan taufik untuk mengisi setiap rezeki, profesi, dan usia kita dengan amal saleh. Sebab seseorang belum disebut berhasil hanya karena memiliki pekerjaan, tetapi ia benar-benar beruntung ketika Allah menjadikan pekerjaannya sebagai jalan menuju surga.

Kondisi yang Ketiga, Allah menguji hamba tersebut.

Rasulullah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan menimpakan ujian kepadanya." (HR. Bukhari)

 

Para ulama, di antaranya Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari’-nya, menjelaskan bahwa : “ujian bagi seorang mukmin bukanlah tanda Allah membencinya, tetapi salah satu cara Allah membersihkan dosa, meninggikan derajat, dan menyempurnakan keimanannya”. Seorang hamba yang diuji dengan kesabaran akan memperoleh kedudukan yang mungkin tidak dapat diraih hanya dengan banyaknya amal ibadah.

Maka jangan hanya meminta agar ujian diangkat, tetapi mintalah agar Allah menguatkan hati ketika diuji. Sebab bukan beratnya ujian yang menentukan kemuliaan seseorang, melainkan bagaimana ia tetap beriman, bersabar, dan terus taat di tengah badai ujian itu.

*Ingatlah, emas menjadi perhiasan karena ditempa api, dan seorang mukmin menjadi mulia karena ditempa ujian. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin Allah persiapkan dirinya untuk derajat yang lebih tinggi.

Semoga melalui tulisan singkat ini, kita dapat mengambil ibrah/pelajaran dan Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang diberi pemahaman agama oleh Allah, dekat dengan lingkungan, dan orang-orang yang baik, dimudahkan mendapatkan Taufiq Allah dalam beramal saleh, diberi kesabaran dan kekuatan iman dalam menghadapi setiap ujian dari Allah Swt hingga akhir hayat yawa terpisah darijasad dalam keadaan khusnul khotimah ... Aamin ...

(By : Muhammad Alfithrah Arufa / GPAI Stembaya)

Kamis, 16 April 2026

3 Tanda Kemenangan di Bulan Syawal

3 Tanda Kemenangan di Bulan Syawal
(Muhammad Alfithrah Arufa, M.Pd.I)*



Alhamdulillah Wa Syukru ‘ala ni’amillah , Allah telah lembutkan hati kita, Allah ringankan langkah kita, Allah berikan kesempatan pada kita untuk bertemu Bulan syawal, bulan kembali pada fitri tahun 1447 H ini. Melalui momentum mulia ini, kita jangan lupa untuk senantiasa meningkatkan takwa kita pada Allah Swt dengan tetap menjalankan segala perintahNya dan menjauhi larang-laranganNya. Setiap pribadi kita telah merasakan halawatul iman ; manisnya, nikmatnya dan indahnya iman selama Ramadhan, dan tentu kita telah memiliki pengalaman pengalaman ruhani yang semakin mendekatkan diri kita pada Allah Swt. Menandai akhir Ramadhan yang Mulia itu, semua ummat Islam melantunkan kalimat-kalimat takbir, tahmid , tasbih dan tahlil yang membahana di angkasa raya bagaikan sebuah simphoni yang indah, yang mampu menggetarkan qolbu, menggelorakan rasa dan raga sukma sehingga menyadarkan betapa kecilnya diri kita dihadapan Allah Swt dan betapa Maha Besarnya Allah Swt.

Setidaknya ada 3 indikator seseorang dikatakan berhasil dari ibadah Ramadhan yang dia tunaikan, apakah ibadah kita diterima, berhasil, sukses atau tidak?, maka jangan hanya dilihat ketika Ramadhannya, kenapa? Kalau seseorang di Ramadhan meningkatkan ketaatannya, meningkatkan ketakwaannya, rasannya itu menjadi hal yang biasa, maka para ulama menyampaikan, jika ingin melihat kesuksesan Ramadhan seseorang, maka lihat bagimana kehidupannya setelah Ramadhan, apakah kita masuk dengan kategori 3 hal ini ? 

Pertama, Setelah Ramadhan meningkat kehidupannya pada sisi spiritual. 
Selama ramadhan kita berharap mendapatkan gelar la’alakum tattaqun (menjadi oang yang bertaqwa), maka ciri Ramadhan yang baik spriritualitasnya adalah : 
 a. Setelah ramadhan dia semakit dekat pada Allah, 
 b. Setelah Ramadhan dia semakin taat pada Allah, 
 c. Setelah ramadhan dia semakin mengikatkan kehidupan dengan berorientasi “Allah dulu, Allah lagi, lagi-lagi Allah, Allah terus” hidupnya bukan hanya untuk kebahagiaan dunia tapi dia berfikir bagaimana agar kemudian setelah ramadhan dia menjadi pribadi yang makin dicintai dan disayang oleh Allah Swt. Hal ini sebagaima Firman Allah dalam QS. Ali Imron : 133  
Keluarga Imran (3:133) 

۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ١٣٣

Artinya : Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Perhatikan dengan iman, orang yang menigkat spiritualnya setelah ramadhan ditunaikan, dia bergegas untuk menggapai ampunan Allah dan surgaNya Allah. 

Siapakah orang yang paling rugi saat dia bertemu Ramadhan ? siapakah yang paling rugi dia berpisah dengan ramadhan ? Orang yang paling rugi saat bertemu Ramadhan adalah orang yang lalai ibadah ketika bulan Ramadhan, dan yang paling rugi saat berpisah dengan Ramadhan adalah orang yang setelah Ramadhan dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah Swt padahal dia sudah berjumpa dengan Ramadhan. 
Maka dari itu, berharaplah kepada Allah agar kita diampuni dosa-dosanya, dan itulah orang yang paling beruntung dalam hidupnya, maka wajar ketika seseorang bertemu dengan awal Syawal dia masuk dalam kategori golongan minal ‘aidin wal faaizin, apa artinya ? jangan disalah artikan, bukan mohon maaf lahir dan bathin. Bukan. Artinya semoga Allah masukkan kita menjadi orang-orang yang ‘Aidin ; yang kembali, kembali kemana ? kembali kepada kesucian, kembali kepada kefitrahan, kembali kepada kebersihan, kenapa disebut suci, bersih, fitrah, karena orang yang berhasil ibadah Ramadhannya kemudian dia bertemu 1 Syawal, seperti seorang bayi yang keluar dari rahim ibunya, apa maknanya, Allah hapuskan dosa-dosanya.

Wal Faaizin, dan semoga kita masuk golongan orang yang menang, kenapa disebut menang ? ya.. karena selama 1 bulan dia perang MELAWAN HAWA NAFSU, selama 1 bulan dia perang melawan hal-hal buruk dalam hidupnya dan berhasil dia tunaikan. Maka orang yang berhasil ibadah Ramadhannya setelah Ramadhan dia bertemu dengan bulan Syawal, apa itu syawal ? Syawal itu artinya peningkatan, Ramadhan itu pembakaran, apa maknanaya, berarti selama Ramadhan dosa kita dibakar, dosa kita dibersihkan, kita ditempah dalam kawah candra di muka, sekolah selama 1 bulan Ramadhan, maka nanti di bulan syawal meningkat Imannya, meningkat ketaqwaannya, apa cirinya :
  1. Nanti setelah bertemu syawal dia lanjutkan puasanya dengan puasa sunnah, 
  2. Bacaan Qur’an yang dia baca dalam Ramadhan dia lanjutkan ketika bulan Syawal dan seterusnya 
  3. Sholat Qiyamul Lail yang dia tunaikan di bulan Ramadhan maka dia lanjutkan di luar Ramadhan, Maka disebutnya Syawal (peningkatan)
Ulama mengingatkan : Kun Rabbaniyyan wala Takun Ramadhaniyyan (Jadilah engkau hamba Rabb, bukan Hamba Ramadhan) maksudnya, jangan hanya taat ketika Ramadhan saja, justru ujian yang sebenarnya ada di 11 bulan ke depan setelah Ramadhan, jadi indikator pertama berhasilnya Ramadhannya seseorang adalah meningkat spiritualnya, dia makin dekat dengan Allah, dia makin taat pada Allah dan dia menjadikan orientasi hidupnya karena Allah, untuk Allah di Jalan Allah. 

Ketika dia bekerja orientasinya bukan masalah gaji besar dan kecil, ketika bisnis bukan masalah omset banyak atau sedikit, tidak, kenapa ? bukan itu ukuranya, tapi orang yang meningkat spiritualnya ketika dia bekerja dia pilah pilih, ini haram atau tidak, ketika bisnis, ini berkah atau tidak? Ini baik tidak ya? Atau jangan-jangan terprosot ke dalam Api neraka. Itu yang menjadi pertimbangannya dan indikator spiritual semakin terbukti setelah dia berhasil Ramadhannya.  

Kedua, Meningkat nilai-nilai sosialnya Apa maksudnya, Setelah Ramadhan dia menjadi pribadi yang dermawan dalam hidupnya, itulah ciri orang yang bertaqwa disebutkan dalam QS. Ali imron : 134  

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ ١٣٤

Artinya : (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

ما نقصت صدقة من المال
“Tidak akan berkurang shodaqoh dengan harta”
Ada filosofi terimakasih artinya : seberapa banyak apa yang ingin kita terima tergantung yang kita kasih, maka orang yang ahli sedekah, sedekahnya akan melapangkan alam kubur, sedekahnya meringakan hisab di alam kubur, sedekahnya meringankan sakaratul maut, dia dicintai Allah, dicintai manusia, dekat dengan surga, bahkan mengundang doa malaikat dalam hidupnya. 

َرَبِّي لَوْلَا اَخَّرْتَنِى إِلَى أَجَلٍ قَرِيْبٍ فَأَصَدَّق

Banyak Orang yang sudah meninggal di alam kubur, minta hidup kembali, apa permintaannya ? Ya Allah hidupkan aku walaupun sebentar saja, tunda kematianku walau sebentar, seandainya engkau berikan kesempatan hidup kembali, aku ingin menjadi orang yang ahli shodaqoh dan menjadi orang sholeh, kenapa mereka minta jadi ahli shodaqoh, bukan ahli sholat, bukan ahli puasa, bukan ahli haji bukan yang lainnya, kenapa? Karena shodaqoh itulah yang bisa menjadikan dirinya mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah Swt. 
Nabi Bersabda : 

والله فى عون العبد  ما كان العبد فى عون أخيه

“Allah akan menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya”. catat baik-baik ! jika Ingin ditolong Allah tolong orang lain, jika ingin dibantu Allah, bantulah orang lain, sedekaah tak harus harta, bahkan tabassumuka fii wajhi akhika laka shodaqoh, menyingkirkan duri ditengah jalan itu shodaqoh, buang sampah pada tempatnya itu shodaqoh, bahkan semua kebaikan-kebaikan yang kita tunaikan itu bermakna shodaqoh di hadapan Allah Swt. Tapi... Jika diberi kemampuan Harta maka infaqlah dengan harta

Ketiga, Menjadi pribadi yang memperbaiki nilai emosional dalam dirinya 
Cirinya : 1) lembut hatinya, 2) tenang dalam kehidupannya, Maka pada bulan syawal ini, mari sucikan hati bersihkan diri, lembutkan kehidupan kita dengan menghadirkan hati yang bersih, seorang anak jika masih punya orang tua minta maaflah pada orang tua kita, kenapa ? Ada satu kisah, suatu saat Rasulullah naik ke mimbar dan mengatakan Aamiin 3x, kemudian sahabat bertanya kenapa engkau mengatakan Aamin 3x, nabi mejawab wahai sahabat tadi ada malaikat jibril datang padaku, seraya berdoa dan aku aminkan, apa doa malaikat jibril : 
  1. Yaa Allah jangan engkau terima amal ibadah puasanya seorang hamba yang bertemu Ramadhan kemudian berpisah dengan Ramadhan tapi dia tidak bertaubat sehingga dosanya tidak diampuni oleh Allah Swt . kata Nabi Aamiin 
  2. Yaa Allah jangan engkau terima amal ibadah puasa Ramadhan seorang hamba jika disebutkan nama Nabi Muhammad Saw tapi mereka tidak membacakan sholawat kepadamu, maka nabi mengatakan Aamiin 
  3. Yaa Allah jangan engkau terima amal ibadah puasa Ramadhan seorang hamba jika ada seorang Anak yang pernah durhaka pada orang tuanya dan mereka belum sempat minta maaf pada orang tuanya bahkan ketika hari raya idul fitri, hari yang suci, mereka tidak minta maaf pada orang tuanya, maka kata Jiblir jangan diterima ibadah puasa Ramadhannya, kemudian nabi mengatakan Aamiin... 
Kalau dengan datangnya Ramadhan, datangnya Idul fitri tidak mampu membuat kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita, tidak mampu menjadikan kita anak yang bisa memuliakan orang tua kita, butuh bulan apa lagi yang harus Allah hadirkan kepada kita, butuh hari suci seperti apalagi yang Allah datangkan pada kita kalau kita seorang anak belum bisa meminta maaf pada orang tua kita, 
Maka mari kita jadikan momentum idul fitri ini untuk membersihkan hati, sucikan hati kita, jika hari ini kesulitan datang kepada kita, ujian bertubi-tubi datang pada kita, coba kita periksa mungkin karena ada kesalah diri kita pada orangtua yang tidak mengantarkan ridhonya Allah dalam kehidupan, maka Nabi berkata : Ridhollah fii ridho walidain, wa sukhtullah fii sukhtil walidain

Maka yang masih diberikan anugerah orang taunya masih hidup, pegang erat-erat, jaga baik-baik, jika masih terjangkau kehadirannya temui orang tua kita, pegang tangannya, peluk tubuhnya, cium pipi kiri kanannya, minta maaf sama orang tua kita, lantas bagaimana untuk yang sudah tiada orang tuanya? ingat baik-baik : 
Ada 3 hal yang dirindukan orang tua di alam kuburnya dari anaknya yang masih hidup : 
  1. Doa untuk almarhum-almarhumah 
  2. kebaikan orang tua dilanjutkan anak-anaknya dan sambung silaturahmi kepada kerabatnya 
  3. sedekah dari anaknya yang diniatkan untuk orang tuanya    
Bisa jadi hari ini kita sukses, kita berhasil, mungkin usaha kita hanya 1% tapi sisanya adalah terkabulnya doa ayah dan ibu kita, maka hadirin BERSYUKUR bagi yang sudah memanfaatkan kesempatan minta maaf kepada orang tua, kata nabi Celakalah, Meyesallah 3X mereka yang masih punya orang tua tapi dia tidak bisa masuk surga, kenapa? karena dia tidak bisa berbuat baik pada orang tuanya.

Maka emosianal kita harus terlatih, Suami istri saling minta maaf munkin selama berumah tangga banyak kesalahan diantara kita, mungkin selama berumah tangga kita masih jauh dari Allah Swt. Ayo sucikan hati bersihkan diri…!

Suami yang belum bisa menjadi suami yang baik maka minta maaf pada istri, istri yang belum bisa menjadi istiri yang baik maka minta maaf pada suami, orang tua kepada anak juga sama saling minta maaf, mungkin selama ini belum bisa menjadi orang tua yang baik, maka bersihkan hati ini, begitupun pada tetangga kita, kerabat kita, sahabat kita Sungguh orang yang diterima ibadah ramadhannya adalah yang paling baik mengelola emosionalnya, apa cirinya : Walkadzimina ghaidza wal ‘afina ‘anin Naas (menjadi orang yang pandai menahan marah dan mudah memaafkan kesalahan orang lain) 
Kesimpulan 3 tanda kemenangan di hari yang fitri adalah : 
1. Setelah Ramadhan meningkat kehidupannya pada sisi spiritual. 
2. Meningkat nilai-nilai sosialnya 
3. Menjadi pribadi yang memperbaiki nilai emosional dalam dirinya 

Semoga setelah ini kita bisa menjadi pribadi yang makin taat bertakwa pada Allah dan kita menjadi pribadi yang makin lembut, santun dan berakhlkul karimah… Aamiin. 

Semoga bermanfaat
Wallahu A'lam Bishshowab  
  

* Guru PAI SMKN 5 Surabaya

Kamis, 22 Agustus 2024

KHUTBAH : 2 RESEP NABI MENUJU SURGA ALLAH SWT

 2 RESEP NABI MENUJU SURGA ALLAH

(Oleh : Muhammad Alfithrah Arufa)

اَلْحَمْدُ لله، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ اَوْضَحَ لَنَا سَبِيْلَ الرَّشَادْ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ رَبُّ الْاَرَضِيْنَ وَالسَّمَوَاتِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا محمدا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ الْعِبَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَتَرَحَّمْ وَتَحَنَّنْ عَلَى سَيِّدِنَا محمد، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ. اَمَّا بَعْد   فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قال الله تعالى في كتابه الكريم : ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ ....   و قال رسول الله : إِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً وَلَمْ أُبْعَثُ لَعَّانًا

 

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Panjatan puja serta puji syukur kehadirat Allah Swt, pada siang hari ini kita diberikan kekuatan untuk melangkahkan kaki kita bersama, mangayun langkah untuk memenuhi undangan Allah Swt, bernaung dibawah naungan rumah Allah, menghadiri undangan Allah di tengah-tengah (mungkin masih ada) saudara2 kita sesama muslim yang mengaku dirinya sebagai ummat Nabi Muhammad Saw tapi mereka tidak bisa membedakan mana suara adzan, dan mana suara nyanyian, dan bahkan banyak diantara mreka yang lebih menikmati suara nyanyian daripada suara adzan.

Di tengah manusia yang mengaku dirinya Muslim, akan tetapi tidak dapat membedakan mana undagan manusia dan mana undangan pencipta manusia, bahkan banyak diantara mereka yang lebih memenuhi undangan manusia dari pada undangan pencipta manusia.

 

Di tengah-tengah manusia yang sudah tidak bisa membedakan mana itu masjid dan mana itu rumah ataupun istana, bahkan banyak di anatara meraka yang lebih bangga memasuki istana akan tetapi dia merasa biasa-biasa saa ketika memasuki rumah Allah, yaitu Masjid.

 

Di tengah ummat yang sedemikian rupa kita diberikan kemampuan dan kekuatan oleh Allah dan ini merupakan kenikmatan yang sangat besar bagi kita bersama, dimudahkan kaki kita untuk mengayunkan langkah kaki semata-mata karena taufik dan hidayah dari Allah Swt, sehingga duduklah kita bersama di rumah yang mulia ini untuk memenuhi undangan dzat yang Maha Mulia.

 

Semoga kenikmatan ini mampu kita syukuri sehingga akan ditambah oleh Allah Swt dengan kenikmatan-kenikmatan yang lain dan kita berlindung kepada Allah semoga kita tidak dijadikan manusia yang mengkufuri nikmat sehingga menjadi sebab nikmat itu dicabut oleh Allah Swt

 

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Di dalam sebuah hadist Rasulullah Saw, disabdakan bahwa: “ada seseorang yang datang kepada Rasulullah Saw, beliau ditanya tentang amal ibadah apakah yang banyak menghantarkan manusia menuju surganya Allah Swt.

سُئِلَ رسلُ اللهِ صلى الله عليه و سلمَ عَنْ اَكْثَرِ مَا يَدْخُلُ النَّاسُ الجَنَّةَ قاال : تـقوى الله وحُسنُ الْـخُلُق

Beliau menjawab dengan jawaban yang singkat padat dan berisi )dan itulah kebiasaan dan keistimewaan Rasulullah Saw – Jawami’ul kalim – beliau berbicara ddngan ucapan yang singkat tapi memiliki makna yang luar biasa(, apa jawaban Nabi ? resep yang menghantarkan manusia menuju surgaNya Allah Swt, nabi menjawab 2  (ada dua) : Yang pertama, Taqwallah, yang kedua chusnul khuluq,

 

Yang pertama, kata nabi yang menghantarkan manusia ke surga adalah bertaqwa kepada Allah Swt, melaksankan perintah Allah, menjauhi larangan Allah, mengikuti jejak dan langkah dari Rasulullah Saw. Ketaqwaan yang meliputi seluruh aspek kehidupan kita, ketaqwaan yang menghiasi hari-hari kita dari sejak kita bangun dari tidur sampai kita tidur kembali, bukan hanya ketaqwaan yang identik dengan kopyah atau sarung, bukan ketakwaan yang hanya identek dengan masjid atapun mushollah, tapi ketakwaan yang menyeluruh dalam kehidupan kita baik kita di kantor ataupun kita di pasar, ataupun kita di ladang, di manapun saja berada, ketakwaan yang menghiasa kehidupan kita dan itulah yang difirmankan oleh Allah Swt

﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ﴾

Wahai orang yang beriman bertqwalah kalian dengan sebenar-benarnya taqwa (tidak hanya taqwa pada kondisi tertentu, tidak hanya bertaqwa pada tempat-tempat tertentu, ketika dia ke masjid dia bagaikan orang bertaqwa tapi ketika dia keluar dari masjid dia campakkan ketaqwaannya, tidak ketika dia menggunakan peci atau sarung dia menunjukkan dia bertaqwa tapi ketika dia buka kopyah dan sarungnya dia campakkan ketaqwaannya). Tidak... ketaqwaan yang menyeluruh.

Ketika kita di masjid kita tunjukkan kita bertaqwa, ketika kita di kantor kita tunjukkan kita bertaqwa dengan memegang amanat, seberapa tinggi pangkatnya firaun, dia tercampakkan ke dalam posisi yang paling rendah, apa sebabnya? karena dia tidak bertaqwa pada Allah Swt. Seberapa banyak hartanya qorun akan tetapi cerita buruknya langgeng sampai hari kiamat, apa sebabnya? karena tidak bertaqwa kepada Allah. Begitupula berapa pandai dan cendikianya iblis, akan tetap dilaknat sampai hari kiamat, apa sebabnya?, karena tidak mau bertaqwa pada Allah swt.

 

Akan tetapi sebaliknya walaupun dia tidak berpangkat, walapun dia strata ekonomi sangat rendah, walaupun dia kalangan orang awwam, tapi dia laksanakan ketaqwaan dengan sebenar-benarnya, hakikatnya dialah orang yang agung dihadapan Allah Swt.

 

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Sayyidina wa imamina Ali bin abi tholib Karammallahu wajhah, beliau mengatakan dalam sebuah nasihat beliau  (dengan kecerdasannya, dengan nasab keturunannya, dengan keberaniannya – seorang prajurit yang tidak pernah mundur – dengan  ibadahnya) apa kata sayyidina Ali :

كَفَانِى عِزًّا إِذَا كُنْتَ لِي رَبًّا وَ كَفَانِي فَخْرًا إذَا كُنْتُ لَكَ عَبْدًا

Cukup bagiku kemuliaan bukan karena pangkatnya, bukan karena kecerdasannya, bukan karena nasab dan keturunannya, ketika engkau ya Allah sebagai Tuhanku, dan cukup bagiku kebangaan ketika aku bisa mengabdi kepadaMu Ya Allah (dengan melaksanakan perintah dan menjauhi laranganMu).

Itulah kebanggan.

Begitu pula sayyina Umar ibnul khotthob ra. beliau mengatakan :

نَحْنُ قَوْمٌ اَعَزَّنَا اللهُ بالاسلامِ فإذا ابْتَغَيْنَا الْعِزَّةَ بِغَيِرِهِ اَذَلَّنَا الله

Kami adalah komunitas manusia yang dimuliakan oleh Allah dengan memeluk agama Islam bukan karena yang lain, apabila kami mencari kemulian akan tetapi kami mencampakkan agama kami, maka kami akan dihinakan oleh Allah (menjadi manusia yang hina di dunia lebih-lebih kelak di hadapan Allah Swt).

 

Yang kedua, chunul khuluq, berbudi pekerti luhur, memiliki akhlak yang mulia, berinteraksi dengan sesama manusia dengan interaksi yang baik. dan itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sang suri tauladan kita bersama, kita lihat agama Islam dilandasi dengan pondasi yang kuat yaitu pondasi budi pekerti yang luhur, pondasi akhlakul karimah,  pondasi perbuatan yang baik prangai yang baik, Nabi Muhammad yang memiliki budi pekerti luhur, dngan dasar budi pekeri yang luhur itulah sehingga Nabi diterima kawan ataupun lawan sampai kita berada 14 abad sesudah beliau tetap berada di bawah cahaya Akhlaq Nabi Muhammad Saw.

Sehingga sahabat Abdullah Bin Abbas beliau berkata dalam sebuah nasihatnya :

لِكُلِّ بُنْيَانٍ اَسَاسٌ وَ اَسَاسُ الْاِسْلاَمِ حُسْنُ الْخُلُقِ

“Setiap bangunan pasti memiliki pondasi (ketika pondasi kuat bagunan akan kokoh, ketika pondasi rapuh bangunan akan runtuh) apakah pondasi islam ? budi pekerti yang baik, interaksi dengan ssama dengan insteraksi yang baik.

Sehingga Islam akan kokoh di tengah-tengah masyarakat, hidup di manapun saja, kita akan menjadi orang yang baik di hadapan kawan ataupun dihadapan lawan.

 

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

2 resep inilah yang banyak menuntun manusia menuju Surganya Allah Swt. Yang pertama bertaqwa kepada Allah sebagai lambang hubungan vertikal kita pada Allah atau yang dikenal dengan Hablum minallah – mari kita jaga sholat kita, kita jaga dzikir kita, kita jaga puasa kita dengan baik sebagai lambang hubungan individual vertical kita pada Allah Swt. Dan yang kedua chusnul khuluq (berbudi pekerti luhur) sebagai lambang hubungan social horizontal pada sesama manusia (hablum Minannas) berinteraksi dengan baik kepada sesama manusia, kepada siapapun saja, maka dengan 2 modal ini akan menuntun kita bersama menuju surganya Allah Swt, dengan dua modal ini akan menyelamatkan kita daripada bencana dan adzabnya Allah.

Allah berfirman :

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ .....

Akan ditimpakan kepada manusia kehinaan/ khancuran/ kebinasaan dimanapun berada, kecuali dengan (rumus) berhubungan baik dengan Allah dan hubungan baik kepada Manusia.

Semoga kita dijadikan manusia yang bisa mengaku diri kita sebagai seorng hamba sehingga kita mampu menghambakan diri dengan sebenarnya kepada Allah Swt dan kita sadar bahwa kita adalah makhluq sosial yang memiliki ketergantungan pada sesama. Sehingga kita dapat berinteraksi baik pada sesama manusianya. Amin Allahumma Amin...

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ  كَلَامُ اللهِ الْمَلِكُ الْمَنَّانُ وَبِالْقَوْلِ يَهْتَدُ الْمُرْتَضُوْنَ . مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسآءَ فَعَلَيْهَا وَمَارَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيْدِ . بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ اْلأٓيَةِ    وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

خطبة الثانى

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا   أَمَّا بَعْدُ.

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينْ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Senin, 29 November 2021

KHUTBAH | BERPRASANGKA BAIK DALAM MENILAI ORANG LAIN

BERPRASANGKA BAIK DALAM MENILAI ORANG LAIN
(Oleh : Muhammad Alfithrah Arufa)

اَلْحَمْدُ لله، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ اَوْضَحَ لَنَا سَبِيْلَ الرَّشَادْ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ رَبُّ الْاَرَضِيْنَ وَالسَّمَوَاتِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا محمدا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ الْعِبَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَتَرَحَّمْ وَتَحَنَّنْ عَلَى سَيِّدِنَا محمد، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ. اَمَّا بَعْد   فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قال الله تعالى في كتابه الكريم : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Satu Kisah menarik tertulis dalam kitab adabu ad-Dunya wa ad-Din karya Imam Abil Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Bashri Al-Mawardi.  Suatu ketika, Sahabat Rasulullah Saw yang bernama Thalhah bin Abdurrahman bin Auf,  seorang saudagar kaya raya dan sangat dermawan di masanya, beliau selalu didatangi sahabat-sahabatnya untuk bersilaturahmi, hampir tiap hari tamu berdatangan di rumahnya. Sang saudagar ini menjamu mereka dengan baik terkadang memberikan bantuan seadanya pada para tamu-tamunya.

suatu saat, sang saudagar kaya ini kehabisan harta. Perlahan sahabat-sahabat yang biasanya bertamu tidak datang lagi ke kediaman sang saudagar ini.

Melihat kenyataan ini, Istri sang saudagar kaya ini berkata : “Aku tidak melihat kaum yang buuk dari sahabat-sahabatmu” mendengar hal itu sang saudagar itu terkejut. “mengapa engkau berkata begitu wahai istriku?” tanya saudagar itu. Si istri kemudian menjawab : “betapa tidak, ketika engkau masih kaya, setiap hari temanmu datang bersilaturrahmi ke tempat ini. Dan ketika engkau miskin, tak seorang pun sahabatmu datang kesini. Bahkan mengenalmu pun, seolah-olah tidak”

Thalhah bin Abdurrahman menjawab dengan bijaksana:” Wahai Istriku, ketahuilah Justru mereka adalah sahabat-sahabatku yang baik. Mereka datang bersilaturrahmi ke rumah kita ketika kita mampu menjamu dan membantu mereka. Dan ketika kita miskin, mereka tidak datang ke rumah kita karena mereka paham, kita belum bisa menjamu mereka dan mereka tidak ingin membebani mereka.

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Sungguh suatu karakter yang luar biasa. “lihatlah !, betapa kemuliaan seorang Thalhah yang mentakwilkan : menganggap sikap kurang baik para sahabatnya sebagai suatu kebaikan”. Sikap yang mungkin bagi orang lain dianggap sebagai suatu penghianatan, tapi bagi Thalhah dianggap sebagai suatu kesetiaan. Dan ini adalah karakter orang-orang mulia, karakter orang-orang baik. Karena orang baik itu tidak melihat sesuatu kecuali yang dilihat itu adalah sisi kebaikannya.

اَلْخَيْرُ لَايَرَى شَيْئًا إِلَّاخَيْرًا

“Orang yang baik itu tidak melihat terhadap sesuatu kecuali yang dilihat adalah sisi-sisi baiknya, atau sisi-sisi yang positif.”

Maka iniliah pentingnya kita berpikir positif, berprasangka yang baik, atau husnu dzon. Baginda nabi bersabda:

أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ حُسْنُ ظَنِّ بِاللهِ وَحُسْنُ ظَنِّ بِعِبَادِ اللّهِ

“Seutama-utama amal adalah berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka baik kepada hamba-hamba Allah.”

Yang pertamahusnu dzon billah. Berprasangka baik kepada Allah. Di dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ

“Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap Aku.”

Artinya, ketika seorang hamba itu berprasangka baik kepada Allah maka Allah pun membenarkan dan merealisasikan kebaikan-kebaikan yang ada di dalam prasangka seorang hamba. Tetapi sebaliknya, ketika seorang hamba itu suudzon, berprasangka buruk kepada Allah maka Allah pun membenarkan dan merealisasikan keburukan-keburukan yang ada dalam prasangka hamba tersebut.

 

Maka, sudah selayaknya seorang hamba itu selalu berlatih husnu dzon. Selalu membiasakan berprasangka baik, agar kebaikan-kebaikan yang ada dalam prasangka hamba itu diwujudkan dan direalisasikan oleh Allah Swt. karena kita tidak tahu, terkadang apa yang kita benci justru itu adalah kebaikan. Sebaliknya, apa yang kita cintai justru adalah suatu keburukan.

 

Artinya, ketika kita tidak mengetahui kehendak Allah, maka sudah sepantasnya kita selalu berprasangka baik husnu dzon kepada Allah Swt.

 

Yang keduahusnu dzon bi ‘ibadillah. Berprasangka baik terhadap hamba-hamba Allah. Seperti yang dilakukan oleh Thalhah tadi.

 

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Dalam kitab Shifat al-Shafwah, Imam Ibnu Jauzi mencatat sebuah riwayat tentang Imam Bakr bin Abdullah al-Muzani (Imam Bakr bin Abdullah al-Muzanni (w. 106/108 H) adalah seorang ulama besar dari kalangan tabi’in. menurut para ulama, Imam Bakr al-Muzanni adalah ahli fiqih dan ahli hadits yang mumpuni.). Berikut riwayatnya :

 عن كنانة بن جبلة السلمي قال: قال بكر بن عبد الله :   إذا رأيتَ من هو أكبر منك فقل: هذا سبقني بالإيمان والعملي الصالح فهو خير منّي,  وإذا رأيتَ من هو أصغر منك فقل: سبقتُه إلي الذنوب والمعاصي فهو خير منّي,  وإذا رأيتَ إخوانك يُكرِمونك ويُعظِّمُونك فقل: هذا فَضلٌ أَخَذُوْا بِهِ, وإذا رأيتَ منهم تَقْصِيْرًا فقل: هذا ذنبٌ أحْدَثْتُهُ

 

Dari Kinanah bin Jablah al-Sulami, ia berkata: Imam Bakr bin Abdullah berkata:

1.     “Ketika kau melihat orang yang lebih tua darimu, katakanlah (pada dirimu sendiri): ‘Orang ini telah mendahuluiku dengan iman dan amal shalih, maka dia lebih baik dariku.’

2.     Ketika kau melihat orang yang lebih muda darimu, katakanlah: ‘Aku telah mendahuluinya melakukan dosa dan maksiat, maka dia lebih baik dariku.’

3.     Ketika kau melihat teman-temanmu memuliakan dan menghormatimu, katakanlah: ‘Ini (karena) kualitas kebajikan yang mereka miliki.’

4.     Ketika kau melihat mereka kurang (memuliakanmu), katakan: ‘Ini (karena) dosa yang telah kulakukan.”

(Imam Ibnu Jauzi, Shifat al-Shafwah, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1985, juz 3, h. 248)

 

Prasangka baik harus kita dahulukan dalam menilai seseorang, sejahat dan seburuk apapun orang tersebut. Andai kita melihat ada hal-hal yang perlu diperbaiki dari orang tersebut, lakukanlah dengan ma’ruf. Apalagi jika orang yang kita nilai adalah orang yang kita kenal atau dikenal berilmu. Kita harus lebih berhati-hati. Maka, penting bagi kita untuk menjadikan nasihat Imam Bakr bin Abdullah al-Muzani (w. 108 H) sebagai pegangan sekaligus pengingat diri.

 

Dalam riwayat di atas, Imam Bakri al-Muzanni mengambil jarak penilaian antara dirinya dan orang selainnya. Ia melatih dirinya untuk selalu memandang orang lain dengan rasa hormat. Siapa pun yang ia temui, ia akan menganggapnya lebih mulia dan utama. Ia memberikan dua argumentasi untuk hal ini. Pertama, karena ia tahu betul siapa dirinya, dan kedua, karena pengetahuannya terhadap orang lain dipenuhi dengan keragu-raguan.

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Selain itu ada pula pesan dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani., beliau memberikan tambahan sebagaimana termaktub dalam Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh M Nawawi Al-Bantani, kata Syekh Abdul Qadir Al-Jailani :

1.     “Jika bertemu ulama atau orang alim, kamu mesti berprasangka, ‘Orang ini dianugerahkan ilmu yang tidak dapat kugapai, meraih derajat tinggi yang tidak kuraih, mengetahui materi ilmu yang tidak kuketahui, dan mengamalkan ilmunya,’”

2.     “Bila bertemu orang awam atau bodoh, kamu harus berpikiran, ‘Orang ini bermaksiat kepada Allah karena ketidaktahuannya. Sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya secara sadar di tengah ilmuku. Aku sendiri tidak pernah tahu bagaimana akhir hidupku dan akhir hidupnya, apakah husnul khatimah atau su’ul khatimah,’”

3.     “Bila berjumpa dengan orang kafir, kamu harus berprasangka, ‘Bisa jadi orang kafir ini suatu saat memeluk Islam dan mengakhiri hidupnya dengan amal yang baik/husnul khatimah. Sedangkan aku bisa jadi malah menjadi kafir suatu saat dan mengakhiri hidup dengan amal yang buruk/su’ul khatimah,’”

 

Sederhananya, pertama, semua manusia tentu tahu kualitas dirinya sendiri. Misalnya, pernah berbuat dosa, memiliki banyak aib yang disembunyikan, atau sering melakukan kebohongan.  Kedua, apa pun yang kita ketahui tentang orang lain, meskipun akrab atau kenal baik, tidak bisa mencapai derajat keyakinan seperti terhadap diri sendiri. Pasti ada ruang keraguan karena kita bukan mereka. Apalagi terhadap orang yang tidak kita kenal sama sekali.


Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Sebagai penguat pembahasan husnudzan tadi, mari kita renungkan sebuah kalam hikmah dai ulama salafus Sholih :

مَنْ كَثُرَ عِلْمُهُ، قَلَّ اِنْكَارُهُ عَلَى النَّاسِ

Artinya: “Barangsiapa yang banyak ilmunya, perasaan tidak cocoknya kepada masyarakat sedikit.”

"Orang kalau ilmunya tinggi (rajin ngaji, rajin majelis, kumpul sama ulama dan orang sholeh misalnya), maka tidak akan gampang menyalahkan orang lain (bersuudzan). Sama saja kalau kita berada di lantai 2, di bawah, maka tidak akan memiliki pandangan yang luas. Tapi kalau berada di lantai yang lebih tinggi kita akan melihat dengan lebih luas (lebih mampu melihat sisi positif dari segala perbedaan)"

Mari kita memulai dari diri sendiri (Ibda’ Bi Nafsik)!. Imam al-Ghazali dalam kitabnya Kîmiyâ’us Sa‘âdah mengatakan bahwa mengenal diri (ma‘rifatun nafs) adalah kunci untuk mengenal Allah. Logikanya sederhana: diri sendiri adalah hal yang paling dekat dengan kita; bila kita tidak mengenal diri sendiri, lantas bagaimana mungkin kita bisa mengenali Allah? Sebagaimana hadits Rasulullah : man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah” (siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya).

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Semoga bermanfaat, khususnya bagi diri saya dan umumnya bagi para jamaah. Semoga kelak kita dapat membawa prasangka baik agar menjadikan lingkungan kita aman dan damai, serta sebagai jalan menuju ampunan Allah SWT, menuju Ridha Allah SWT hingga kelak di akhir hayat, Ajal menjemput dengan cara khusnul khotimah. Aamiin Ya Robal ‘Alamin…

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ  كَلَامُ اللهِ الْمَلِكُ الْمَنَّانُ وَبِالْقَوْلِ يَهْتَدُ الْمُرْتَضُوْنَ . مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسآءَ فَعَلَيْهَا وَمَارَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيْدِ . بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ اْلأٓيَةِ    وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

……………………………

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا   أَمَّا بَعْدُ.

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينْ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

gpaismkn5sby. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts