Selamat Datang di Situs Resmi MGMP PAI SMKN 5 Surabaya

"Tata Niat, karena baik buruknya niat akan kembali pada yang berniat"

Nasionalisme sebagai bagian dari kerakter religius Murid

Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman.

Gerakan Menulis Mushaf Al-Qur'an

Antusiasme Para Murid SMKN 5 Surabaya dalam belajar menulis Ayat-AYat Al-Qur'an.

Istiqomah Dalam Dendirikan sholat 5 Waktu

Dimulai dari Program Penguatan Karakter dan Materi PAI (PPKM PAI) di SMKN 5 Surabaya .

Pembiasaan Cinta Al-Qur'an

Pengembangan Program Tahfidz AL-Qur'an SMKN 5 Surabaya.

Subscribe Us

# SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI GURU MAPEL PAI SMKN 5 SURABAYA, NGAJI SEPANJANG HAYAT | INFO : SELAMA MASA PEMBELAJARAN DI RUMAH, PEMBELAJARAN PAI DIPUSATKAN DI SITUS RESMI INI, BAGI SISWA-SISWI SMKN 5 SURABAYA SILAHKAN KOORDINASI DENGAN GURU PAI MASING-MASING UNTUK BERSAMA-SAMA MEMBERDAYAKAN SITUS INI DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH # .....
Tampilkan postingan dengan label AKHLAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AKHLAK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2026

3 Tanda Kemenangan di Bulan Syawal

3 Tanda Kemenangan di Bulan Syawal
(Muhammad Alfithrah Arufa, M.Pd.I)*



Alhamdulillah Wa Syukru ‘ala ni’amillah , Allah telah lembutkan hati kita, Allah ringankan langkah kita, Allah berikan kesempatan pada kita untuk bertemu Bulan syawal, bulan kembali pada fitri tahun 1447 H ini. Melalui momentum mulia ini, kita jangan lupa untuk senantiasa meningkatkan takwa kita pada Allah Swt dengan tetap menjalankan segala perintahNya dan menjauhi larang-laranganNya. Setiap pribadi kita telah merasakan halawatul iman ; manisnya, nikmatnya dan indahnya iman selama Ramadhan, dan tentu kita telah memiliki pengalaman pengalaman ruhani yang semakin mendekatkan diri kita pada Allah Swt. Menandai akhir Ramadhan yang Mulia itu, semua ummat Islam melantunkan kalimat-kalimat takbir, tahmid , tasbih dan tahlil yang membahana di angkasa raya bagaikan sebuah simphoni yang indah, yang mampu menggetarkan qolbu, menggelorakan rasa dan raga sukma sehingga menyadarkan betapa kecilnya diri kita dihadapan Allah Swt dan betapa Maha Besarnya Allah Swt.

Setidaknya ada 3 indikator seseorang dikatakan berhasil dari ibadah Ramadhan yang dia tunaikan, apakah ibadah kita diterima, berhasil, sukses atau tidak?, maka jangan hanya dilihat ketika Ramadhannya, kenapa? Kalau seseorang di Ramadhan meningkatkan ketaatannya, meningkatkan ketakwaannya, rasannya itu menjadi hal yang biasa, maka para ulama menyampaikan, jika ingin melihat kesuksesan Ramadhan seseorang, maka lihat bagimana kehidupannya setelah Ramadhan, apakah kita masuk dengan kategori 3 hal ini ? 

Pertama, Setelah Ramadhan meningkat kehidupannya pada sisi spiritual. 
Selama ramadhan kita berharap mendapatkan gelar la’alakum tattaqun (menjadi oang yang bertaqwa), maka ciri Ramadhan yang baik spriritualitasnya adalah : 
 a. Setelah ramadhan dia semakit dekat pada Allah, 
 b. Setelah Ramadhan dia semakin taat pada Allah, 
 c. Setelah ramadhan dia semakin mengikatkan kehidupan dengan berorientasi “Allah dulu, Allah lagi, lagi-lagi Allah, Allah terus” hidupnya bukan hanya untuk kebahagiaan dunia tapi dia berfikir bagaimana agar kemudian setelah ramadhan dia menjadi pribadi yang makin dicintai dan disayang oleh Allah Swt. Hal ini sebagaima Firman Allah dalam QS. Ali Imron : 133  
Keluarga Imran (3:133) 

۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ١٣٣

Artinya : Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Perhatikan dengan iman, orang yang menigkat spiritualnya setelah ramadhan ditunaikan, dia bergegas untuk menggapai ampunan Allah dan surgaNya Allah. 

Siapakah orang yang paling rugi saat dia bertemu Ramadhan ? siapakah yang paling rugi dia berpisah dengan ramadhan ? Orang yang paling rugi saat bertemu Ramadhan adalah orang yang lalai ibadah ketika bulan Ramadhan, dan yang paling rugi saat berpisah dengan Ramadhan adalah orang yang setelah Ramadhan dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah Swt padahal dia sudah berjumpa dengan Ramadhan. 
Maka dari itu, berharaplah kepada Allah agar kita diampuni dosa-dosanya, dan itulah orang yang paling beruntung dalam hidupnya, maka wajar ketika seseorang bertemu dengan awal Syawal dia masuk dalam kategori golongan minal ‘aidin wal faaizin, apa artinya ? jangan disalah artikan, bukan mohon maaf lahir dan bathin. Bukan. Artinya semoga Allah masukkan kita menjadi orang-orang yang ‘Aidin ; yang kembali, kembali kemana ? kembali kepada kesucian, kembali kepada kefitrahan, kembali kepada kebersihan, kenapa disebut suci, bersih, fitrah, karena orang yang berhasil ibadah Ramadhannya kemudian dia bertemu 1 Syawal, seperti seorang bayi yang keluar dari rahim ibunya, apa maknanya, Allah hapuskan dosa-dosanya.

Wal Faaizin, dan semoga kita masuk golongan orang yang menang, kenapa disebut menang ? ya.. karena selama 1 bulan dia perang MELAWAN HAWA NAFSU, selama 1 bulan dia perang melawan hal-hal buruk dalam hidupnya dan berhasil dia tunaikan. Maka orang yang berhasil ibadah Ramadhannya setelah Ramadhan dia bertemu dengan bulan Syawal, apa itu syawal ? Syawal itu artinya peningkatan, Ramadhan itu pembakaran, apa maknanaya, berarti selama Ramadhan dosa kita dibakar, dosa kita dibersihkan, kita ditempah dalam kawah candra di muka, sekolah selama 1 bulan Ramadhan, maka nanti di bulan syawal meningkat Imannya, meningkat ketaqwaannya, apa cirinya :
  1. Nanti setelah bertemu syawal dia lanjutkan puasanya dengan puasa sunnah, 
  2. Bacaan Qur’an yang dia baca dalam Ramadhan dia lanjutkan ketika bulan Syawal dan seterusnya 
  3. Sholat Qiyamul Lail yang dia tunaikan di bulan Ramadhan maka dia lanjutkan di luar Ramadhan, Maka disebutnya Syawal (peningkatan)
Ulama mengingatkan : Kun Rabbaniyyan wala Takun Ramadhaniyyan (Jadilah engkau hamba Rabb, bukan Hamba Ramadhan) maksudnya, jangan hanya taat ketika Ramadhan saja, justru ujian yang sebenarnya ada di 11 bulan ke depan setelah Ramadhan, jadi indikator pertama berhasilnya Ramadhannya seseorang adalah meningkat spiritualnya, dia makin dekat dengan Allah, dia makin taat pada Allah dan dia menjadikan orientasi hidupnya karena Allah, untuk Allah di Jalan Allah. 

Ketika dia bekerja orientasinya bukan masalah gaji besar dan kecil, ketika bisnis bukan masalah omset banyak atau sedikit, tidak, kenapa ? bukan itu ukuranya, tapi orang yang meningkat spiritualnya ketika dia bekerja dia pilah pilih, ini haram atau tidak, ketika bisnis, ini berkah atau tidak? Ini baik tidak ya? Atau jangan-jangan terprosot ke dalam Api neraka. Itu yang menjadi pertimbangannya dan indikator spiritual semakin terbukti setelah dia berhasil Ramadhannya.  

Kedua, Meningkat nilai-nilai sosialnya Apa maksudnya, Setelah Ramadhan dia menjadi pribadi yang dermawan dalam hidupnya, itulah ciri orang yang bertaqwa disebutkan dalam QS. Ali imron : 134  

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ ١٣٤

Artinya : (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

ما نقصت صدقة من المال
“Tidak akan berkurang shodaqoh dengan harta”
Ada filosofi terimakasih artinya : seberapa banyak apa yang ingin kita terima tergantung yang kita kasih, maka orang yang ahli sedekah, sedekahnya akan melapangkan alam kubur, sedekahnya meringakan hisab di alam kubur, sedekahnya meringankan sakaratul maut, dia dicintai Allah, dicintai manusia, dekat dengan surga, bahkan mengundang doa malaikat dalam hidupnya. 

َرَبِّي لَوْلَا اَخَّرْتَنِى إِلَى أَجَلٍ قَرِيْبٍ فَأَصَدَّق

Banyak Orang yang sudah meninggal di alam kubur, minta hidup kembali, apa permintaannya ? Ya Allah hidupkan aku walaupun sebentar saja, tunda kematianku walau sebentar, seandainya engkau berikan kesempatan hidup kembali, aku ingin menjadi orang yang ahli shodaqoh dan menjadi orang sholeh, kenapa mereka minta jadi ahli shodaqoh, bukan ahli sholat, bukan ahli puasa, bukan ahli haji bukan yang lainnya, kenapa? Karena shodaqoh itulah yang bisa menjadikan dirinya mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah Swt. 
Nabi Bersabda : 

والله فى عون العبد  ما كان العبد فى عون أخيه

“Allah akan menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya”. catat baik-baik ! jika Ingin ditolong Allah tolong orang lain, jika ingin dibantu Allah, bantulah orang lain, sedekaah tak harus harta, bahkan tabassumuka fii wajhi akhika laka shodaqoh, menyingkirkan duri ditengah jalan itu shodaqoh, buang sampah pada tempatnya itu shodaqoh, bahkan semua kebaikan-kebaikan yang kita tunaikan itu bermakna shodaqoh di hadapan Allah Swt. Tapi... Jika diberi kemampuan Harta maka infaqlah dengan harta

Ketiga, Menjadi pribadi yang memperbaiki nilai emosional dalam dirinya 
Cirinya : 1) lembut hatinya, 2) tenang dalam kehidupannya, Maka pada bulan syawal ini, mari sucikan hati bersihkan diri, lembutkan kehidupan kita dengan menghadirkan hati yang bersih, seorang anak jika masih punya orang tua minta maaflah pada orang tua kita, kenapa ? Ada satu kisah, suatu saat Rasulullah naik ke mimbar dan mengatakan Aamiin 3x, kemudian sahabat bertanya kenapa engkau mengatakan Aamin 3x, nabi mejawab wahai sahabat tadi ada malaikat jibril datang padaku, seraya berdoa dan aku aminkan, apa doa malaikat jibril : 
  1. Yaa Allah jangan engkau terima amal ibadah puasanya seorang hamba yang bertemu Ramadhan kemudian berpisah dengan Ramadhan tapi dia tidak bertaubat sehingga dosanya tidak diampuni oleh Allah Swt . kata Nabi Aamiin 
  2. Yaa Allah jangan engkau terima amal ibadah puasa Ramadhan seorang hamba jika disebutkan nama Nabi Muhammad Saw tapi mereka tidak membacakan sholawat kepadamu, maka nabi mengatakan Aamiin 
  3. Yaa Allah jangan engkau terima amal ibadah puasa Ramadhan seorang hamba jika ada seorang Anak yang pernah durhaka pada orang tuanya dan mereka belum sempat minta maaf pada orang tuanya bahkan ketika hari raya idul fitri, hari yang suci, mereka tidak minta maaf pada orang tuanya, maka kata Jiblir jangan diterima ibadah puasa Ramadhannya, kemudian nabi mengatakan Aamiin... 
Kalau dengan datangnya Ramadhan, datangnya Idul fitri tidak mampu membuat kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita, tidak mampu menjadikan kita anak yang bisa memuliakan orang tua kita, butuh bulan apa lagi yang harus Allah hadirkan kepada kita, butuh hari suci seperti apalagi yang Allah datangkan pada kita kalau kita seorang anak belum bisa meminta maaf pada orang tua kita, 
Maka mari kita jadikan momentum idul fitri ini untuk membersihkan hati, sucikan hati kita, jika hari ini kesulitan datang kepada kita, ujian bertubi-tubi datang pada kita, coba kita periksa mungkin karena ada kesalah diri kita pada orangtua yang tidak mengantarkan ridhonya Allah dalam kehidupan, maka Nabi berkata : Ridhollah fii ridho walidain, wa sukhtullah fii sukhtil walidain

Maka yang masih diberikan anugerah orang taunya masih hidup, pegang erat-erat, jaga baik-baik, jika masih terjangkau kehadirannya temui orang tua kita, pegang tangannya, peluk tubuhnya, cium pipi kiri kanannya, minta maaf sama orang tua kita, lantas bagaimana untuk yang sudah tiada orang tuanya? ingat baik-baik : 
Ada 3 hal yang dirindukan orang tua di alam kuburnya dari anaknya yang masih hidup : 
  1. Doa untuk almarhum-almarhumah 
  2. kebaikan orang tua dilanjutkan anak-anaknya dan sambung silaturahmi kepada kerabatnya 
  3. sedekah dari anaknya yang diniatkan untuk orang tuanya    
Bisa jadi hari ini kita sukses, kita berhasil, mungkin usaha kita hanya 1% tapi sisanya adalah terkabulnya doa ayah dan ibu kita, maka hadirin BERSYUKUR bagi yang sudah memanfaatkan kesempatan minta maaf kepada orang tua, kata nabi Celakalah, Meyesallah 3X mereka yang masih punya orang tua tapi dia tidak bisa masuk surga, kenapa? karena dia tidak bisa berbuat baik pada orang tuanya.

Maka emosianal kita harus terlatih, Suami istri saling minta maaf munkin selama berumah tangga banyak kesalahan diantara kita, mungkin selama berumah tangga kita masih jauh dari Allah Swt. Ayo sucikan hati bersihkan diri…!

Suami yang belum bisa menjadi suami yang baik maka minta maaf pada istri, istri yang belum bisa menjadi istiri yang baik maka minta maaf pada suami, orang tua kepada anak juga sama saling minta maaf, mungkin selama ini belum bisa menjadi orang tua yang baik, maka bersihkan hati ini, begitupun pada tetangga kita, kerabat kita, sahabat kita Sungguh orang yang diterima ibadah ramadhannya adalah yang paling baik mengelola emosionalnya, apa cirinya : Walkadzimina ghaidza wal ‘afina ‘anin Naas (menjadi orang yang pandai menahan marah dan mudah memaafkan kesalahan orang lain) 
Kesimpulan 3 tanda kemenangan di hari yang fitri adalah : 
1. Setelah Ramadhan meningkat kehidupannya pada sisi spiritual. 
2. Meningkat nilai-nilai sosialnya 
3. Menjadi pribadi yang memperbaiki nilai emosional dalam dirinya 

Semoga setelah ini kita bisa menjadi pribadi yang makin taat bertakwa pada Allah dan kita menjadi pribadi yang makin lembut, santun dan berakhlkul karimah… Aamiin. 

Semoga bermanfaat
Wallahu A'lam Bishshowab  
  

* Guru PAI SMKN 5 Surabaya

Rabu, 25 Mei 2022

“MEMBERI DAN MENOLAK” (Belajar kitab Hikam dari Nelayan dan Petani di Lamongan)

 


MEMBERI DAN MENOLAK

(Belajar kitab Hikam dari Nelayan dan Petani di Lamongan)

Taqoballahu minna waminkum taqobbal ya karim, Minal Aidin wal faizin, mohon maaf lahi dan batin. Rangkaian kalimat ini adalah kalimat sakral yang sering terdengung pasca bulan suci Ramadhan sampai bulan Syawal. hal ini disampaikan juga oleh Dr. KH. Saiful Jazil, M.Ag saat memulai Taushiyyahnya di Auditorium SMKN 5 Surabaya dalam Acara Halal bi Halal MGMP PAI SMK Kota Surabaya tahun 1443 H / 2022 M.

Kiyai Saiful Jazil berdiri sekaligus bertausiyyah dihadapan tamu-tamu dari kementrian Agama Kota Surabaya, diantaranya ; Dr. H. Pardi, M.Pd.I selaku Ka. Kantor Kemenag Kota Surabaya, hadir pula mendampingi beliau bapak Kasi PAIS Kemenag Kota Surabaya dan pengawas Guru PAI SMK Kota Surabaya, tidak hanya itu, beliau juga berada di hadapan Guru-Guru PAI SMK se kota surabaya. Tentu bertaushiyyah dihadapan pakar-pakar agama islam adalah hal yang cukup berat, butuh persiapan konsep yang matang dan dapat diterima dengan baik. Kiyai Jazil mungkin menganggap berbicara di depan para guru PAI lengkap dengan Perangkat dari kemenag sama halnya dengan menggarami lautan.

Tenang, santun, dan teduh menyaksikan beliau di atas panggung, beliau lebih nyaman dengan mengambil posisi berdiri walaupun kursi sofa empuk lengkap dengan meja yang diatasnya tersedia secangkir air jahe, dan air mineral, beliau tetap memilih berdiri. Seolah-olah beliau memberikan keteladanan untuk tetap hormat dan takdzim pada orang-orang yang beliau anggap lebih alim yang ada di depan beliau. Beliau tidak ingin menggurui para guru.  

Sesekali, bahkan berkali-kali beliau melemparkan beberapa pantun indah yang membuat riuh suasana Auditorium. Tentu, ini bukan hanya sekedar style atau kebiasaan beliau, tapi karena pada dasarnya sajak-sajak indah itu biasanya hanya diberikan pada orang-orang tertentu yang mampu menafsiri dengan tafsiran yang lebih baik, serta mampu memaknai kata-kata singkat menjadi bertingkat-tingkat, Begitulah Kiyai Jazil melayani dan memuliakan Guru-Guru PAI yang hadir dihadapannya. Seolah ada kekhawatiran akan berpalingnya perhatian audiens ke lain hal atau bisa mengantuk dan jenuh.

Dalam berdakwah, Kiyai Jazil betul-betul berusaha mengambil hati dan memahami kebutuhan pendengarnya, bagaimana tidak?, rata-rata guru peserta Tes PPG terkesima ketika kiyai masuk memberikan nasihat dan motivasi serta doa untuk mereka, sebuah canda ringannya beliau sampaikan : “doakanlah peserta pretes PPG itu agar lulus semua, karena panggilan PPG itu seperti penggilan kematian, datangnya sekali seumur hidup”, sontak suasana menjadi penuh tawa, hal ini adalah perhatian penting bagi audiens yang membuat mereka menunggu dan menunggu karena yakin nasihat-nasihat selanjutnya jauh lebih berisi. Dari sini titik fokus jama’ah yang hadir mulai terarah dan tertata pada sang kiyai.

Kiyai memandang beckdroup acara di belakangnya dan memabaca tema yang tertulis dengan jelas : “Beribadah & Berkarya menuju GPAI Semakin berkah”. Dari tema ini beliau mencoba mengantarkan semua tamu undangan untuk flashback di masa lalu dan mengingat-ngingat tentang sebuah tradisi guru yang sering membawa kayu kecil (Jawa : penjalin) saat mendidik murid-muridnya, bukan hanya masalah penjalin itu saja, kata-kata yang keluar dari lisan guru-guru dulu masih terngiang-ngiang di telinga : “nak bapak tidak niat memukul kamu, tapi bapak niat memukul setannya” sembari kayu kecil mendarat di kaki muridnya. Apakah anak-anak dulu dianggap kesetanan semuanya, atau sudah menjadi setan ? tanya sang kiyai kembali memecah suasana. Luar biasanya, anak-anak yang dipukul gurunya kala itu, tidak pernah dipemasalahkan oleh wali muridnya, apalagi dilaporkan ke polisi (Jangan disamakan dengan zaman sekarang!). Ternyata resepnya adalah guru-guru zaman dulu sepertinya mempraktekkan konsep ayat Al-Qur’an :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqqoroh : 153)

 

Guru-guru zaman dulu Ketika ada masalah mereka cepat-cepat mengadu kepada Allah dengan Sabar dan sholat. Mereka sering melibatkan Allah dalam setiap urusannya, Allah yang akan bantu menyelesaikan masalahnya. Begitulah kira-kira pegangan guru-guru dahulu, entah dengan guru-guru sekarang? 

 

Kiyai yang juga Doktor di UIN Sunan Ampel Surabaya ini memberikan gambaran keteladanan berdasarkan pengalaman realitas yang tidak bisa tertolak oleh semua guru-guru  yang hadir (hampir semua pernah dipenjalin atau melihat peristiwa penjalin semasa menjadi murid). Seolah mengantarkan alam bawa sadar untuk betul-betul sadar kembali bahwa audiens adalah seorang guru yang pernah menjadi seorang murid, bahkan pernah menjadi murid “nakal” juga. Tanpa memberi kesimpulan, seolah tersimpul sendiri dalam benak para audiens (guru-guru PAI) tentang mahalnya sebuah strategi dan metode mengajar yang baik jika senantiasa melibatkan Allah – Dzat yang Maha Berilmu dan Maha memberikan Ilmu.

25 Menit berjalan, Kiyai Jazil megajak para guru PAI untuk ngaji kepada shohibul Hikam – Syekh Ibnu Athoillah. Disinilah kehebatan beliau memilih kitab sekaligus mushonnifnya untuk disajikan pada kalangan ilmuan seperti guru-guru PAI. Sontak, seolah audiens diantarkan  menjadi murid yang gelasnya kosong dan bersiap menimbah banyak air ilmu dari Ibnu ‘Athoillah. Ketawadhu’an guru-guru PAI yang menjadi Audiens kala itu mulai tampak, mereka sadar betul bahwa Syekh Ibnu ‘Athoillah adalah ulama yang produktif. Tak kurang dari 20 karya yang pernah dihasilkannya. Karya itu meliputi bidang tasawuf, tafsir, akidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Sadar akan kekurangan ilmu yang dimiliki, guru-guru PAI makin haus akan ilmu dari shohibul hikam tersebut.

Dengan tenang dan fasihnya Kiyai Jazil mulai membacakan mutiara hikmah dari syekh ibnu Athoillah Al-Askandary :

ربما أعطاك الله فمنعك،

Terkadang Allah memberimu tapi berupa penolakannya terhadapmu

وربما منعك فأعطاك،

Terkadang Allah menolakmu tapi hakikatnya memberimu

وإذا كشف لك الحكمة في المنع، عاد المنع عين العطاء

“Manakala kamu dibukakan pintu Hikmah oleh Allah, maka kamu akan paham dan mengerti bahwa pada hakikatnya penolakan Allah adalah wujud yang terbaik untuk anda”

 

Mencerna mutiara hikmah ini tidak semudah yang kita bayangkan, kiyai Jazil senantiasa menyederhanakan maknanya agar mudah diterima dari semua latar belakang Guru PAI yang hadir waktu itu, beliau kemudian mengutarakan 2 kata yang sangat kontradiktif, yakni kata menolak dan kata memberi, Bagaimanakah Allah dapat menolak tapi hakikatnya memberi ? sebagian audiens mulai mengerutkan dahinya, berpikir keras dan membayangkan akan keluar teori-teori ilmiah tingkat tinggi dengan berbagai istilah-istilah asing kamus ilmiah dari lisan seorang Kiyai plus Doktor itu.

Dengan santainya beliau mengejawantahkan pemahaman kitab sakral para salik yang di dalam kitab Hikam tersebut memiliki terminologi suluk yang ketat, Kiyai bercerita tentang profesi seseorang dan berangkat dari kisah nyata yang diangkat dari hasil silaturahmi di kampung halamannya sendiri di daerah Paciran Lamongan. Beliau berkisah :

Paciran adalah daerah pesisir Lamongan bagian Utara, mayoritas profesi warganya adalah Nelayan, suatu ketika ada seorang nelayan yang punya keinginan kuat untuk berangkat ibadah Haji, saking kepinginnya berangkat Haji,  nelayan itu menabung setiap hari, waktu terus berputar hingga terkumpul uang sejumlah Rp. 25 Juta. Uang tersebut langsung digunakan untuk daftar haji, tentu belum bisa langsung berangkat karena harus antri menunggu panggilan terlebih dahulu untuk beberapa tahun kemudian.

Setelah beberapa tahun berlalu, Nelayan itu mendapat panggilan untuk berangkat Haji, maka nelayan itu harus melunasi ONH sebesar Rp.37.500.000, belum termasuk uang untuk tasyakkuran, untuk urusan rombongan yang mengantarkan, belum lagi ketika pulang dari tanah suci dia juga kepikiran harus bawa oleh-oleh untuk saudara-saudaranya di tanah air nanti.

Singkat cerita, akhirnya beliau utang kanan kiri agar bisa membayar semua urusannya itu. Berangkatlah nelayan itu, sampainya di tanah suci dia rajin berdoa, doanya hanya satu : “Semoga pulang haji bisa bayar utang-utangnya (dan semoga yang dibayari menolak dibayar utangnya, hibur sang kiyai).

Suatu ketika saat nelayan itu Thawaf tiba-tiba terjadi musibah jatuhnya crane di area masjidil haram tepat di tempat thawaf, 107 orang yang thawaf langsung meninggal dunia,  238 jama’ah yang lainnya diberikan hidup oleh Allah dengan cidera luka berat dan ringan. Ternyata nelayan ini juga menjadi korban yang masih diberi kesempatan hidup, dengan musibah satu kupingnya putus.

Dimana letak kebaikan?, dimana hikmahnya? Kiyai jazil menegaskan pertanyaannya.

Ingatlah perkataannya ibnu athoillah tadi,

وإذا كشف لك الحكمة في المنع، عاد المنع عين العطاء

“Manakala kamu dibukakan pintu Hikmah oleh Allah, maka kamu akan paham dan mengerti bahwa pada hakikatnya penolakan Allah adalah wujud yang terbaik untuk anda.”

Ternyata Allah punya rencana lain.

Setelah pulang dari tanah suci, terdengar kabar datang dari bapak Duta besar Indonesia di Arab Saudi (bpk Drs, H. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag) mengumumkan bahwa seluruh jama’ah haji yang terkena musibah crane akan mendapatkan santunan yang disampaikan langsung oleh Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud. Santunannya adalah untuk korban meninggal dunia dapat sekian Ribu Real (hampir Rp. 4 M) sementara yang tidak meninggal (termasu kuping putus si Nelayan) mendapatkan 500.000 real (sekitar Rp. 1,75 M ).

Usai berkisah tentang nelayan dikampungnya itu, kiyai jazil mengajak jama’ah untuk merenugkan bersama-sama : “Bayangkan hitung-hitungannya, andai kata biaya syukurannya dan oleh-olehnya habis Rp. 75 jt, maka nelayan tadi sudah bisa melunasi utang-utangnya bahkan memiliki save uang Rp. 1 M, saya yakin Nelayan ini akan berdoa lagi kepada Allah : Ya Allah kenapa tidak putus saja kedua kuping saya (Goyon Kiyai Jazil memecah tawa jama’ah).

Kita belajar tentang usaha yang maksimal, tapi harus kita ingat semuanya pasti terbatas, kita sudah iktiyar, kita sudah belajar, tapi Allah punya rencana diluar kemampuan kita. Jika ternyata kita-kita ini lulus tapi Allah ternyata menghendaki lain, berarti ada kehendak kita yang tidak sama dengan kehendak Allah. Kiyai Jazil mengutip satu ayat :

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا - إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (QS. Al-Insyiroh : 5-6)

Dengan demikian kita akan mudah mengucapkan hakikat Alhamdulillah, usaha maksimah dan serahkan pada Allah, karena itu Allah berfirman :

 وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al-Baqoroh : 216)

 

Tidak berhenti pada kisah Nelayan, satu kisah ditambahkan sebagai penutup taushiyyah beliau, kali ini kisah masyarakat yang masih di Lamongan juga, namun bagian selatan, beliau mulai bercerita dengan santai :

Lamongan selatan adalah kawasan bercocok tanam dengan sistem tadah hujan, ketika kemarau tiba maka bagi para petani yang memiliki lahan yang tidak begitu luas juga tidak maksimal hasilnya, bahkan terkadang tidak cukup untuk biaya hidup dari hasil panennya.

Akhirnya ada seorang petani di desa itu memutuskan untuk mengadu nasib ke kota surabaya dengan niatan belajar jualan bakso/pentol dan ikut seorang juragan untuk jualan dan gerobaknya, serta harus setoran hasil jualannya ke juragannya. Tentu jika yang laku sedikit maka hasilnya sedikit begitupun sebaliknya.

Mulailah Petani itu berjualan Bakso/pentol, hari pertama masih sepi, tidak ada pelanggan, tidak begitu laris. Sampai  3 hari tetap tidak pernah habis jualannya. Suatu ketika, saat sholat ashar tiba, dia ikut sholat berjama’ah di sebuah masjid, setelah selesai dia istirahat sejenak, saat itu gerobak baksonya diparkir di pinggir jalan depan masjid, sambil istirahat dia berdoa : “ Ya Allah… kalau bakso saya ini tidak habis, berarti utang saya semakin bertambah, tolong ya Allah Engkau berikan keberkahan dan kemudahan agar dagangan saya habis”.

Belum selesai dia ngerentek doanya, tiba-tiba ada mobil lewat, karena jalannya sempit akhrnya mobil itu nyerempet gerobak petani itu, gerobaknya terbalik serta pecah berantakan, kasihan.

Akhinya penjual bakso itu terkejut dan menangis. Alhamdulillah… yang punya mobil tadi turun dari mobilnya dan bertanggung jawab. Setelah diajak hitung-hitungan terkait kerugiannya, penjual menyatakan bahwa Gerobak harganya 5juta, dan semua jualannya senilai Rp. 500.000,-.  Tanpa banyak mikir pemilik mobil menggantinya dengan Rp. 10 juta (untuk ganti rugi ke juragan dan bisa kulakan lagi). Begitu senangnya si petani penjual bakso ini. dia lantas memuji Allah - Alhamdulillah, langsung meninggalkan gerobaknya dan pulang ke tempat tinggalnya.

sesampainya di rumah, dia ditanyakan istrinya, mana gerobaknya ?

pak tani lalu menjelaskan “Ya Allah dek ini, tadi saya kena musibah keserempet mobil. (belum selesai suaminya bercerita) Si Istri lagsung ngomel dan memarahi suamnya. Si istri kepikiran utang kemaren dengan juragannya, malah dapat masalah, utangnya akan bertambah lagi, belum hidup sehari-hari lagi susah. “Aku belum selesai cerita” kata suaminya, Alhamdulillah orangnya tanggung jawab, aku dibarikan uang Rp. 10 juta, bisa dibuat ganti gerobak juragan dan kita sekarang bisa beli gerobak dan kulakan sendiri tanpa ikut juragan lagi. Mendengar hal itu istrinya bartahmid - Alhamdlillah... kata istrinya “Ya sudah besok saya doakan semoga keserempet lagi (guyon kiyai menambahkan riuhnya tawa audiens)

 

Kembali lagi, terkadang doa kita secara lahir tidak dikabulkan Allah, tapi jangan lupa  bukan berarti tidak dikabulkan Allah bukankah janji Allah

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu ."

(Al-Mu’min : 60)

 

Jadi pada hakikatnya Allah masih memilihkan apa yang terbaik yang akan diberikan kepada kita, dan Allah memilihkan waktu yang tepat kapan saatnya diberikan. Ilustrasi sederhanya kita punya anak kecil, kakak-kakaknya menyalakan mercon, adiknya yang kecil minta mercon juga, pengin beli sendiri, terkadang sampai anak itu nangis. Dalam keadaan seperti ini anak pasti memandang orang tua tidak sayang pada anaknya, padahal justru dalam pandangan orang tua karena saking sayangnya sebab orang tua tau betul resiko yang akan didapatkan.

 

Begitu pula terkadang kita mengharap sesuatu, mencintai sesuatu, terkadang tidak diberikan oleh Allah, bukan berarti doa kita tidak diterima, tapi Allah punya jalan yang terbaik untuk kita, sama halnya terkadang ada sesuatu yang tidak kita kehendaki, tidak kita inginkan malah terjadi pada diri kita. Wallahu ya’lamu wa antu la talamun (Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengerti)

Baik atau buruk itu adalah yang terbaik di hadapan Allah, apapun yang terjadi kita tetap Alhamdulillah, sehingga kita tidak mudah putus asa. Usaha dan kerja keras tidak mesti sesuai dengan yang kita harapkan, jangan sekali-kali mudah putus asa, libatkanlah Allah dalam segala urusan.

Pesan-pesan ini disampaikan dengan sangat sederhana namun kiyai Jazil berhasil mengantarkan makna esensial hikmah pesan Ibnu ‘Athoillah dengan tidak seperti menggurui para guru-guru, hal ini terbukti beliau menutup taushiyahnya dengan mengajak pendengar untuk meneladani Nabi Muhammad Saw. Sebagai sumber keteladanan yang sempurna. Inilah cara dakwah yang baik, pendakwah bukan mengajak meneladadi dirinya, tapi mengenalkan sosok-sosok inspiratif disekitar kita dengan bahasa dan realitas sehari-hari yang bermuara pada keteladanan Nabi Muhammad Saw.  

Wallahu A’lam Bishshwwab

 By : M. Alfithrah Arufa

(Sumber : Hikmah pengajian yang disampaikan oleh Dr. KH. Saiful Jazil, M.Ag dalam acara Halal Bi Halal MGMP PAI SMK Kota Surabaya tahun 1443 H/2022 di Auditorium SMKN 5 Surabaya)


Flayer Acara
Foto Bersama Pasca Acara



Senin, 29 November 2021

RELASI GURU MURID (Belajar dari Kisah Rasulullah Musa AS. dan Nabiyullah Khidir AS.)

 RELASI GURU MURID

Belajar dari Kisah Rasulullah Musa 'Alaihimassalam &Nabiyullah Khidir 'Alaihimassalam

(oleh : Ust. Muchamad Sofyan Hadi, M.Pd.I)



Ketika Rasulullah Musa berjumpa dengan guru yang dicarinya dan memohon kepadanya agar diterima menjadi murid, persyaratan yang diminta gurunya ialah kesabaran untuk menjaga tata krama seorang murid, yakni bersabar menanti tahapan pelajaran tanpa mendesak atau mempertanyakan sesuatu yang belum dibahas, tidak menentang, dan tidak memprotes gurunya.

Dalam Alquran dikisahkan Rasulullah Musa menaruh harapan besar untuk diterima menjadi murid, Rasulullah Musa berkata kepada Nabi Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66). Lalu sang guru menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.” (QS. Al-Kahfi: 67).

Rasulullah Musa agak tercengang sejenak sambil berpikir bagaimana mungkin calon guru yang baru dijumpainya itu mengerti kalau dia tidak akan sanggup untuk bersabar. Musa kembali menjawab, “Insya Allah, engkau akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.” (QS. Al-Kahfi: 69).

Akhirnya Musa diterima sebagai murid, namun ketentuan pertama yang harus dipenuhi Musa dari gurunya ialah “Jika kamu mengikutiku, janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (QS. Al-Kahfi: 70).

Keduanya berangkat ke sebuah tempat yang tidak jelas, dan keduanya tiba di sebuah tempat di pinggir pantai. Di pantai itu sang guru melakukan sesuatu yang sangat aneh bagi Musa, yaitu melubangi perahu-perahu nelayan miskin di tempat itu. Musa spontan menyatakan keberatannya, “Mengapa kamu melubangi perahu itu, yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” (QS. Al-Kahfi: 71).

Pertanyaan Rasulullah Musa yang walaupun diyakini secara akal normal tidak ada yang salah, namun sang guru menganggap sikap batin yang mendorong Rasulullah Musa mengeluarkan pertanyaan dan tanggapan belumlah mencerminkan murid yang pantas untuk memperoleh ilmu ladunni (QS. Al-Kahfi: 65), lalu gurunya memberikan teguran, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.” (QS. Al-Kahfi: 72).

Menyadari kekeliruan dengan kelancangannya mempertanyakan kebijakan sang guru, Rasulullah Musa memohon maaf kepada gurunya, “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku, dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.” (QS. Al-Kahfi: 73).

Apa yang dialami Rasulullah Musa mengingatkan kita kepada sikap malaikat yang mempertanyakan kebijakan Tuhan untuk menciptakan pendatang baru yang bernama Adam alaihissalam dari jenis manusia. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS. Al-Baqarah: 30).

Menanggapi tanggapan balik Allah di ujung ayat tersebut, malaikat juga memohon ampun terhadap kelancangannya. “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 32).

Seandainya Rasulullah Musa menyadari dan belajar apa ending dari cerita malaikat ini tentu tidak akan terjadi teguran dari gurunya. Seperti kita ketahui, pada akhirnya malaikat memahami rahasia besar yang terkandung di dalam diri manusia mengapa ia diciptakan (kosmologi spiritual ibn arabi).

Permohonan sang murid diterima, dan keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Ujian kedua terjadi bagi Rasulullah Musa ketika keduanya menjumpai kerumunan anak-anak kecil sedang bermain dan gurunya tiba-tiba dengan membunuh salah seorang di antaranya.

Alangkah kagetnya Musa dan spontan memprotes dan menyatakan penyesalan perbuatan gurunya dengan mengatakan, “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.” (QS. Al-Kahfi: 74). Gurunya dengan tenang menegur muridnya dengan bahasa yang sama, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” (QS. Al-Kahfi: 75).

Musa berusaha untuk bersabar dan meminta maaf kepada gurunya. Ia meyakinkan gurunya dengan mengatakan, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu. Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku.” (QS. Al-Kahfi: 75). Akhirnya, sang guru mengizinkan Rasulullah Musa mengikutinya.

Perjalanan keduanya dilanjutkan ke suatu arah yang tidak jelas. Rasulullah Musa mulai melihat keraguan di dalam dirinya terhadap keabsahan gurunya. Seolah-olah ia ragu apakah ia tidak salah pilih guru. Keduanya akhirnya berhenti di sebuah reruntuhan bangunan tua. Sang guru memintanya untuk membangun reruntuhan gedung ini. Rasulullah Musa dengan penuh semangat mengerjakannya dengan harapan mungkin di gedung inilah nanti akan mulai diajar, setelah sekian lama Rasulullah Musa belum pernah merasa diajar dari gurunya.

Alangkah kagetnya Rasulullah Musa setelah bangunan tua ini selesai dipugar lantainya, sang guru memintanya untuk meninggalkan tempat itu. Rasulullah Musa akhirnya bertanya untuk apa kita menghabiskan waktu dan energi membangun bangunan ini setelah selesai lalu ditinggalkan begitu saja.

Mendengarkan pertanyaan yang bernada protes ini, sang guru akan meninggalkan muridnya. Rasulullah Musa pun kelihatannya tidak keberatan karena yang diperoleh selama sekian lama hanyalah berbagai keanehan yang kontroversial.

Namun sebelum keduanya berpisah, sang guru sejenak memberikan penjelasan kepada muridnya. “Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan tujuanku merusak perahu itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap perahu (yang bagus).” (QS. Al-Kahfi: 79).

Sedangkan, pembunuhan anak kecil dijelaskan bahwa kelak anak itu akan tumbuh dewasa menjadi anak yang durhaka dan menyusahkan orangtuanya “Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu, dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS. Al-Kahfi: 81).

Penjelasan terakhir mengenai pemugaran bangunan tua itu. “Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 82).

Rasulullah Musa hanya bisa tercengang sesaat setelah gurunya meninggalkannya. Akhirnya Rasulullah Musa sadar bahwa pelajaran tidak mesti harus di dalam sebuah ruangan formal yang dilakukan dengan cara-cara pengajaran yang formal.

Belajar kearifan ternyata tidak harus menunggu memiliki media yang lengkap. Pelajaran kearifan itu melekat di dalam pengalaman setiap derap langkah dan turun naiknya napas seorang anak manusia. Pengalaman hidup adalah guru kearifan paling sejati. Selamat belajar dan mengajar ………..

Jumat, 12 November 2021

KABAR GPAI | SMK NEGERI 5 SURABAYA CETUSKAN PPKM PAI

SMK NEGERI 5 SURABAYA CETUSKAN PPKM PAI


Perkembangan zaman serta cepatnya perjalanan teknologi menjadi tantangan sekaligus harapan baru. Ibarat sekeping uang koin yang hanya memiliki dua sisi pilihan, baik atau buruk. Serba instan dan mudahnya melaksanakan sesuatu yang diingankan membuat orang makin memilih hal-hal yang lebih praktis, sehingga apapun yang diharapkan sangat mudah dan cepat untuk diperoleh dengan teknologi. Kemudahan-kemudahan tersebut tentu harus diimbangi dengan kecerdasan, baik kecerdasan intelegensi, emosional, maupun spiritual. Dengan adanya kekuatan tiga kecerdasan ini akan melahirkan manusia yang memiliki potensi kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

Selain lingkungan keluarga, Sekolah menjadi wadah yang paling kuat dalam membentengi generasi muda ummat Islam saat ini, dengan kebijakan dan program pembentukan karakter Agama Islam yang didukung dan disetujui sekolah maka diharapkan akan banyak generasi yang diselamatkan dari kuatnya perkembangan zaman yang bisa disalahgunakan.

Pendidikan Agama di sekolah menjadi titik tumpuan harapan untuk memberikan penguatan terhadap pembetukan karakter peserta didik dan membuka wawasan keilmuan agama yang telah disusun dalam struktur kurikulum pendidikan agama, begitu kompleks goal yang harus dicapai oleh tenaga pendidik khususnya guru-guru Agama untuk mewujudkan peserta didik yang berkarakter mulia serta taat dalam beribadah baik secara vertikan maupun horisontal. Semua target itu diupayakan dalam 3 jam pelajaran dalam sepekan. Dengan berbagai problematika yang dihadapi, guru Agama harus menyajikan metode yang bisa dimaksimalkan dengan keterbatasan waktu yang disediakan demi tercapainya goal karakter mulia pada peserta didik.

Berangkat dari semangat kesadaran sabda Rasulullah Saw :“sebaik-baik kalian adalah orang yang  mempelajari Al-Qur’an dan yang mengamalkannya” (HR. Bukhari). Guru-guru PAI SMKN 5 Surabaya sebagai salah satu bagian yang harus terlibat dalam pembentukan karakter peserta didik mencoba memberikan suatu strategi tawaran program penguatan karakter dan materi PAI (PPKM PAI) yang telah melalui kajian panjang berdasarkan evaluasi hasil capaian belajar peserta didik dan kiprah religiusnya di masyarakat. Konsep program PPKM PAI ini diharapkan menjadi bagian penting yang hadir memberikan solusi penguata karakter mulia peserta didik. PKKM PAI Hadir sebagai penguatan materi PAI yang sudah ada melalui buku/kitab khusus yang telah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik dengan di SMKN 5 Surabaya.

SMK Negeri 5 Surabaya menjadi sekolah SMK Negeri yang besar di Surabaya berupaya melakukan kegiatan yang mengarah pada urain di atas, yaitu mengadakan “Program Penguatan Karakter dan Materi PAI (PPKM PAI) ” dengan mempertimbangkan keadaan Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, Tim Guru PAI berharap Program ini dapat terselenggara sebagai bentuk optimisme kebaikan religius bagi peserta didik. Program ini dibuat dan diperuntukkan bagi para siswa-siswi /muslim-muslimah SMK Negeri 5 Surabaya muali dari kelas X, XI, dan XII. Semoga Program yang (Al-Hamdulillah) merupakan pengembangan dari PTQ sebelumnya ini senantiasa mendapatkan Ridha dan Rahmat dari Allah Swt. Maka dukungan dari berbagai pihak sangat kami harapkan demi terselenggaranya program ini.

Akhirnya, motivasi tim terhadap penerapan program ini adalah menyadari akan pentingnya ungakapan dari Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A :

الطريقة اهم من المادة, والمدرس اهم من الطريقة, وروح المدرس اهم من المدرس

Artinya : Materi Pembelajaran adalah sesuatu yang penting, tetapi metode pembelajaran jauh lebih penting daripada materi pembelajaran. Metode pembelajaran adalah sesuatu yang penting, tetapi guru jauh lebih penting daripada metode pembelajaran. Dan jiwa (ruh) seorang guru lebih penting daripada guru itu sendiri”

        Program yang akan dilaksanakan setiap tahun ini diikutioleh semua peserta didik muslim/muslimah SMKN 5 Surabaya yang berada di kelas X, XI dan XII, Program ini memilki beberapa tujuan diantaranya adalah : 1)  Membentuk karakter (akhlakul karimah) pelajar SMKN 5 Surabaya, 2) Memberi penguatan materi PAI yang sudah ada selama ini, 3)  Mendorong dan meningkatkan pemahaman ilmu agama secara teoritis dan praktis bagi pelajar SMK Negeri 5 Surabaya, 4) Meningkatkan kualitas baca tulis dan hafalan Al-Qur’an bagi pelajar SMK Negeri 5 Surabaya, 5) Menfasilitasi siswa yang berprestasi lewat jalur PPDB prestasi Tahfidz untuk tetap menjaga hafalanya.

        Pusat pelaksanaan program ini berlangsng di Masjid Darul Ilmi SMKN 5 Surabaya sebagai laboratorium Agama Islam dan Karakter, dalam menunjang jalannya program dengan baik dan lancar peserta didik yang ikut serta akan diberikan beberapa fasilitas pembelajaran dari sekolah seperti Buku/kitab panduan (Al-Risalah Al-Mufidah), Buku Saku Penilaian PPKM PAI, Juz ‘Amma, Kartu Tahfidz bagi Peserta kelas Tahfidz, bahkan Apresiasi khusus terhadap Nilai Pelajaran Pendidikan Agama Islam & Budi Pekeri (dengan prioritas nilai KKM+), dan pembinaan-pembinaan lainnya.

            Metode yang digunakan dalam Program ini adalah Ngaji penguasaan Kitab Ar-Risalah Al-Mufidah karya Tim Guru PAI SMKN 5 Surabaya, sedangkan untuk pendidikan penguasaan Baca Tulis Al-Qur’an menggunakan metode Al-Istifadah yang juga disusun oleh Tim Guru PAI SMKN 5 Surabaya.

            Pelaksanan program ini diupayakan sebaik mungkin membangun komitmen bersama antara Manajemen sekolah, Ketua Kompetensi keahlian, Guru PAI, Takmir Masjid SMKN 5 Surabaya, Bapak Ibu Guru serta Peserta didik. Kolaborasi ini diharapkan mampu memberikan kontrubisi yang konstruktif dalam menjalankan program mulia ini di lingkungan Sekolah. Sebagai bentuk komitmen semua pihak program ini telah disosialisasikan kepada semua warga SMKN 5 Surabaya mulai dari pihak manajemen hingga peserta didik.

 

Dokumentasi Sosialisasi PPKM PAI




Dokumentasi Grand Lounching PPKM PAI




Dokumentasi Pemetaan Kompetensi Baca Al-Qur’an (Al-Istifadah)





Dokumentasi Pembentukan Karakter dan Pembelajran PAI di Masjid




Dokumentasi Kitab Ar-Risalah Al-Mufidah



Dokumentasi Kitab Al-Istifadah



Dokumentasi Buku Penilaian PPKM PAI


Arsip :

Proposal dan Program kegiatan Program

File PPTSosialisasi PPKM PAI

VIDEO GRAND LAUNCHING PPKM PAI 

gpaismkn5sby. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts