Selamat Datang di Situs Resmi MGMP PAI SMKN 5 Surabaya

"Tata Niat, karena baik buruknya niat akan kembali pada yang berniat"

Nasionalisme sebagai bagian dari kerakter religius Murid

Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman.

Gerakan Menulis Mushaf Al-Qur'an

Antusiasme Para Murid SMKN 5 Surabaya dalam belajar menulis Ayat-AYat Al-Qur'an.

Istiqomah Dalam Dendirikan sholat 5 Waktu

Dimulai dari Program Penguatan Karakter dan Materi PAI (PPKM PAI) di SMKN 5 Surabaya .

Pembiasaan Cinta Al-Qur'an

Pengembangan Program Tahfidz AL-Qur'an SMKN 5 Surabaya.

Subscribe Us

# SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI GURU MAPEL PAI SMKN 5 SURABAYA, NGAJI SEPANJANG HAYAT | INFO : SELAMA MASA PEMBELAJARAN DI RUMAH, PEMBELAJARAN PAI DIPUSATKAN DI SITUS RESMI INI, BAGI SISWA-SISWI SMKN 5 SURABAYA SILAHKAN KOORDINASI DENGAN GURU PAI MASING-MASING UNTUK BERSAMA-SAMA MEMBERDAYAKAN SITUS INI DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH # .....
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL GPAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL GPAI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juli 2026

TIGA TANDA ALLAH MENGHENDAKI KEBAIKAN KEPADA HAMBA-NYA

 TIGA TANDA ALLAH MENGHENDAKI KEBAIKAN 

KEPADA HAMBA-NYA


Pernahkah kita merasa hidupnya seolah berada di jalan buntu? Doa telah dipanjatkan, ikhtiar telah dilakukan, namun persoalan belum juga menemukan jalan keluar. Tekanan ekonomi, sulitnya mencari pekerjaan, derasnya arus informasi, persaingan hidup, hingga kecemasan terhadap masa depan sering membuat hati mudah gelisah.

 Padahal, yang sebenarnya sering kali buntu bukanlah jalan hidup kita, melainkan prasangka kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita mulai mengira bahwa pertolongan Allah telah jauh, padahal Allah memiliki cara-cara yang tidak pernah terlintas dalam pikiran kita sebagai manusia.

 

Mari kita belajar dari kisah Nabi Musa 'alaihissalam. Ketika beliau dan kaumnya berada di tepi Laut Merah, di depan terbentang hamparan lautan luas dan dalam, sementara di belakang pasukan Fir'aun terus mengejar. Secara logika!, tidak ada lagi jalan keselamatan. Namun ketika pertolongan Allah datang, lautan pun terbelah dan menjadi jalan keselamatan.

 

Karena itu, jangan pernah membatasi kekuasaan Allah dengan sempitnya akal kita. Tugas kita hanyalah bertakwa, berikhtiar, dan bertawakal. Sebagaimana Firman Allah Swt : (QS. At-Thalaq: 2-3)

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا - وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya - dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.  

 

Pernahkah kita merasa tertinggal dari orang lain. Melihat Ada yang lebih dahulu sukses, lebih dahulu menikah, lebih dahulu mapan, atau lebih dahulu meraih cita-cita. Lalu hati bertanya, "Mengapa hidupku belum seperti mereka?"

 

Padahal, kita sering lupa bahwa Allah tidak pernah terlambat dalam menetapkan sesuatu. Rezeki, jodoh, kedudukan, bahkan setiap ujian dan kebahagiaan telah Allah tetapkan jauh sebelum kita dilahirkan.

 

Ketika doa belum dikabulkan, bukan berarti Allah tidak mendengar. Ketika harapan belum terwujud, bukan berarti Allah mengabaikan kita. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan waktu terbaik yang belum mampu kita pahami hari ini.

 

Di era Social Media, kita begitu mudah membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Padahal yang kita lihat hanyalah potongan kebahagiaan mereka, bukan seluruh perjalanan hidupnya. Akibatnya, kita lebih sibuk menghitung nikmat orang lain daripada mensyukuri betapa besarnya nikmat yang Allah titipkan kepada kita saat ini.

 

Karena itu, jangan habiskan hidup dengan kegelisahan terhadap masa depan, dan jangan tenggelam dalam penyesalan masa lalu. Teruslah berikhtiar, bertawakal, dan berbaik sangka kepada Allah. Sebab tidak ada takdir yang tertukar, tidak ada rezeki yang salah alamat, dan tidak ada ketetapan Allah yang datang terlambat.

 

Mari kita mengambil ibroh pula dari kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Ketika beliau dilemparkan ke dalam kobaran api, Allah tidak memadamkan api itu. Api tetap menyala, berkobar, tetap besar, tetap tampak mengerikan dan menakutkan. Namun Allah berfirman:

يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

"Wahai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim."

Apinya itu tidak hilang, tetapi sifatnya diubah sehingga tidak lagi menyakiti.

 

Demikian pula dalam kehidupan kita. Kita sering berdoa agar masalah segera lenyap/hilang. Namun terkadang Allah tidak menghilangkan masalah itu. Yang Allah ubah adalah hati kita. Allah melapangkan dada yang sempat sempit, menguatkan kesabaran, menenangkan jiwa yang gelisah, dan memberikan kekuatan untuk melewati ujian. Akhirnya, dengan masalah yang sama itu, tidak lagi mampu melumpuhkan hati kita. Ini adalah anugrah dari Allah Swt.

 

Dari sekian perjalanan hidup dan kehidupan kita di dunia ini, Islam hadir mengajarkan kita untuk senantiasa memperluas syukur kepada Allah, menguatkan husnudzon pada siapapun terlebih kepada pada Allah Swt, yang semua itu akan bermuara pada satu titik yang disebut kesholehan atau kebaikan dan keridhoan Allah.

Lantas bagaimana kita bisa mengetahui bahwa Allah Swt telah benar-benar menganugrahi kesholehan atau kebaikan-kebaikan tersebut pada diri kita?

 

kabar baiknya ... Rasulullah Saw memberikan pelajaran dan tanda-tanda untuk kita semua, sekaligus menjadi alat identifikasi / muhasabah atau kesholehan check up, apakah Allah telah menganugerahi cahaya kebaikan pada hambanya ?

Setidaknya Di antara tanda atau kondisi bahwa Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, dapat dicek pada 3 kondisi :

 

Konsisi yang Pertama, Allah memberikan pemahaman agama kepadanya.

Rasulullah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barang siapa dikehendaki Allah memperoleh kebaikan, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama."

----

Ilmu agama bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjadi cahaya yang membimbing seseorang agar mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang halal dan yang haram, serta menjadikan hidupnya lebih dekat kepada Allah.

Perhatikanlah, Nabi tidak mengatakan "Allah memberinya banyak harta" atau "Allah menjadikannya terkenal", tetapi Allah memberinya pemahaman tentang agama. Sebab, ilmu agama adalah kompas kehidupan. Orang yang cerdas tetapi tidak mengenal petunjuk Allah bisa tersesat dalam menggunakan kecerdasannya. Sebaliknya, orang yang memahami (berusaha memahami) tuntunan agama akan mampu menempatkan ilmu, harta, jabatan, dan seluruh nikmat dunia pada jalan yang benar.

Kondisi yang Kedua, Allah memudahkan dirinya melakukan amal saleh.

Rasulullah bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ

“Ketika Allah berkehendak kepada seorang hamba berupa kebaikan maka Allah akan mempekerjakan Hamba tersebut”

 

Para sahabat bertanya, "Bagaimana Allah mempekerjakannya wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab:

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ

"Allah memberikan taufik kepadanya untuk melakukan amal saleh sebelum ia meninggal."

 

Apa itu taufiq ? kata imam Jurjani dalam kitabnya At-Ta’rifat, Taufiq adalah :

خَلْقُ قُدْرَةِ الطَّاعَةِ عَلى الْعَبْدِ

Diberikannya kemampuan ta’at ibadah oleh Allah kepada seorang hamba.

Jadi Taufiq ini lebih mahal, lebih tinggi daripada Hidayah, karena hidayah adalah kesadaran, akan tetapi taufiq adalah adanya kemampuan yang diberikan Allah Swt.

 

Maka jangan pernah meremehkan kesempatan berbuat baik. Bisa jadi satu langkah menuju masjid, satu ayat yang kita baca, satu sedekah yang kita keluarkan, atau satu nasihat yang kita sampaikan menjadi tanda bahwa Allah sedang menghendaki kebaikan bagi kita.

Begiitulah Allah "mempekerjakan" seorang hamba. Allah memberi kesempatan lisannya untuk berdzikir, tangannya untuk membantu sesama, ilmunya untuk mengajar, hartanya untuk bersedekah, tenaganya untuk melayani umat, dan waktunya dipenuhi amal-amal yang diridhai-Nya.

Karena itu, jangan hanya berdoa agar diberi rezeki yang banyak, tetapi berdoalah agar Allah memberikan taufik untuk mengisi setiap rezeki, profesi, dan usia kita dengan amal saleh. Sebab seseorang belum disebut berhasil hanya karena memiliki pekerjaan, tetapi ia benar-benar beruntung ketika Allah menjadikan pekerjaannya sebagai jalan menuju surga.

Kondisi yang Ketiga, Allah menguji hamba tersebut.

Rasulullah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan menimpakan ujian kepadanya." (HR. Bukhari)

 

Para ulama, di antaranya Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari’-nya, menjelaskan bahwa : “ujian bagi seorang mukmin bukanlah tanda Allah membencinya, tetapi salah satu cara Allah membersihkan dosa, meninggikan derajat, dan menyempurnakan keimanannya”. Seorang hamba yang diuji dengan kesabaran akan memperoleh kedudukan yang mungkin tidak dapat diraih hanya dengan banyaknya amal ibadah.

Maka jangan hanya meminta agar ujian diangkat, tetapi mintalah agar Allah menguatkan hati ketika diuji. Sebab bukan beratnya ujian yang menentukan kemuliaan seseorang, melainkan bagaimana ia tetap beriman, bersabar, dan terus taat di tengah badai ujian itu.

*Ingatlah, emas menjadi perhiasan karena ditempa api, dan seorang mukmin menjadi mulia karena ditempa ujian. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin Allah persiapkan dirinya untuk derajat yang lebih tinggi.

Semoga melalui tulisan singkat ini, kita dapat mengambil ibrah/pelajaran dan Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang diberi pemahaman agama oleh Allah, dekat dengan lingkungan, dan orang-orang yang baik, dimudahkan mendapatkan Taufiq Allah dalam beramal saleh, diberi kesabaran dan kekuatan iman dalam menghadapi setiap ujian dari Allah Swt hingga akhir hayat yawa terpisah darijasad dalam keadaan khusnul khotimah ... Aamin ...

(By : Muhammad Alfithrah Arufa / GPAI Stembaya)

Jumat, 22 Mei 2026

Nikmatnya Berdoa

"Nikmatnya Berdoa"

Berangkat dari sebuah pesan sang "pintunya Ilmu" beliau berpesan :
"Jika Allah mengabulkan doaku, maka Aku bahagia. Tapi jika Allah tidak mengabulkan doaku. Maka aku lebih berbahagia. Karena yang pertama adalah pilihanku sedangkan yang kedua adalah pilihan Allah" (Sayyidina Ali Bin Abi Tholib) 

Pesan istimewa lainnya juga disampaikan oleh Sayyidina Umar binKhottob :
"Aku tak pernah menghawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak. Sebab, setiap kali Allah memgilhamkan hamban-Nya untuk berdoa. Maka Allah sedang berkehendak untuk memberi karunia. Yang aku khawatirkan adalah jika aku tidak berdoa. 

Pesan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidina  Umar bin Khattab sejatinya sedang mengajarkan satu hal yang sangat sulit dilakukan manusia: percaya kepada Allah bukan hanya saat keinginan kita terkabul, tetapi juga saat kenyataan tidak sesuai harapan kita.

Kita sering menganggap bahwa doa yang dikabulkan itu pasti berbentuk “sesuai permintaan”. Padahal para ulama menjelaskan, terkadang Allah mengabulkan doa dengan tiga bentuk:
1. Diberi sesuai yang diminta.
2. Ditunda pada waktu yang lebih tepat.
3. Diganti dengan sesuatu yang lebih baik atau dijauhkan dari keburukan yang tidak kita ketahui.

Karena itu, kalimat Sayyidina Ali bukan sekadar ajakan untuk pasrah, tetapi pendidikan tentang adab seorang hamba. Beliau ingin mengajari bahwa pilihan Allah selalu lebih luas daripada logika manusia. Kita hanya melihat hari ini, sedangkan Allah melihat masa depan. Kita hanya melihat apa yang menyenangkan, sedangkan Allah mengetahui apa yang menyelamatkan.

Kadang seseorang menangis karena gagal mendapatkan sesuatu, padahal jika ia mendapatkannya justru hidupnya akan hancur. Ada orang kecewa tidak diterima kerja, ternyata beberapa bulan kemudian ia mendapat pekerjaan yang lebih berkah. Ada yang sedih karena hubungan cintanya gagal, ternyata Allah sedang menyelamatkannya dari rumah tangga yang penuh luka. Di sinilah iman diuji: apakah kita hanya percaya kepada Allah saat kehendak kita terjadi, atau tetap percaya ketika kehendak Allah berbeda?

Sedangkan pesan Sayyidina Umar lebih dalam lagi. Beliau tidak fokus pada “hasil doa”, tetapi pada “nikmat bisa berdoa”. Sebab tidak semua hati digerakkan untuk mengetuk pintu Allah. Ketika seseorang masih mau berdoa, masih menangis kepada Allah, masih berharap kepada-Nya, itu tanda bahwa hubungan dengan Allah belum terputus.

Imam Ibn Athaillah al-Sakandari pernah berkata: “Jangan sampai lambatnya pemberian Allah membuatmu putus asa, sebab Allah menjamin terkabulnya doa sesuai pilihan-Nya untukmu, bukan sesuai pilihanmu untuk-Nya.”

Kalimat ini sangat ilmiah secara spiritual dan logis secara kehidupan. Sebab manusia sering memaksa waktu, padahal ia tidak mengetahui seluruh keadaan. Anak kecil ingin terus makan permen, tetapi orang tuanya menolak karena tahu dampaknya. Sang anak mengira ditolak, padahal sebenarnya sedang dijaga. Maka bagaimana mungkin ilmu manusia yang terbatas merasa lebih tahu daripada Allah Yang Maha Mengetahui?

Doa juga bukan sekadar alat meminta, tetapi sarana membentuk jiwa. Orang yang rajin berdoa biasanya lebih tenang, lebih optimis, lebih kuat menghadapi masalah, karena ia merasa tidak berjalan sendirian. Sedangkan orang yang berhenti berdoa perlahan akan merasa semuanya ditanggung dirinya sendiri. Di situlah hati mudah stres, kecewa, bahkan putus asa.

Maka jangan ukur keberhasilan doa hanya dari cepat atau lambatnya terkabul. Ukurlah dari seberapa dekat hati kita kepada Allah setelah berdoa.

Kalau hari ini doa kita belum terjawab, jangan buru-buru berkata: “Allah tidak mendengar.”

Bisa jadi Allah sedang berkata: “Aku mendengarmu, tapi Aku sedang menyiapkan waktu terbaik.” Atau: “Aku punya pilihan yang lebih baik daripada yang kau minta.”

Teruslah berdoa. Jangan bosan mengetuk pintu langit. Karena orang yang berhenti berdoa bukan berarti kuat, tetapi bisa jadi ia sudah kehilangan harapan kepada Tuhannya.

Mulai malam ini, biasakan satu hal: jangan hanya berdoa saat butuh, tetapi berdoalah karena kita memang hamba. Dan setelah berdoa, latih hati untuk berkata:
“Ya Allah, jika ini baik menurut-Mu, mudahkanlah. Jika tidak baik, gantilah dengan yang lebih berkah dan jadikan hatiku ridha atas pilihan-Mu.”

Wallahu A'lam
Alfithrah

Minggu, 26 April 2026

Buku Atau Batu ?

 Buku Atau Batu ?

Anak-anakku semuanya, ada sebuah pepatah kuno dari Tiongkok yang bunyinya sangat sederhana, namun memiliki makna yang sangat tajam bagi masa depan kalian,  "Jika kamu malas mengangkat buku, maka kelak kamu harus kuat mengangkat batu."

Mungkin saat ini kalian merasa bahwa tas sekolah yang berisi buku-buku pelajaran itu terasa berat. Membaca berlembar-lembar teori, menghafal rumus, atau mengerjakan tugas di rumah terasa seperti beban yang ingin segera kalian letakkan.

Namun, pahamilah satu hal, buku di sini bukan sekadar kertas dan tinta, melainkan simbol dari ilmu pengetahuan, keterampilan, dan wawasan. Jika hari ini kalian memilih untuk menyerah pada rasa malas, menolak untuk "mengangkat buku" atau mengasah otak, maka dunia tidak akan memberikan kalian banyak pilihan di masa depan.

"Mengangkat batu" adalah simbol dari kerasnya perjuangan hidup bagi mereka yang tidak membekali diri dengan ilmu. Ketika kalian tidak memiliki keahlian atau pendidikan yang mumpuni, kalian akan terpaksa mengandalkan tenaga fisik semata untuk bertahan hidup, bekerja di bawah terik matahari, melakukan pekerjaan kasar yang melelahkan, dengan upah yang mungkin hanya cukup untuk makan sehari.

Mereka yang mau bersusah payah melatih otaknya hari ini, akan memiliki kendali atas hidupnya besok. Mereka yang memanjakan tubuhnya dengan kemalasan hari ini, akan dipaksa oleh keadaan untuk bekerja lebih keras daripada orang lain di masa depan.

Mungkin ada yang berargumen, "Tapi Pak, banyak orang sukses yang tidak sekolah tinggi." Ingat, meskipun mereka tidak "mengangkat buku" di sekolah formal, mereka "mengangkat buku" kehidupan. Mereka belajar lebih keras, membaca peluang lebih tajam, dan bekerja lebih disiplin daripada orang rata-rata. Tidak ada kesuksesan yang datang tanpa "beban" yang harus dipikul.

Oleh karena itu, jangan mengeluh saat guru memberikan tugas. Jangan menggerutu saat harus belajar untuk ujian. Semua itu adalah latihan otot mental kalian. Semakin banyak buku yang kalian "angkat" hari ini, semakin ringan beban hidup yang akan kalian pikul di masa depan.

Gunakan waktu kalian di sekolah ini untuk menempa diri. Jadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan beban. Karena pada akhirnya, ilmu pengetahuanlah yang akan membebaskan kalian dari beratnya "mengangkat batu" di masa depan.

Demikian amanat yang dapat Bapak sampaikan pada pagi hari ini. Semoga kalian menjadi generasi yang lebih memilih lelah karena belajar, daripada lelah karena kerasnya tekanan hidup tanpa persiapan. 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber : FB Wildan Edu 

Kamis, 16 April 2026

3 Tanda Kemenangan di Bulan Syawal

3 Tanda Kemenangan di Bulan Syawal
(Muhammad Alfithrah Arufa, M.Pd.I)*



Alhamdulillah Wa Syukru ‘ala ni’amillah , Allah telah lembutkan hati kita, Allah ringankan langkah kita, Allah berikan kesempatan pada kita untuk bertemu Bulan syawal, bulan kembali pada fitri tahun 1447 H ini. Melalui momentum mulia ini, kita jangan lupa untuk senantiasa meningkatkan takwa kita pada Allah Swt dengan tetap menjalankan segala perintahNya dan menjauhi larang-laranganNya. Setiap pribadi kita telah merasakan halawatul iman ; manisnya, nikmatnya dan indahnya iman selama Ramadhan, dan tentu kita telah memiliki pengalaman pengalaman ruhani yang semakin mendekatkan diri kita pada Allah Swt. Menandai akhir Ramadhan yang Mulia itu, semua ummat Islam melantunkan kalimat-kalimat takbir, tahmid , tasbih dan tahlil yang membahana di angkasa raya bagaikan sebuah simphoni yang indah, yang mampu menggetarkan qolbu, menggelorakan rasa dan raga sukma sehingga menyadarkan betapa kecilnya diri kita dihadapan Allah Swt dan betapa Maha Besarnya Allah Swt.

Setidaknya ada 3 indikator seseorang dikatakan berhasil dari ibadah Ramadhan yang dia tunaikan, apakah ibadah kita diterima, berhasil, sukses atau tidak?, maka jangan hanya dilihat ketika Ramadhannya, kenapa? Kalau seseorang di Ramadhan meningkatkan ketaatannya, meningkatkan ketakwaannya, rasannya itu menjadi hal yang biasa, maka para ulama menyampaikan, jika ingin melihat kesuksesan Ramadhan seseorang, maka lihat bagimana kehidupannya setelah Ramadhan, apakah kita masuk dengan kategori 3 hal ini ? 

Pertama, Setelah Ramadhan meningkat kehidupannya pada sisi spiritual. 
Selama ramadhan kita berharap mendapatkan gelar la’alakum tattaqun (menjadi oang yang bertaqwa), maka ciri Ramadhan yang baik spriritualitasnya adalah : 
 a. Setelah ramadhan dia semakit dekat pada Allah, 
 b. Setelah Ramadhan dia semakin taat pada Allah, 
 c. Setelah ramadhan dia semakin mengikatkan kehidupan dengan berorientasi “Allah dulu, Allah lagi, lagi-lagi Allah, Allah terus” hidupnya bukan hanya untuk kebahagiaan dunia tapi dia berfikir bagaimana agar kemudian setelah ramadhan dia menjadi pribadi yang makin dicintai dan disayang oleh Allah Swt. Hal ini sebagaima Firman Allah dalam QS. Ali Imron : 133  
Keluarga Imran (3:133) 

۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ١٣٣

Artinya : Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Perhatikan dengan iman, orang yang menigkat spiritualnya setelah ramadhan ditunaikan, dia bergegas untuk menggapai ampunan Allah dan surgaNya Allah. 

Siapakah orang yang paling rugi saat dia bertemu Ramadhan ? siapakah yang paling rugi dia berpisah dengan ramadhan ? Orang yang paling rugi saat bertemu Ramadhan adalah orang yang lalai ibadah ketika bulan Ramadhan, dan yang paling rugi saat berpisah dengan Ramadhan adalah orang yang setelah Ramadhan dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah Swt padahal dia sudah berjumpa dengan Ramadhan. 
Maka dari itu, berharaplah kepada Allah agar kita diampuni dosa-dosanya, dan itulah orang yang paling beruntung dalam hidupnya, maka wajar ketika seseorang bertemu dengan awal Syawal dia masuk dalam kategori golongan minal ‘aidin wal faaizin, apa artinya ? jangan disalah artikan, bukan mohon maaf lahir dan bathin. Bukan. Artinya semoga Allah masukkan kita menjadi orang-orang yang ‘Aidin ; yang kembali, kembali kemana ? kembali kepada kesucian, kembali kepada kefitrahan, kembali kepada kebersihan, kenapa disebut suci, bersih, fitrah, karena orang yang berhasil ibadah Ramadhannya kemudian dia bertemu 1 Syawal, seperti seorang bayi yang keluar dari rahim ibunya, apa maknanya, Allah hapuskan dosa-dosanya.

Wal Faaizin, dan semoga kita masuk golongan orang yang menang, kenapa disebut menang ? ya.. karena selama 1 bulan dia perang MELAWAN HAWA NAFSU, selama 1 bulan dia perang melawan hal-hal buruk dalam hidupnya dan berhasil dia tunaikan. Maka orang yang berhasil ibadah Ramadhannya setelah Ramadhan dia bertemu dengan bulan Syawal, apa itu syawal ? Syawal itu artinya peningkatan, Ramadhan itu pembakaran, apa maknanaya, berarti selama Ramadhan dosa kita dibakar, dosa kita dibersihkan, kita ditempah dalam kawah candra di muka, sekolah selama 1 bulan Ramadhan, maka nanti di bulan syawal meningkat Imannya, meningkat ketaqwaannya, apa cirinya :
  1. Nanti setelah bertemu syawal dia lanjutkan puasanya dengan puasa sunnah, 
  2. Bacaan Qur’an yang dia baca dalam Ramadhan dia lanjutkan ketika bulan Syawal dan seterusnya 
  3. Sholat Qiyamul Lail yang dia tunaikan di bulan Ramadhan maka dia lanjutkan di luar Ramadhan, Maka disebutnya Syawal (peningkatan)
Ulama mengingatkan : Kun Rabbaniyyan wala Takun Ramadhaniyyan (Jadilah engkau hamba Rabb, bukan Hamba Ramadhan) maksudnya, jangan hanya taat ketika Ramadhan saja, justru ujian yang sebenarnya ada di 11 bulan ke depan setelah Ramadhan, jadi indikator pertama berhasilnya Ramadhannya seseorang adalah meningkat spiritualnya, dia makin dekat dengan Allah, dia makin taat pada Allah dan dia menjadikan orientasi hidupnya karena Allah, untuk Allah di Jalan Allah. 

Ketika dia bekerja orientasinya bukan masalah gaji besar dan kecil, ketika bisnis bukan masalah omset banyak atau sedikit, tidak, kenapa ? bukan itu ukuranya, tapi orang yang meningkat spiritualnya ketika dia bekerja dia pilah pilih, ini haram atau tidak, ketika bisnis, ini berkah atau tidak? Ini baik tidak ya? Atau jangan-jangan terprosot ke dalam Api neraka. Itu yang menjadi pertimbangannya dan indikator spiritual semakin terbukti setelah dia berhasil Ramadhannya.  

Kedua, Meningkat nilai-nilai sosialnya Apa maksudnya, Setelah Ramadhan dia menjadi pribadi yang dermawan dalam hidupnya, itulah ciri orang yang bertaqwa disebutkan dalam QS. Ali imron : 134  

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ ١٣٤

Artinya : (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

ما نقصت صدقة من المال
“Tidak akan berkurang shodaqoh dengan harta”
Ada filosofi terimakasih artinya : seberapa banyak apa yang ingin kita terima tergantung yang kita kasih, maka orang yang ahli sedekah, sedekahnya akan melapangkan alam kubur, sedekahnya meringakan hisab di alam kubur, sedekahnya meringankan sakaratul maut, dia dicintai Allah, dicintai manusia, dekat dengan surga, bahkan mengundang doa malaikat dalam hidupnya. 

َرَبِّي لَوْلَا اَخَّرْتَنِى إِلَى أَجَلٍ قَرِيْبٍ فَأَصَدَّق

Banyak Orang yang sudah meninggal di alam kubur, minta hidup kembali, apa permintaannya ? Ya Allah hidupkan aku walaupun sebentar saja, tunda kematianku walau sebentar, seandainya engkau berikan kesempatan hidup kembali, aku ingin menjadi orang yang ahli shodaqoh dan menjadi orang sholeh, kenapa mereka minta jadi ahli shodaqoh, bukan ahli sholat, bukan ahli puasa, bukan ahli haji bukan yang lainnya, kenapa? Karena shodaqoh itulah yang bisa menjadikan dirinya mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah Swt. 
Nabi Bersabda : 

والله فى عون العبد  ما كان العبد فى عون أخيه

“Allah akan menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya”. catat baik-baik ! jika Ingin ditolong Allah tolong orang lain, jika ingin dibantu Allah, bantulah orang lain, sedekaah tak harus harta, bahkan tabassumuka fii wajhi akhika laka shodaqoh, menyingkirkan duri ditengah jalan itu shodaqoh, buang sampah pada tempatnya itu shodaqoh, bahkan semua kebaikan-kebaikan yang kita tunaikan itu bermakna shodaqoh di hadapan Allah Swt. Tapi... Jika diberi kemampuan Harta maka infaqlah dengan harta

Ketiga, Menjadi pribadi yang memperbaiki nilai emosional dalam dirinya 
Cirinya : 1) lembut hatinya, 2) tenang dalam kehidupannya, Maka pada bulan syawal ini, mari sucikan hati bersihkan diri, lembutkan kehidupan kita dengan menghadirkan hati yang bersih, seorang anak jika masih punya orang tua minta maaflah pada orang tua kita, kenapa ? Ada satu kisah, suatu saat Rasulullah naik ke mimbar dan mengatakan Aamiin 3x, kemudian sahabat bertanya kenapa engkau mengatakan Aamin 3x, nabi mejawab wahai sahabat tadi ada malaikat jibril datang padaku, seraya berdoa dan aku aminkan, apa doa malaikat jibril : 
  1. Yaa Allah jangan engkau terima amal ibadah puasanya seorang hamba yang bertemu Ramadhan kemudian berpisah dengan Ramadhan tapi dia tidak bertaubat sehingga dosanya tidak diampuni oleh Allah Swt . kata Nabi Aamiin 
  2. Yaa Allah jangan engkau terima amal ibadah puasa Ramadhan seorang hamba jika disebutkan nama Nabi Muhammad Saw tapi mereka tidak membacakan sholawat kepadamu, maka nabi mengatakan Aamiin 
  3. Yaa Allah jangan engkau terima amal ibadah puasa Ramadhan seorang hamba jika ada seorang Anak yang pernah durhaka pada orang tuanya dan mereka belum sempat minta maaf pada orang tuanya bahkan ketika hari raya idul fitri, hari yang suci, mereka tidak minta maaf pada orang tuanya, maka kata Jiblir jangan diterima ibadah puasa Ramadhannya, kemudian nabi mengatakan Aamiin... 
Kalau dengan datangnya Ramadhan, datangnya Idul fitri tidak mampu membuat kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua kita, tidak mampu menjadikan kita anak yang bisa memuliakan orang tua kita, butuh bulan apa lagi yang harus Allah hadirkan kepada kita, butuh hari suci seperti apalagi yang Allah datangkan pada kita kalau kita seorang anak belum bisa meminta maaf pada orang tua kita, 
Maka mari kita jadikan momentum idul fitri ini untuk membersihkan hati, sucikan hati kita, jika hari ini kesulitan datang kepada kita, ujian bertubi-tubi datang pada kita, coba kita periksa mungkin karena ada kesalah diri kita pada orangtua yang tidak mengantarkan ridhonya Allah dalam kehidupan, maka Nabi berkata : Ridhollah fii ridho walidain, wa sukhtullah fii sukhtil walidain

Maka yang masih diberikan anugerah orang taunya masih hidup, pegang erat-erat, jaga baik-baik, jika masih terjangkau kehadirannya temui orang tua kita, pegang tangannya, peluk tubuhnya, cium pipi kiri kanannya, minta maaf sama orang tua kita, lantas bagaimana untuk yang sudah tiada orang tuanya? ingat baik-baik : 
Ada 3 hal yang dirindukan orang tua di alam kuburnya dari anaknya yang masih hidup : 
  1. Doa untuk almarhum-almarhumah 
  2. kebaikan orang tua dilanjutkan anak-anaknya dan sambung silaturahmi kepada kerabatnya 
  3. sedekah dari anaknya yang diniatkan untuk orang tuanya    
Bisa jadi hari ini kita sukses, kita berhasil, mungkin usaha kita hanya 1% tapi sisanya adalah terkabulnya doa ayah dan ibu kita, maka hadirin BERSYUKUR bagi yang sudah memanfaatkan kesempatan minta maaf kepada orang tua, kata nabi Celakalah, Meyesallah 3X mereka yang masih punya orang tua tapi dia tidak bisa masuk surga, kenapa? karena dia tidak bisa berbuat baik pada orang tuanya.

Maka emosianal kita harus terlatih, Suami istri saling minta maaf munkin selama berumah tangga banyak kesalahan diantara kita, mungkin selama berumah tangga kita masih jauh dari Allah Swt. Ayo sucikan hati bersihkan diri…!

Suami yang belum bisa menjadi suami yang baik maka minta maaf pada istri, istri yang belum bisa menjadi istiri yang baik maka minta maaf pada suami, orang tua kepada anak juga sama saling minta maaf, mungkin selama ini belum bisa menjadi orang tua yang baik, maka bersihkan hati ini, begitupun pada tetangga kita, kerabat kita, sahabat kita Sungguh orang yang diterima ibadah ramadhannya adalah yang paling baik mengelola emosionalnya, apa cirinya : Walkadzimina ghaidza wal ‘afina ‘anin Naas (menjadi orang yang pandai menahan marah dan mudah memaafkan kesalahan orang lain) 
Kesimpulan 3 tanda kemenangan di hari yang fitri adalah : 
1. Setelah Ramadhan meningkat kehidupannya pada sisi spiritual. 
2. Meningkat nilai-nilai sosialnya 
3. Menjadi pribadi yang memperbaiki nilai emosional dalam dirinya 

Semoga setelah ini kita bisa menjadi pribadi yang makin taat bertakwa pada Allah dan kita menjadi pribadi yang makin lembut, santun dan berakhlkul karimah… Aamiin. 

Semoga bermanfaat
Wallahu A'lam Bishshowab  
  

* Guru PAI SMKN 5 Surabaya

Kamis, 22 Agustus 2024

KHUTBAH : 2 RESEP NABI MENUJU SURGA ALLAH SWT

 2 RESEP NABI MENUJU SURGA ALLAH

(Oleh : Muhammad Alfithrah Arufa)

اَلْحَمْدُ لله، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ اَوْضَحَ لَنَا سَبِيْلَ الرَّشَادْ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ رَبُّ الْاَرَضِيْنَ وَالسَّمَوَاتِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا محمدا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ الْعِبَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَتَرَحَّمْ وَتَحَنَّنْ عَلَى سَيِّدِنَا محمد، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ. اَمَّا بَعْد   فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قال الله تعالى في كتابه الكريم : ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ ....   و قال رسول الله : إِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً وَلَمْ أُبْعَثُ لَعَّانًا

 

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Panjatan puja serta puji syukur kehadirat Allah Swt, pada siang hari ini kita diberikan kekuatan untuk melangkahkan kaki kita bersama, mangayun langkah untuk memenuhi undangan Allah Swt, bernaung dibawah naungan rumah Allah, menghadiri undangan Allah di tengah-tengah (mungkin masih ada) saudara2 kita sesama muslim yang mengaku dirinya sebagai ummat Nabi Muhammad Saw tapi mereka tidak bisa membedakan mana suara adzan, dan mana suara nyanyian, dan bahkan banyak diantara mreka yang lebih menikmati suara nyanyian daripada suara adzan.

Di tengah manusia yang mengaku dirinya Muslim, akan tetapi tidak dapat membedakan mana undagan manusia dan mana undangan pencipta manusia, bahkan banyak diantara mereka yang lebih memenuhi undangan manusia dari pada undangan pencipta manusia.

 

Di tengah-tengah manusia yang sudah tidak bisa membedakan mana itu masjid dan mana itu rumah ataupun istana, bahkan banyak di anatara meraka yang lebih bangga memasuki istana akan tetapi dia merasa biasa-biasa saa ketika memasuki rumah Allah, yaitu Masjid.

 

Di tengah ummat yang sedemikian rupa kita diberikan kemampuan dan kekuatan oleh Allah dan ini merupakan kenikmatan yang sangat besar bagi kita bersama, dimudahkan kaki kita untuk mengayunkan langkah kaki semata-mata karena taufik dan hidayah dari Allah Swt, sehingga duduklah kita bersama di rumah yang mulia ini untuk memenuhi undangan dzat yang Maha Mulia.

 

Semoga kenikmatan ini mampu kita syukuri sehingga akan ditambah oleh Allah Swt dengan kenikmatan-kenikmatan yang lain dan kita berlindung kepada Allah semoga kita tidak dijadikan manusia yang mengkufuri nikmat sehingga menjadi sebab nikmat itu dicabut oleh Allah Swt

 

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Di dalam sebuah hadist Rasulullah Saw, disabdakan bahwa: “ada seseorang yang datang kepada Rasulullah Saw, beliau ditanya tentang amal ibadah apakah yang banyak menghantarkan manusia menuju surganya Allah Swt.

سُئِلَ رسلُ اللهِ صلى الله عليه و سلمَ عَنْ اَكْثَرِ مَا يَدْخُلُ النَّاسُ الجَنَّةَ قاال : تـقوى الله وحُسنُ الْـخُلُق

Beliau menjawab dengan jawaban yang singkat padat dan berisi )dan itulah kebiasaan dan keistimewaan Rasulullah Saw – Jawami’ul kalim – beliau berbicara ddngan ucapan yang singkat tapi memiliki makna yang luar biasa(, apa jawaban Nabi ? resep yang menghantarkan manusia menuju surgaNya Allah Swt, nabi menjawab 2  (ada dua) : Yang pertama, Taqwallah, yang kedua chusnul khuluq,

 

Yang pertama, kata nabi yang menghantarkan manusia ke surga adalah bertaqwa kepada Allah Swt, melaksankan perintah Allah, menjauhi larangan Allah, mengikuti jejak dan langkah dari Rasulullah Saw. Ketaqwaan yang meliputi seluruh aspek kehidupan kita, ketaqwaan yang menghiasi hari-hari kita dari sejak kita bangun dari tidur sampai kita tidur kembali, bukan hanya ketaqwaan yang identik dengan kopyah atau sarung, bukan ketakwaan yang hanya identek dengan masjid atapun mushollah, tapi ketakwaan yang menyeluruh dalam kehidupan kita baik kita di kantor ataupun kita di pasar, ataupun kita di ladang, di manapun saja berada, ketakwaan yang menghiasa kehidupan kita dan itulah yang difirmankan oleh Allah Swt

﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ﴾

Wahai orang yang beriman bertqwalah kalian dengan sebenar-benarnya taqwa (tidak hanya taqwa pada kondisi tertentu, tidak hanya bertaqwa pada tempat-tempat tertentu, ketika dia ke masjid dia bagaikan orang bertaqwa tapi ketika dia keluar dari masjid dia campakkan ketaqwaannya, tidak ketika dia menggunakan peci atau sarung dia menunjukkan dia bertaqwa tapi ketika dia buka kopyah dan sarungnya dia campakkan ketaqwaannya). Tidak... ketaqwaan yang menyeluruh.

Ketika kita di masjid kita tunjukkan kita bertaqwa, ketika kita di kantor kita tunjukkan kita bertaqwa dengan memegang amanat, seberapa tinggi pangkatnya firaun, dia tercampakkan ke dalam posisi yang paling rendah, apa sebabnya? karena dia tidak bertaqwa pada Allah Swt. Seberapa banyak hartanya qorun akan tetapi cerita buruknya langgeng sampai hari kiamat, apa sebabnya? karena tidak bertaqwa kepada Allah. Begitupula berapa pandai dan cendikianya iblis, akan tetap dilaknat sampai hari kiamat, apa sebabnya?, karena tidak mau bertaqwa pada Allah swt.

 

Akan tetapi sebaliknya walaupun dia tidak berpangkat, walapun dia strata ekonomi sangat rendah, walaupun dia kalangan orang awwam, tapi dia laksanakan ketaqwaan dengan sebenar-benarnya, hakikatnya dialah orang yang agung dihadapan Allah Swt.

 

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

Sayyidina wa imamina Ali bin abi tholib Karammallahu wajhah, beliau mengatakan dalam sebuah nasihat beliau  (dengan kecerdasannya, dengan nasab keturunannya, dengan keberaniannya – seorang prajurit yang tidak pernah mundur – dengan  ibadahnya) apa kata sayyidina Ali :

كَفَانِى عِزًّا إِذَا كُنْتَ لِي رَبًّا وَ كَفَانِي فَخْرًا إذَا كُنْتُ لَكَ عَبْدًا

Cukup bagiku kemuliaan bukan karena pangkatnya, bukan karena kecerdasannya, bukan karena nasab dan keturunannya, ketika engkau ya Allah sebagai Tuhanku, dan cukup bagiku kebangaan ketika aku bisa mengabdi kepadaMu Ya Allah (dengan melaksanakan perintah dan menjauhi laranganMu).

Itulah kebanggan.

Begitu pula sayyina Umar ibnul khotthob ra. beliau mengatakan :

نَحْنُ قَوْمٌ اَعَزَّنَا اللهُ بالاسلامِ فإذا ابْتَغَيْنَا الْعِزَّةَ بِغَيِرِهِ اَذَلَّنَا الله

Kami adalah komunitas manusia yang dimuliakan oleh Allah dengan memeluk agama Islam bukan karena yang lain, apabila kami mencari kemulian akan tetapi kami mencampakkan agama kami, maka kami akan dihinakan oleh Allah (menjadi manusia yang hina di dunia lebih-lebih kelak di hadapan Allah Swt).

 

Yang kedua, chunul khuluq, berbudi pekerti luhur, memiliki akhlak yang mulia, berinteraksi dengan sesama manusia dengan interaksi yang baik. dan itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sang suri tauladan kita bersama, kita lihat agama Islam dilandasi dengan pondasi yang kuat yaitu pondasi budi pekerti yang luhur, pondasi akhlakul karimah,  pondasi perbuatan yang baik prangai yang baik, Nabi Muhammad yang memiliki budi pekerti luhur, dngan dasar budi pekeri yang luhur itulah sehingga Nabi diterima kawan ataupun lawan sampai kita berada 14 abad sesudah beliau tetap berada di bawah cahaya Akhlaq Nabi Muhammad Saw.

Sehingga sahabat Abdullah Bin Abbas beliau berkata dalam sebuah nasihatnya :

لِكُلِّ بُنْيَانٍ اَسَاسٌ وَ اَسَاسُ الْاِسْلاَمِ حُسْنُ الْخُلُقِ

“Setiap bangunan pasti memiliki pondasi (ketika pondasi kuat bagunan akan kokoh, ketika pondasi rapuh bangunan akan runtuh) apakah pondasi islam ? budi pekerti yang baik, interaksi dengan ssama dengan insteraksi yang baik.

Sehingga Islam akan kokoh di tengah-tengah masyarakat, hidup di manapun saja, kita akan menjadi orang yang baik di hadapan kawan ataupun dihadapan lawan.

 

Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah

2 resep inilah yang banyak menuntun manusia menuju Surganya Allah Swt. Yang pertama bertaqwa kepada Allah sebagai lambang hubungan vertikal kita pada Allah atau yang dikenal dengan Hablum minallah – mari kita jaga sholat kita, kita jaga dzikir kita, kita jaga puasa kita dengan baik sebagai lambang hubungan individual vertical kita pada Allah Swt. Dan yang kedua chusnul khuluq (berbudi pekerti luhur) sebagai lambang hubungan social horizontal pada sesama manusia (hablum Minannas) berinteraksi dengan baik kepada sesama manusia, kepada siapapun saja, maka dengan 2 modal ini akan menuntun kita bersama menuju surganya Allah Swt, dengan dua modal ini akan menyelamatkan kita daripada bencana dan adzabnya Allah.

Allah berfirman :

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ .....

Akan ditimpakan kepada manusia kehinaan/ khancuran/ kebinasaan dimanapun berada, kecuali dengan (rumus) berhubungan baik dengan Allah dan hubungan baik kepada Manusia.

Semoga kita dijadikan manusia yang bisa mengaku diri kita sebagai seorng hamba sehingga kita mampu menghambakan diri dengan sebenarnya kepada Allah Swt dan kita sadar bahwa kita adalah makhluq sosial yang memiliki ketergantungan pada sesama. Sehingga kita dapat berinteraksi baik pada sesama manusianya. Amin Allahumma Amin...

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ  كَلَامُ اللهِ الْمَلِكُ الْمَنَّانُ وَبِالْقَوْلِ يَهْتَدُ الْمُرْتَضُوْنَ . مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسآءَ فَعَلَيْهَا وَمَارَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيْدِ . بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ اْلأٓيَةِ    وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

خطبة الثانى

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا   أَمَّا بَعْدُ.

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينْ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Jumat, 14 Oktober 2022

GURU PAI SMK SE KOTA SURABAYA NGAJI DESIMINASI IKM DAN SOSIALISASI PAI ON THE SPOT BERSAMA PAIS KEMENAG KOTA SURABAYA

Surabaya, 14 Oktober 2022 - Kegiatan yang digawangi oleh MGMP PAI SMK kota surabaya ini dilaksanakan di Aula SMK Negeri 1 Surabaya, acara ini dihadiri oleh Kasi PAIS Kemenag kota Surabaya – Bpk Drs. H. Arifin, M.Pd, Pengawas Guru PAI SMK Surbaya - Bpk Farhan, M.Pd dan Ibu Dra. Dien Rahmah, M.Pd.I, selain itu, turut hadir Admin Operator PAIS On the Spot– Bpk. Nur Hadi, SE. serta Ketua MGMP -Ust.   Muchamad Sofyan Hadi, M.Pd.I.

Acara dibuka dengan Lantunan Ayat Suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ust. Abdul Muiz, M.Pd dilanjutkan dengan pembacaan sholawat nabi dan mahallul qiyam oleh tim Banjari As-Sa’idiyyah SMKN 1 Surabaya.

Sambutan-sambutan dimulai, pertama adalah Sambutan ketua MGMP PAI SMK Kota Surabaya. Dalam Sambutannya, ketua MGMP menyatakan bahwa ini adalah sambutan pertama beliau  pasca revormasi pengurus MGMP kemaren. Ust. Sofyan mengungkapkan bahwa Susunan pengurusan 90% masih tetap dan akan segera disampaikan pada kasi PAIS. Dalam hal fungsi MGMP, beliau menyampaikan bahwa MGMP merupakan wasilah (penyambung), pengurus MGMP niatnya untuk khidmah saja. Dalam pelaksanaannya, ketua MGMP PAI menginginkan Bpk/ibu Guru PAI SMK Surabaya dapat merespon dengan baik segala informasi (dari PAIS ke MGMP) demi lancarnya kebutuhan dan profesionalisme semua guru PAI SMK.

Selanjutnya, KASI PAIS Kemenag Kota Surabaya juga memberikan amunisi motivasi untuk guru PAI SMK Surabaya. Dalam muqoddimahnya beliau menyebut guru PAI sebagai “pembuka pintu surga”. Hal ini didasari oleh betapa luar biasanya peran dan perjuangan guru PAI terhadap capaian para peserta didik bukan hanya urusan dunia melainkan tembus pada kebutuhan akhiratnya, sembari memberikan contoh pada penampilan Tim banjar “As-Sa’idiyyah” SMKN 1 Surabaya yang tampil dengan luar biasa mengantarkan iklim cinta pada Nabi Muhammad Saw terasa kuat dalam ruangan Aula yang digunakan, “ini anak-anak bisa begini (Sholawatan) tergantung kiyainya di sekolah” tegas Drs. H. Arifin, M.Pd.

Bapak Kasi PAIS dengan murah senyumnya memberikan gambaran bahwa Desiminasi yang didapatkan di acara ini tidak boleh berhenti sampai di sini saja, akan tetapi harus terus didesiminasikan pada yang lainnya, artinya berkelanjutan sehingga Guru PAI tidak sampai telat informasi. Bisa dibayangkan, sebab keterlambatan informasi sama halnya menciptakan keterlambatan baru lainnya pada penginputan kebutuhan akun emis dan siaga guru sendiri. Kasi PAIS menginfokan bahwa saat ini sedang digalakkan percepatan-percepatan pendataan guru PAI, maka dari itu guru PAI harus selalu membuka info web PPKB (Program Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan). Guru sudah harus mandiri, Jangan sampai data hanya dipasrahkan ke operator saja (tanpa pengecekan berkala), karena seharusnya sekarang semua guru PAI sudah bisa dengan teknologinya sendiri dan mandiri.

Kasi PAIS menutup sambutannya dengan beberapa harapan, semoga akan ada peningkatan prestasi  PAIS di Kota Surabaya, diantaranya  keikutsertaan lomba ceris yang masih sangat minim prestasinya. Diharapkan pula lahir penulis-penulis dari kalangan guru PAI. "Anak-Anak kita adalah ladang untuk berjuang dan mendapat manfaat baik dunia maupu akhiratnya" tegas beliau. Disamping itu, beliau juga mengharapkan diadakannya koordinasi PAIS dan MGMP secara kontinu, misal ; pertemuan 2 bulan atau 3 bulan sekali.

Materi yang tidak kalah pentingnya disampaikan bapak operator (Admin) PAIS on The Spot. Informasi ini disampaikan dengan singkat dan detail bahkan diakhiri dengan praktek langusng menggunakan aplikasi PAIS On The Spot melalui gaget maisng-masing guru PAI yang hadir saat itu. Beberapa hal yang disampaikan oleh Bpk. Nur Hadi, SE selaku admin PAIS diantaranya adalah :  

1.    Pahami bahwa Alur dapodik, emis dan siaga bersambung

2.    Ilustrasi satu kasus, misal ada pertanyaan : untuk 150 siswa butuh berapa guru PAI ? Jawab : hanya butuh 1 guru, lalu bagaimana jika ada 2 atau lebih guru di sekolah tersebut ?.  Terkait kasus seperti  ini emis sekolah mengambil peran penting, maka harus sering ditinjau karena sangat berpengaruh pada data legalitas guru yang ada di sekolah tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

a)    Silahkan biasakan cek dulu Emis sekolah , caranya : masukkan User dengan nomor pokok sekolah, dan passwordnya sama seperti usernya

b)    Data emis sekolah sangat penting karena berkaitan langsuung dengan data keberadaan guru, termasuk juga data fasilitas sekolah seperti  keberadaan masjid/musholla dan lain sebaginya, yang juga berdampak pada turunnya bantuan sarpras jika ada anggaran bantuan yang akan diturunkan.

3.    Siaga hanya aplikasi untuk mecairkan PPG

4.    Jika tidak ada singkronisasi antara data Dapodik, Emis dan Siaga maka akan berpengaruh pada pencairan sertifikasi itu juga.

5.    Update Info TPG (per 15 Oktober 2022) untuk PNS sudah masuk bidang keuangan, untuk yang swasta sedang menunggu tarikan dari kanwil kemenag.

6.    Singkron itu ada 2 macam :

a)    Singkron dengan sekolah

b)    Singkron dengan Pusdatim

7.    Setiap perubahan yg dialami segera diganti pada data sebagai tanda keberadaan (jangan ditunda-tunda)

8.    PAIS on the spot ada 2  yakni : melalui WA dan Website,

9.    Melalui WA simpan nomornya 083830256778 (PAIS on the spot)

10. Malalui Link web ketik s.id/paiskotasurabaya pada google Chrome atau browser lainnya nanti akan muncur tampilan website yang poin-poin fiturnya sama layanannya dengan WA PAIS on the spot

11. PERHATIAN ! Setiap selesai pengisian data di emis jangan lupa pastikan klik AJUKAN 

Usai pemaparan detail terkait hajat profesionalisme guru berdasarkan data, Bpk. Farhan, M.Pd selaku Pengawas PAI memberikan resep konstruktif menjadi guru PAI yang profesional, agar nampak bahwa guru profesional itu bukan hanya baik dan tertib dalam administrasi data saja, melainkan juga baik dalam pengaplikasian sehari-hari sebagai pribadi guru. Bpk Farhan menyampaikan bahwasanya  guru harus mampu berfikir abstrak dan memiliki komitmen yang tinggi, Guru adalah sosok yang memiliki kelengkapan pengetahuan kognitif, afektif dan psikomotorik, dari sini beliau menyimpulkan bahwa “guru profesional adalah guru yang memiliki kemampuan yang mumpuni dalam melaksanakan tugas jabatan guru”

Diakhir pemaparannya, beliau memberikan 6  Kompetensi menjadi Guru PAI yakni  : 1) Pedagogik – 2) kepribadian – 3) Profesional – 4) Sosial – 5) Spiritual – 6) leadership.

Penyampaian materi pada acara ini diakhir oleh pemaparan konsep desiminasi IKM dari  Pengawas PAI, Ibu Dra. Dien Rahmah, M.Pd.I. Begitu banyak nasihat dan motivasi praktis yang beliau sampaikan pada guru-guru PAI saat itu, pada dasarnya beliau menekankan bahwa pentingnya keteladanan dari guru-guru PAI sebagai landasan utama menjadi seorang pendidik, beberapa konsep IKM yang sudah dikaji di sekolah masing-masing –bisa dikatakan– tidak jauh berbeda dengan kurikulum sebelumnya, hanya pergantian beberapa istilah dan penyesuaian-penyesuian yang perlu dikaji secara bertahap. Dalam penerapan kurikulum PAI sangat dibutuhkan kedisiplinan, kejujuran, kesabaran dan keikhlasan untuk melahirkkan genarasi-generasi penerus yang berkualitas iman dan akhlakhya. Beliau juga mengajak guru-guru PAI untuk berpikir tentang banyaknya kasus siswi di surabaya yang hamil di luar nikah, begitu pula dengan kasus degradsi akhlak pelajar belakangan ini. Peran GPAI menjadi dipertanyakan karena terlibat dalam membentengi siswa-siswinya dari bahaya perzinahan yang pada dasarnya hal ini telah masuk dalam materi pelajaran PAI selam ini. harapan beliau para guru PAI dapat menjadi Guru yang mau mendengar keluhan siswa/siswinya sehingga dapat menjadi bagian yang memberi solusi pada anak-anak didiknya. Kedekatan ini sangat diperlukan sehingga peseta didik mejadikan Guru PAI sebagai sosok yang bisa diteladani. “Saling tebar kebaikan” ungkap beliau diakhir materinya.

Agendapun berahkir dengan salam penutup dari MC handal dari MGMP PAI SMK Kota Surabaya – Ibu Yayuk, S.Ag.  Semoga agenda kegiatan ini bermanfaat dan senantiasa mendapat rahmat dan ridho dari Allah Swt. Aamiin [alf] 


Dokumentasi Kegiatan :




gpaismkn5sby. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts