Salam Silaturahmi dari Guru PAI SMKN 5 Surabaya

Tata Niat, terus Ikhtiyar dan Doa serta Tawakkal Pada Allah Swt

SHOLEH LUAR DALAM

Semangat mengaji tanpa batas

Ikhtiyar dengan AL-Qur'an dan Sholawat

#Dirumahaja|Temukan Kesholehan bersama orang tercinta

SEMANGAT IBADAH DENGAN MENGHARAP RIDHO ALLAH

Karena bisa jadi bukan ibadahmu yang menyelamatkanmu

Follow Us in Instagram

ngaji bersama GPAI Stembaya

# SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI GURU MAPEL PAI SMKN 5 SURABAYA, NGAJI SEPANJANG HAYAT | INFO : SELAMA MASA PEMBELAJARAN DI RUMAH, PEMBELAJARAN PAI DIPUSATKAN DI SITUS RESMI INI, BAGI SISWA-SISWI SMKN 5 SURABAYA SILAHKAN KOORDINASI DENGAN GURU PAI MASING-MASING UNTUK BERSAMA-SAMA MEMBERDAYAKAN SITUS INI DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH # .....

Kamis, 02 Juli 2026

TIGA TANDA ALLAH MENGHENDAKI KEBAIKAN KEPADA HAMBA-NYA

 TIGA TANDA ALLAH MENGHENDAKI KEBAIKAN 

KEPADA HAMBA-NYA


Pernahkah kita merasa hidupnya seolah berada di jalan buntu? Doa telah dipanjatkan, ikhtiar telah dilakukan, namun persoalan belum juga menemukan jalan keluar. Tekanan ekonomi, sulitnya mencari pekerjaan, derasnya arus informasi, persaingan hidup, hingga kecemasan terhadap masa depan sering membuat hati mudah gelisah.

 Padahal, yang sebenarnya sering kali buntu bukanlah jalan hidup kita, melainkan prasangka kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita mulai mengira bahwa pertolongan Allah telah jauh, padahal Allah memiliki cara-cara yang tidak pernah terlintas dalam pikiran kita sebagai manusia.

 

Mari kita belajar dari kisah Nabi Musa 'alaihissalam. Ketika beliau dan kaumnya berada di tepi Laut Merah, di depan terbentang hamparan lautan luas dan dalam, sementara di belakang pasukan Fir'aun terus mengejar. Secara logika!, tidak ada lagi jalan keselamatan. Namun ketika pertolongan Allah datang, lautan pun terbelah dan menjadi jalan keselamatan.

 

Karena itu, jangan pernah membatasi kekuasaan Allah dengan sempitnya akal kita. Tugas kita hanyalah bertakwa, berikhtiar, dan bertawakal. Sebagaimana Firman Allah Swt : (QS. At-Thalaq: 2-3)

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا - وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya - dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.  

 

Pernahkah kita merasa tertinggal dari orang lain. Melihat Ada yang lebih dahulu sukses, lebih dahulu menikah, lebih dahulu mapan, atau lebih dahulu meraih cita-cita. Lalu hati bertanya, "Mengapa hidupku belum seperti mereka?"

 

Padahal, kita sering lupa bahwa Allah tidak pernah terlambat dalam menetapkan sesuatu. Rezeki, jodoh, kedudukan, bahkan setiap ujian dan kebahagiaan telah Allah tetapkan jauh sebelum kita dilahirkan.

 

Ketika doa belum dikabulkan, bukan berarti Allah tidak mendengar. Ketika harapan belum terwujud, bukan berarti Allah mengabaikan kita. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan waktu terbaik yang belum mampu kita pahami hari ini.

 

Di era Social Media, kita begitu mudah membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Padahal yang kita lihat hanyalah potongan kebahagiaan mereka, bukan seluruh perjalanan hidupnya. Akibatnya, kita lebih sibuk menghitung nikmat orang lain daripada mensyukuri betapa besarnya nikmat yang Allah titipkan kepada kita saat ini.

 

Karena itu, jangan habiskan hidup dengan kegelisahan terhadap masa depan, dan jangan tenggelam dalam penyesalan masa lalu. Teruslah berikhtiar, bertawakal, dan berbaik sangka kepada Allah. Sebab tidak ada takdir yang tertukar, tidak ada rezeki yang salah alamat, dan tidak ada ketetapan Allah yang datang terlambat.

 

Mari kita mengambil ibroh pula dari kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Ketika beliau dilemparkan ke dalam kobaran api, Allah tidak memadamkan api itu. Api tetap menyala, berkobar, tetap besar, tetap tampak mengerikan dan menakutkan. Namun Allah berfirman:

يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

"Wahai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim."

Apinya itu tidak hilang, tetapi sifatnya diubah sehingga tidak lagi menyakiti.

 

Demikian pula dalam kehidupan kita. Kita sering berdoa agar masalah segera lenyap/hilang. Namun terkadang Allah tidak menghilangkan masalah itu. Yang Allah ubah adalah hati kita. Allah melapangkan dada yang sempat sempit, menguatkan kesabaran, menenangkan jiwa yang gelisah, dan memberikan kekuatan untuk melewati ujian. Akhirnya, dengan masalah yang sama itu, tidak lagi mampu melumpuhkan hati kita. Ini adalah anugrah dari Allah Swt.

 

Dari sekian perjalanan hidup dan kehidupan kita di dunia ini, Islam hadir mengajarkan kita untuk senantiasa memperluas syukur kepada Allah, menguatkan husnudzon pada siapapun terlebih kepada pada Allah Swt, yang semua itu akan bermuara pada satu titik yang disebut kesholehan atau kebaikan dan keridhoan Allah.

Lantas bagaimana kita bisa mengetahui bahwa Allah Swt telah benar-benar menganugrahi kesholehan atau kebaikan-kebaikan tersebut pada diri kita?

 

kabar baiknya ... Rasulullah Saw memberikan pelajaran dan tanda-tanda untuk kita semua, sekaligus menjadi alat identifikasi / muhasabah atau kesholehan check up, apakah Allah telah menganugerahi cahaya kebaikan pada hambanya ?

Setidaknya Di antara tanda atau kondisi bahwa Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, dapat dicek pada 3 kondisi :

 

Konsisi yang Pertama, Allah memberikan pemahaman agama kepadanya.

Rasulullah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barang siapa dikehendaki Allah memperoleh kebaikan, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama."

----

Ilmu agama bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjadi cahaya yang membimbing seseorang agar mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang halal dan yang haram, serta menjadikan hidupnya lebih dekat kepada Allah.

Perhatikanlah, Nabi tidak mengatakan "Allah memberinya banyak harta" atau "Allah menjadikannya terkenal", tetapi Allah memberinya pemahaman tentang agama. Sebab, ilmu agama adalah kompas kehidupan. Orang yang cerdas tetapi tidak mengenal petunjuk Allah bisa tersesat dalam menggunakan kecerdasannya. Sebaliknya, orang yang memahami (berusaha memahami) tuntunan agama akan mampu menempatkan ilmu, harta, jabatan, dan seluruh nikmat dunia pada jalan yang benar.

Kondisi yang Kedua, Allah memudahkan dirinya melakukan amal saleh.

Rasulullah bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ

“Ketika Allah berkehendak kepada seorang hamba berupa kebaikan maka Allah akan mempekerjakan Hamba tersebut”

 

Para sahabat bertanya, "Bagaimana Allah mempekerjakannya wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab:

يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ

"Allah memberikan taufik kepadanya untuk melakukan amal saleh sebelum ia meninggal."

 

Apa itu taufiq ? kata imam Jurjani dalam kitabnya At-Ta’rifat, Taufiq adalah :

خَلْقُ قُدْرَةِ الطَّاعَةِ عَلى الْعَبْدِ

Diberikannya kemampuan ta’at ibadah oleh Allah kepada seorang hamba.

Jadi Taufiq ini lebih mahal, lebih tinggi daripada Hidayah, karena hidayah adalah kesadaran, akan tetapi taufiq adalah adanya kemampuan yang diberikan Allah Swt.

 

Maka jangan pernah meremehkan kesempatan berbuat baik. Bisa jadi satu langkah menuju masjid, satu ayat yang kita baca, satu sedekah yang kita keluarkan, atau satu nasihat yang kita sampaikan menjadi tanda bahwa Allah sedang menghendaki kebaikan bagi kita.

Begiitulah Allah "mempekerjakan" seorang hamba. Allah memberi kesempatan lisannya untuk berdzikir, tangannya untuk membantu sesama, ilmunya untuk mengajar, hartanya untuk bersedekah, tenaganya untuk melayani umat, dan waktunya dipenuhi amal-amal yang diridhai-Nya.

Karena itu, jangan hanya berdoa agar diberi rezeki yang banyak, tetapi berdoalah agar Allah memberikan taufik untuk mengisi setiap rezeki, profesi, dan usia kita dengan amal saleh. Sebab seseorang belum disebut berhasil hanya karena memiliki pekerjaan, tetapi ia benar-benar beruntung ketika Allah menjadikan pekerjaannya sebagai jalan menuju surga.

Kondisi yang Ketiga, Allah menguji hamba tersebut.

Rasulullah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan menimpakan ujian kepadanya." (HR. Bukhari)

 

Para ulama, di antaranya Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari’-nya, menjelaskan bahwa : “ujian bagi seorang mukmin bukanlah tanda Allah membencinya, tetapi salah satu cara Allah membersihkan dosa, meninggikan derajat, dan menyempurnakan keimanannya”. Seorang hamba yang diuji dengan kesabaran akan memperoleh kedudukan yang mungkin tidak dapat diraih hanya dengan banyaknya amal ibadah.

Maka jangan hanya meminta agar ujian diangkat, tetapi mintalah agar Allah menguatkan hati ketika diuji. Sebab bukan beratnya ujian yang menentukan kemuliaan seseorang, melainkan bagaimana ia tetap beriman, bersabar, dan terus taat di tengah badai ujian itu.

*Ingatlah, emas menjadi perhiasan karena ditempa api, dan seorang mukmin menjadi mulia karena ditempa ujian. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin Allah persiapkan dirinya untuk derajat yang lebih tinggi.

Semoga melalui tulisan singkat ini, kita dapat mengambil ibrah/pelajaran dan Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang diberi pemahaman agama oleh Allah, dekat dengan lingkungan, dan orang-orang yang baik, dimudahkan mendapatkan Taufiq Allah dalam beramal saleh, diberi kesabaran dan kekuatan iman dalam menghadapi setiap ujian dari Allah Swt hingga akhir hayat yawa terpisah darijasad dalam keadaan khusnul khotimah ... Aamin ...

(By : Muhammad Alfithrah Arufa / GPAI Stembaya)

Jumat, 22 Mei 2026

Nikmatnya Berdoa

"Nikmatnya Berdoa"

Berangkat dari sebuah pesan sang "pintunya Ilmu" beliau berpesan :
"Jika Allah mengabulkan doaku, maka Aku bahagia. Tapi jika Allah tidak mengabulkan doaku. Maka aku lebih berbahagia. Karena yang pertama adalah pilihanku sedangkan yang kedua adalah pilihan Allah" (Sayyidina Ali Bin Abi Tholib) 

Pesan istimewa lainnya juga disampaikan oleh Sayyidina Umar binKhottob :
"Aku tak pernah menghawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak. Sebab, setiap kali Allah memgilhamkan hamban-Nya untuk berdoa. Maka Allah sedang berkehendak untuk memberi karunia. Yang aku khawatirkan adalah jika aku tidak berdoa. 

Pesan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidina  Umar bin Khattab sejatinya sedang mengajarkan satu hal yang sangat sulit dilakukan manusia: percaya kepada Allah bukan hanya saat keinginan kita terkabul, tetapi juga saat kenyataan tidak sesuai harapan kita.

Kita sering menganggap bahwa doa yang dikabulkan itu pasti berbentuk “sesuai permintaan”. Padahal para ulama menjelaskan, terkadang Allah mengabulkan doa dengan tiga bentuk:
1. Diberi sesuai yang diminta.
2. Ditunda pada waktu yang lebih tepat.
3. Diganti dengan sesuatu yang lebih baik atau dijauhkan dari keburukan yang tidak kita ketahui.

Karena itu, kalimat Sayyidina Ali bukan sekadar ajakan untuk pasrah, tetapi pendidikan tentang adab seorang hamba. Beliau ingin mengajari bahwa pilihan Allah selalu lebih luas daripada logika manusia. Kita hanya melihat hari ini, sedangkan Allah melihat masa depan. Kita hanya melihat apa yang menyenangkan, sedangkan Allah mengetahui apa yang menyelamatkan.

Kadang seseorang menangis karena gagal mendapatkan sesuatu, padahal jika ia mendapatkannya justru hidupnya akan hancur. Ada orang kecewa tidak diterima kerja, ternyata beberapa bulan kemudian ia mendapat pekerjaan yang lebih berkah. Ada yang sedih karena hubungan cintanya gagal, ternyata Allah sedang menyelamatkannya dari rumah tangga yang penuh luka. Di sinilah iman diuji: apakah kita hanya percaya kepada Allah saat kehendak kita terjadi, atau tetap percaya ketika kehendak Allah berbeda?

Sedangkan pesan Sayyidina Umar lebih dalam lagi. Beliau tidak fokus pada “hasil doa”, tetapi pada “nikmat bisa berdoa”. Sebab tidak semua hati digerakkan untuk mengetuk pintu Allah. Ketika seseorang masih mau berdoa, masih menangis kepada Allah, masih berharap kepada-Nya, itu tanda bahwa hubungan dengan Allah belum terputus.

Imam Ibn Athaillah al-Sakandari pernah berkata: “Jangan sampai lambatnya pemberian Allah membuatmu putus asa, sebab Allah menjamin terkabulnya doa sesuai pilihan-Nya untukmu, bukan sesuai pilihanmu untuk-Nya.”

Kalimat ini sangat ilmiah secara spiritual dan logis secara kehidupan. Sebab manusia sering memaksa waktu, padahal ia tidak mengetahui seluruh keadaan. Anak kecil ingin terus makan permen, tetapi orang tuanya menolak karena tahu dampaknya. Sang anak mengira ditolak, padahal sebenarnya sedang dijaga. Maka bagaimana mungkin ilmu manusia yang terbatas merasa lebih tahu daripada Allah Yang Maha Mengetahui?

Doa juga bukan sekadar alat meminta, tetapi sarana membentuk jiwa. Orang yang rajin berdoa biasanya lebih tenang, lebih optimis, lebih kuat menghadapi masalah, karena ia merasa tidak berjalan sendirian. Sedangkan orang yang berhenti berdoa perlahan akan merasa semuanya ditanggung dirinya sendiri. Di situlah hati mudah stres, kecewa, bahkan putus asa.

Maka jangan ukur keberhasilan doa hanya dari cepat atau lambatnya terkabul. Ukurlah dari seberapa dekat hati kita kepada Allah setelah berdoa.

Kalau hari ini doa kita belum terjawab, jangan buru-buru berkata: “Allah tidak mendengar.”

Bisa jadi Allah sedang berkata: “Aku mendengarmu, tapi Aku sedang menyiapkan waktu terbaik.” Atau: “Aku punya pilihan yang lebih baik daripada yang kau minta.”

Teruslah berdoa. Jangan bosan mengetuk pintu langit. Karena orang yang berhenti berdoa bukan berarti kuat, tetapi bisa jadi ia sudah kehilangan harapan kepada Tuhannya.

Mulai malam ini, biasakan satu hal: jangan hanya berdoa saat butuh, tetapi berdoalah karena kita memang hamba. Dan setelah berdoa, latih hati untuk berkata:
“Ya Allah, jika ini baik menurut-Mu, mudahkanlah. Jika tidak baik, gantilah dengan yang lebih berkah dan jadikan hatiku ridha atas pilihan-Mu.”

Wallahu A'lam
Alfithrah

Kamis, 30 April 2026

HARDIKNAS BUKAN SEKEDAR SEREMONI UPACARA

 


HARDIKNAS BUKAN SEKEDAR SEREMONI UPACARA

Setiap tanggal 2 Mei, sekolah-sekolah di seluruh Indonesia menggelar upacara bendera. Murid berbaris rapi, lagu kebangsaan berkumandang, dan kutipan “Tut Wuri Handayani” kembali digaungkan. Namun, jika kita gali lebih dalam, Hardiknas bukan sekadar perayaan tentang “sekolah”. Ia adalah kisah tentang perlawanan, keberanian berpikir, dan pemberontakan ideologi melalui pendidikan.

Tokoh utama di balik peringatan ini adalah Ki Hadjar Dewantara, yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, dari keluarga bangsawan Pakualaman. Dengan latar belakang tersebut, ia sebenarnya bisa menjalani hidup nyaman di bawah naungan kolonial. Namun, ia memilih jalan yang tidak mudah.

Ia pernah menempuh pendidikan di STOVIA (Sekolah Dokter Jawa) di Batavia, tetapi tidak menyelesaikannya karena kondisi kesehatan. Dari sana, ia beralih ke dunia jurnalisme dan pergerakan. Pilihan ini menjadi titik awal dari perjalanan panjangnya sebagai pemikir dan pejuang.

Salah satu langkah paling berani yang sering luput dibahas adalah ketika ia menanggalkan gelar kebangsawanannya dan mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan sebuah pernyataan ideologis, bahwa pendidikan tidak boleh dibatasi oleh kasta, dan seorang pendidik harus berdiri sejajar dengan rakyat.

Keberanian itu semakin tampak ketika pada tahun 1913 ia menulis artikel tajam berjudul “Als ik eens Nederlander was” (“Seandainya Aku Seorang Belanda”). Tulisan ini mengkritik pemerintah kolonial yang merayakan kemerdekaan Belanda di tanah yang masih mereka jajah.

“Andaikan aku seorang Belanda, aku tidak akan merayakan kemerdekaan di negeri yang masih kita jajah. Itu adalah penghinaan.” Tulisan tersebut membuatnya diasingkan ke Belanda. Namun, justru di tempat pengasingan itulah ia menemukan arah perjuangannya yang lebih dalam. Ia mempelajari berbagai gagasan pendidikan modern dari tokoh-tokoh seperti Friedrich Fröbel dan Maria Montessori, sambil terus memikirkan satu hal penting, bagaimana mendidik manusia terjajah agar menjadi manusia yang merdeka.

Sekembalinya ke Indonesia, gagasan itu tidak berhenti sebagai pemikiran. Pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta. Ini bukan sekadar sekolah, melainkan sebuah gerakan pendidikan. Baginya, sekolah adalah “taman” tempat yang menyenangkan untuk tumbuh, bukan pabrik yang mencetak manusia seragam. Pendidikan, dalam pandangannya, adalah alat perjuangan tanpa senjata.

Gagasan ini tentu tidak berjalan mulus. Pemerintah kolonial sempat mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada tahun 1932 untuk membatasi sekolah-sekolah seperti Taman Siswa. Namun, gelombang penolakan dari masyarakat membuat kebijakan tersebut akhirnya dilonggarkan. Dari sini terlihat bahwa pendidikan bisa menjadi kekuatan perlawanan yang nyata.

Di tengah perjuangannya, Ki Hadjar juga merumuskan filosofi pendidikan yang hingga kini masih kita kenal. Ia tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi tentang praktik kepemimpinan dalam mendidik manusia:

• Ing Ngarsa Sung Tulada : di depan memberi teladan

• Ing Madya Mangun Karsa : di tengah membangun semangat

• Tut Wuri Handayani : di belakang memberi dorongan

Ketiga prinsip ini bukan sekadar slogan. Ia menggambarkan peran pendidik yang utuh. Memimpin, membersamai, dan memberi ruang. Sayangnya, sering kali kita hanya mengingat bagian terakhirnya saja. Padahal, makna sebenarnya adalah pemberdayaan, yaitu memberi kepercayaan kepada murid untuk tumbuh mandiri, sambil tetap didampingi.

Selain sebagai pendidik, Ki Hadjar juga seorang jurnalis. Ia terlibat dalam berbagai media seperti De Expres dan Utusan Hindia, menggunakan tulisan sebagai alat untuk membangun kesadaran masyarakat. Ia memahami bahwa sebelum pendidikan formal berkembang, kesadaran publik harus terlebih dahulu dibangkitkan.

Setelah Indonesia merdeka, peran Ki Hadjar semakin diakui. Ia diangkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama pada tahun 1945. Namun, perjuangannya tidak berhenti di sana. Ia terus mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh sekadar mengganti sistem lama dengan wajah baru, tetapi harus benar-benar memerdekakan manusia.

Ki Hadjar Dewantara wafat pada 26 April 1959. Tidak lama kemudian, tanggal kelahirannya, 2 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sejak saat itu, kita memperingatinya setiap tahun.

Namun, di balik semua seremoni itu, ada satu pertanyaan yang sebenarnya belum selesai dijawab hingga hari ini, apakah pendidikan kita sudah benar-benar memerdekakan manusia?

Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada upacara, seragam rapi, atau pidato formal. Ia adalah momen untuk merefleksikan kembali tujuan pendidikan itu sendiri, apakah kita sedang membangun manusia yang berpikir merdeka, atau justru hanya mencetak angka-angka di atas kertas.

Maka mungkin, pertanyaan yang paling penting bukan lagi, “Seberapa tinggi nilai kita?” melainkan, “Seberapa merdeka kita dalam berpikir dan menjadi diri sendiri?”

Referensi : WE. 

gpaismkn5sby. Diberdayakan oleh Blogger.