Salam Silaturahmi dari Guru PAI SMKN 5 Surabaya

Tata Niat, terus Ikhtiyar dan Doa serta Tawakkal Pada Allah Swt

SHOLEH LUAR DALAM

Semangat mengaji tanpa batas

Ikhtiyar dengan AL-Qur'an dan Sholawat

#Dirumahaja|Temukan Kesholehan bersama orang tercinta

SEMANGAT IBADAH DENGAN MENGHARAP RIDHO ALLAH

Karena bisa jadi bukan ibadahmu yang menyelamatkanmu

Follow Us in Instagram

ngaji bersama GPAI Stembaya

# SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI GURU MAPEL PAI SMKN 5 SURABAYA, NGAJI SEPANJANG HAYAT | INFO : SELAMA MASA PEMBELAJARAN DI RUMAH, PEMBELAJARAN PAI DIPUSATKAN DI SITUS RESMI INI, BAGI SISWA-SISWI SMKN 5 SURABAYA SILAHKAN KOORDINASI DENGAN GURU PAI MASING-MASING UNTUK BERSAMA-SAMA MEMBERDAYAKAN SITUS INI DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH # .....

Jumat, 22 Mei 2026

Nikmatnya Berdoa

"Nikmatnya Berdoa"

Berangkat dari sebuah pesan sang "pintunya Ilmu" beliau berpesan :
"Jika Allah mengabulkan doaku, maka Aku bahagia. Tapi jika Allah tidak mengabulkan doaku. Maka aku lebih berbahagia. Karena yang pertama adalah pilihanku sedangkan yang kedua adalah pilihan Allah" (Sayyidina Ali Bin Abi Tholib) 

Pesan istimewa lainnya juga disampaikan oleh Sayyidina Umar binKhottob :
"Aku tak pernah menghawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak. Sebab, setiap kali Allah memgilhamkan hamban-Nya untuk berdoa. Maka Allah sedang berkehendak untuk memberi karunia. Yang aku khawatirkan adalah jika aku tidak berdoa. 

Pesan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidina  Umar bin Khattab sejatinya sedang mengajarkan satu hal yang sangat sulit dilakukan manusia: percaya kepada Allah bukan hanya saat keinginan kita terkabul, tetapi juga saat kenyataan tidak sesuai harapan kita.

Kita sering menganggap bahwa doa yang dikabulkan itu pasti berbentuk “sesuai permintaan”. Padahal para ulama menjelaskan, terkadang Allah mengabulkan doa dengan tiga bentuk:
1. Diberi sesuai yang diminta.
2. Ditunda pada waktu yang lebih tepat.
3. Diganti dengan sesuatu yang lebih baik atau dijauhkan dari keburukan yang tidak kita ketahui.

Karena itu, kalimat Sayyidina Ali bukan sekadar ajakan untuk pasrah, tetapi pendidikan tentang adab seorang hamba. Beliau ingin mengajari bahwa pilihan Allah selalu lebih luas daripada logika manusia. Kita hanya melihat hari ini, sedangkan Allah melihat masa depan. Kita hanya melihat apa yang menyenangkan, sedangkan Allah mengetahui apa yang menyelamatkan.

Kadang seseorang menangis karena gagal mendapatkan sesuatu, padahal jika ia mendapatkannya justru hidupnya akan hancur. Ada orang kecewa tidak diterima kerja, ternyata beberapa bulan kemudian ia mendapat pekerjaan yang lebih berkah. Ada yang sedih karena hubungan cintanya gagal, ternyata Allah sedang menyelamatkannya dari rumah tangga yang penuh luka. Di sinilah iman diuji: apakah kita hanya percaya kepada Allah saat kehendak kita terjadi, atau tetap percaya ketika kehendak Allah berbeda?

Sedangkan pesan Sayyidina Umar lebih dalam lagi. Beliau tidak fokus pada “hasil doa”, tetapi pada “nikmat bisa berdoa”. Sebab tidak semua hati digerakkan untuk mengetuk pintu Allah. Ketika seseorang masih mau berdoa, masih menangis kepada Allah, masih berharap kepada-Nya, itu tanda bahwa hubungan dengan Allah belum terputus.

Imam Ibn Athaillah al-Sakandari pernah berkata: “Jangan sampai lambatnya pemberian Allah membuatmu putus asa, sebab Allah menjamin terkabulnya doa sesuai pilihan-Nya untukmu, bukan sesuai pilihanmu untuk-Nya.”

Kalimat ini sangat ilmiah secara spiritual dan logis secara kehidupan. Sebab manusia sering memaksa waktu, padahal ia tidak mengetahui seluruh keadaan. Anak kecil ingin terus makan permen, tetapi orang tuanya menolak karena tahu dampaknya. Sang anak mengira ditolak, padahal sebenarnya sedang dijaga. Maka bagaimana mungkin ilmu manusia yang terbatas merasa lebih tahu daripada Allah Yang Maha Mengetahui?

Doa juga bukan sekadar alat meminta, tetapi sarana membentuk jiwa. Orang yang rajin berdoa biasanya lebih tenang, lebih optimis, lebih kuat menghadapi masalah, karena ia merasa tidak berjalan sendirian. Sedangkan orang yang berhenti berdoa perlahan akan merasa semuanya ditanggung dirinya sendiri. Di situlah hati mudah stres, kecewa, bahkan putus asa.

Maka jangan ukur keberhasilan doa hanya dari cepat atau lambatnya terkabul. Ukurlah dari seberapa dekat hati kita kepada Allah setelah berdoa.

Kalau hari ini doa kita belum terjawab, jangan buru-buru berkata: “Allah tidak mendengar.”

Bisa jadi Allah sedang berkata: “Aku mendengarmu, tapi Aku sedang menyiapkan waktu terbaik.” Atau: “Aku punya pilihan yang lebih baik daripada yang kau minta.”

Teruslah berdoa. Jangan bosan mengetuk pintu langit. Karena orang yang berhenti berdoa bukan berarti kuat, tetapi bisa jadi ia sudah kehilangan harapan kepada Tuhannya.

Mulai malam ini, biasakan satu hal: jangan hanya berdoa saat butuh, tetapi berdoalah karena kita memang hamba. Dan setelah berdoa, latih hati untuk berkata:
“Ya Allah, jika ini baik menurut-Mu, mudahkanlah. Jika tidak baik, gantilah dengan yang lebih berkah dan jadikan hatiku ridha atas pilihan-Mu.”

Wallahu A'lam
Alfithrah

Kamis, 30 April 2026

HARDIKNAS BUKAN SEKEDAR SEREMONI UPACARA

 


HARDIKNAS BUKAN SEKEDAR SEREMONI UPACARA

Setiap tanggal 2 Mei, sekolah-sekolah di seluruh Indonesia menggelar upacara bendera. Murid berbaris rapi, lagu kebangsaan berkumandang, dan kutipan “Tut Wuri Handayani” kembali digaungkan. Namun, jika kita gali lebih dalam, Hardiknas bukan sekadar perayaan tentang “sekolah”. Ia adalah kisah tentang perlawanan, keberanian berpikir, dan pemberontakan ideologi melalui pendidikan.

Tokoh utama di balik peringatan ini adalah Ki Hadjar Dewantara, yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, dari keluarga bangsawan Pakualaman. Dengan latar belakang tersebut, ia sebenarnya bisa menjalani hidup nyaman di bawah naungan kolonial. Namun, ia memilih jalan yang tidak mudah.

Ia pernah menempuh pendidikan di STOVIA (Sekolah Dokter Jawa) di Batavia, tetapi tidak menyelesaikannya karena kondisi kesehatan. Dari sana, ia beralih ke dunia jurnalisme dan pergerakan. Pilihan ini menjadi titik awal dari perjalanan panjangnya sebagai pemikir dan pejuang.

Salah satu langkah paling berani yang sering luput dibahas adalah ketika ia menanggalkan gelar kebangsawanannya dan mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan sebuah pernyataan ideologis, bahwa pendidikan tidak boleh dibatasi oleh kasta, dan seorang pendidik harus berdiri sejajar dengan rakyat.

Keberanian itu semakin tampak ketika pada tahun 1913 ia menulis artikel tajam berjudul “Als ik eens Nederlander was” (“Seandainya Aku Seorang Belanda”). Tulisan ini mengkritik pemerintah kolonial yang merayakan kemerdekaan Belanda di tanah yang masih mereka jajah.

“Andaikan aku seorang Belanda, aku tidak akan merayakan kemerdekaan di negeri yang masih kita jajah. Itu adalah penghinaan.” Tulisan tersebut membuatnya diasingkan ke Belanda. Namun, justru di tempat pengasingan itulah ia menemukan arah perjuangannya yang lebih dalam. Ia mempelajari berbagai gagasan pendidikan modern dari tokoh-tokoh seperti Friedrich Fröbel dan Maria Montessori, sambil terus memikirkan satu hal penting, bagaimana mendidik manusia terjajah agar menjadi manusia yang merdeka.

Sekembalinya ke Indonesia, gagasan itu tidak berhenti sebagai pemikiran. Pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta. Ini bukan sekadar sekolah, melainkan sebuah gerakan pendidikan. Baginya, sekolah adalah “taman” tempat yang menyenangkan untuk tumbuh, bukan pabrik yang mencetak manusia seragam. Pendidikan, dalam pandangannya, adalah alat perjuangan tanpa senjata.

Gagasan ini tentu tidak berjalan mulus. Pemerintah kolonial sempat mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada tahun 1932 untuk membatasi sekolah-sekolah seperti Taman Siswa. Namun, gelombang penolakan dari masyarakat membuat kebijakan tersebut akhirnya dilonggarkan. Dari sini terlihat bahwa pendidikan bisa menjadi kekuatan perlawanan yang nyata.

Di tengah perjuangannya, Ki Hadjar juga merumuskan filosofi pendidikan yang hingga kini masih kita kenal. Ia tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi tentang praktik kepemimpinan dalam mendidik manusia:

• Ing Ngarsa Sung Tulada : di depan memberi teladan

• Ing Madya Mangun Karsa : di tengah membangun semangat

• Tut Wuri Handayani : di belakang memberi dorongan

Ketiga prinsip ini bukan sekadar slogan. Ia menggambarkan peran pendidik yang utuh. Memimpin, membersamai, dan memberi ruang. Sayangnya, sering kali kita hanya mengingat bagian terakhirnya saja. Padahal, makna sebenarnya adalah pemberdayaan, yaitu memberi kepercayaan kepada murid untuk tumbuh mandiri, sambil tetap didampingi.

Selain sebagai pendidik, Ki Hadjar juga seorang jurnalis. Ia terlibat dalam berbagai media seperti De Expres dan Utusan Hindia, menggunakan tulisan sebagai alat untuk membangun kesadaran masyarakat. Ia memahami bahwa sebelum pendidikan formal berkembang, kesadaran publik harus terlebih dahulu dibangkitkan.

Setelah Indonesia merdeka, peran Ki Hadjar semakin diakui. Ia diangkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama pada tahun 1945. Namun, perjuangannya tidak berhenti di sana. Ia terus mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh sekadar mengganti sistem lama dengan wajah baru, tetapi harus benar-benar memerdekakan manusia.

Ki Hadjar Dewantara wafat pada 26 April 1959. Tidak lama kemudian, tanggal kelahirannya, 2 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sejak saat itu, kita memperingatinya setiap tahun.

Namun, di balik semua seremoni itu, ada satu pertanyaan yang sebenarnya belum selesai dijawab hingga hari ini, apakah pendidikan kita sudah benar-benar memerdekakan manusia?

Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada upacara, seragam rapi, atau pidato formal. Ia adalah momen untuk merefleksikan kembali tujuan pendidikan itu sendiri, apakah kita sedang membangun manusia yang berpikir merdeka, atau justru hanya mencetak angka-angka di atas kertas.

Maka mungkin, pertanyaan yang paling penting bukan lagi, “Seberapa tinggi nilai kita?” melainkan, “Seberapa merdeka kita dalam berpikir dan menjadi diri sendiri?”

Referensi : WE. 

Minggu, 26 April 2026

Buku Atau Batu ?

 Buku Atau Batu ?

Anak-anakku semuanya, ada sebuah pepatah kuno dari Tiongkok yang bunyinya sangat sederhana, namun memiliki makna yang sangat tajam bagi masa depan kalian,  "Jika kamu malas mengangkat buku, maka kelak kamu harus kuat mengangkat batu."

Mungkin saat ini kalian merasa bahwa tas sekolah yang berisi buku-buku pelajaran itu terasa berat. Membaca berlembar-lembar teori, menghafal rumus, atau mengerjakan tugas di rumah terasa seperti beban yang ingin segera kalian letakkan.

Namun, pahamilah satu hal, buku di sini bukan sekadar kertas dan tinta, melainkan simbol dari ilmu pengetahuan, keterampilan, dan wawasan. Jika hari ini kalian memilih untuk menyerah pada rasa malas, menolak untuk "mengangkat buku" atau mengasah otak, maka dunia tidak akan memberikan kalian banyak pilihan di masa depan.

"Mengangkat batu" adalah simbol dari kerasnya perjuangan hidup bagi mereka yang tidak membekali diri dengan ilmu. Ketika kalian tidak memiliki keahlian atau pendidikan yang mumpuni, kalian akan terpaksa mengandalkan tenaga fisik semata untuk bertahan hidup, bekerja di bawah terik matahari, melakukan pekerjaan kasar yang melelahkan, dengan upah yang mungkin hanya cukup untuk makan sehari.

Mereka yang mau bersusah payah melatih otaknya hari ini, akan memiliki kendali atas hidupnya besok. Mereka yang memanjakan tubuhnya dengan kemalasan hari ini, akan dipaksa oleh keadaan untuk bekerja lebih keras daripada orang lain di masa depan.

Mungkin ada yang berargumen, "Tapi Pak, banyak orang sukses yang tidak sekolah tinggi." Ingat, meskipun mereka tidak "mengangkat buku" di sekolah formal, mereka "mengangkat buku" kehidupan. Mereka belajar lebih keras, membaca peluang lebih tajam, dan bekerja lebih disiplin daripada orang rata-rata. Tidak ada kesuksesan yang datang tanpa "beban" yang harus dipikul.

Oleh karena itu, jangan mengeluh saat guru memberikan tugas. Jangan menggerutu saat harus belajar untuk ujian. Semua itu adalah latihan otot mental kalian. Semakin banyak buku yang kalian "angkat" hari ini, semakin ringan beban hidup yang akan kalian pikul di masa depan.

Gunakan waktu kalian di sekolah ini untuk menempa diri. Jadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan beban. Karena pada akhirnya, ilmu pengetahuanlah yang akan membebaskan kalian dari beratnya "mengangkat batu" di masa depan.

Demikian amanat yang dapat Bapak sampaikan pada pagi hari ini. Semoga kalian menjadi generasi yang lebih memilih lelah karena belajar, daripada lelah karena kerasnya tekanan hidup tanpa persiapan. 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber : FB Wildan Edu 

gpaismkn5sby. Diberdayakan oleh Blogger.