BANGUN DAN BANGKITLAH
WAHAI PEJUANG ISLAM
A. Perkembangan Sejarah Peradaban Islam
Dalam garis besarnya, sejarah
Islam dapat dibagi ke dalam 3 periode besar : klasik, pertengahan dan modern.
Periode klasik (650 – 1250 M) merupakan zaman kemajuan dan dibagi ke dalam 2
fase.
Pertama, fase ekspansi, integrasi dan puncak
kemajuan (650-1000 M). Di zaman inilah daerah Islam meluas melalui Afrika Utara
sampai ke Spanyol di Barat dan melalui Persia sampai ke India di Timur.
Daerah-daerah itu tunduk kepada kekuasaan khalifah yang pada mulanya
berkedudukan di Madinah kemudian di Damsyik dan terakhir di Baghdad.
Di masa itu pula berkembang dan memuncak
ilmu pengetahuan, baik dalam agama maupun dalam bidang ekonomi dan kebudayaan.
Zaman inilah yang menghasilkan ulama-ulama besar seperti Imam Malik, Imam Abu
Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ibnu Hambali dalam bidang hukum (Fiqih). Imam Al-Asy’ari,
Imam Al-Maturidi, pemuka-pemuka Mu’tazilah seperti Washil ibnu Atho’, Abu Al
Huzail dalam bidang Teologi. Zunnun Al-Misri, Abu Yazid Al-Bustami dan
Al-Khallaj dalam (Tasawuf). Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Maskawaih
dalam filsafat, selanjutnya Al-Khaitam, Ibnu Hayyan, Al-Khawarizmi dan Ar-Razi
dalam bidang ilmu pengetahuan.
Kedua, fase disintegrasi (1000-1250
M).Di masa ini keutuhan umat Islam dalam bidang politik mulai pecah, kekuasaan
menurun dan akhirnya Baghdad dapat dikuasai dan dihancurkan oleh Hulagu Khan di
tahun 1258 M. Khalifah sebagai lambang kesatuan politik umat Islam hilang.
Adapun periode
pertengahan (1250-1800 M) juga dapat dibagi ke dalam 2 fase.
Pertama, fase Kemunduran (1250-1500 M). di zaman ini desentralisasi bertambah meningkat pelan namun
pasti, beberapa wilayah memisahkan diri dari kekuasaan pusat. Perbedaan antara
Suni dan Syi’ah, demikian juga antara Arab dan Persia mulai dimunculkan kembali
dan bertambah nyata kelihatan. Dunia Islam terbagi 2, bagian Arab yang terdiri
atas Arabiyah, Iraq, Suriah, Palestina, Mesir dan Afrika Utara dengan Mesir
sebagai pusat. Bagia Persia terdiri dari Balkan, Asia Kecil dan Asia Tengah
dengan Iran sebagai pusat.
Kebudayaan Persia mengambil bentuk
Internasional dan dengan demikian mendesak lapangan kebudayaan Arab untuk
menutup Ijtihad. Demikian juga Tarekat dengan pengaruh negatifnya perhatian
pada ilmu pengetahuan kurang sekali, umat Islam Spanyol dipaksa masuk kristen
atau keluar dari daerah itu.
Kedua, fase 3 kerajaan besar (1500-1800
M), yang dimulai dengan zaman kemajuan (1500-1700 M) dan zaman kemunduran
(1700-1800 M). Tiga kerajaan besar yang dimaksud adalah Kerajaan Usmani di
Turki, Kerajaan Syafawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India. Ketiga kerajaan
besar ini mempunyai kejayaan masing-masing terutama dalam bentuk literatur dan
arsitek. Masjid-masjid dan gedung-gedung indah yang didirikan di zaman ini
masih dapat dilihat di Istambul, Tabriz, Isfahan serta kota-kota lain di Iran
dan di Delhi. Di zaman kemunduran, kerajaan Usmani terpukul di Eropa. Kerajaan
Syafawi dihancurkan oleh serangan-serangan suku bangsa Afghan. Sedangkan daerah
kekuasaan kerajaan Mughal diperkecil oleh penguasa raja-raja India. Kekuatan
militer dan kekuatan politik umat Islam menurun. Umat Islam dalam keadaan
mundur dan statis.
Dan pada masa itu Eropa dengan
kekayaan-kekayaan yang diangkut dari Amerika dan Timur jauh bertambah kaya dan
maju. Penetrasi Barat yang kekuatannya meningkat ke dunia Islam yang
kekuatannya menurun kian mendalam dan meluas. Akhirnya Napoleon di tahun 1768 M
menduduki Mesir sebagai salah satu pusat Islam yang terpenting.
Periode
modern ( 1800 M dan seterusnya) merupakan zaman kebangkitan umat Islam.
Jatuhnya Mesir ke tangan barat menginsafkan dunia Islam akan kelemahannya dan menyadarkan
umat Islam bahwa di Barat telah timbul peradaban baru yang lebih tinggi yang
merupakan ancaman bagi Islam. Raja-raja dan pemuka Islam mulai memikirkan bagaimana meningkatkan mutu dan kekuatan
umat Islam kembali. Di periode modern inilah timbulnya ide-ide pembaharuan
dalam Islam.
B. Tokoh-tokoh Pembaharuan dalam Pemikiran
Islam
Tokoh-tokoh Pembaharuan dalam pemikiran
ini adalah :
1. Muhammad Ibnu Abdul Wahab (1703-1778)
Gerakan pembaharuan Islam (modernisme)
diawali oleh gerakan pemurnian Islam yang dipelopori oleh Muhammad Ibnu Abdul
Wahab (1703-1778). Pokok ajaran Muhammad Ibnu Abdul Wahab (Wahabi) adalah
menentang semua bentuk bid’ah dan khurafat dan kembali kepada ajaran pokok
Al-Qur’an dan Hadits.
Paham yang dikembangkan ini bertambah
kuat setelah mendapat dukungan Muhammad Ibnu Sa’ud (pendiri kerajaan Saudi
Arabia) dan puteranya Abdul Aziz. Faham Wahabi ini wajib diajarkan di
madrasah-madrasah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi di negara Saudi
Arabia sampai saat ini.
Pemikiran Wahabi mempunyai pengaruh pada
perkembangan pemikiran pembaharuan Islam pada abad 19 dan 20.
1.
Syah
Waliyullah
(1703-1758)
Syah
Waliyullah dilahirkan di Delhi pada tanggal 21 Februari 1703 M. Ia mendapatkan
pendidikan dari orang tuanya, Syah Abd Rahim, seorang sufi dan ulama yang
memiliki madrasah. Setelah dewasa, ia kemudian turut mengajar di madrasah itu.
Selanjutnya, ia pergi naik haji dan selama satu tahun di Hejaz ia sempat
belajar pada ulama-ulama yang ada di Mekkah dan Madinah. Ia kembali ke Delhi
pada tahun 1732 dan meneruskan pekerjaannya yang lama sebagai guru. Di samping
itu, ia gemar menulis buku dan banyak meninggalkan karya-karyanya, di antaranya
buku Hujjatullāh Al-Bal³gah dan
Fuyun Al-Haramain.
Di zaman Syah Waliyullah,
penerjemahan al-Qur’ān ke dalam bahasa asing masih dianggap terlarang. Tetapi,
ia melihat bahwa orang di India membaca al-Qur’ān dengan tidak mengerti isinya. Pembacaan tanpa pengertian
tak besar faedahnya untuk kehidupan duniawi mereka. Ia melihat perlu al-Qur’ān
diterjemahkan ke dalam bahasa yang dapat dipahami orang awam. Bahasa yang
dipilihnya ialah bahasa Persia yang banyak dipakai di kalangan terpelajar Islam
India di ketika itu. Penerjemahan al-Qur’ān ke dalam bahasa Persia
disempurnakan Syah Waliyullah di tahun 1758. Kemudian diterjemahkan ke dalam
bahasa Urdu yang umum dipakai masyarakat India.
2. Muhammad Ali Pasya (1765-1849)
Muhammad Ali Pasya lahir di
Kawala, Yunani pada tahun 1765 M adalah seorang keturunan Turki dan meninggal
di Mesir pada tahun 1849 M. Sebagaimana raja-raja Islam lainnya, Muhammad Ali
juga mementingkan soal yang bersangkutan dengan militer. Ia yakin bahwa
kekuasaannya hanya dapat dipertahankan dan diperbesar dengan kekuatan militer.
Di samping itu, ia mengerti bahwa di belakang kekuatan militer mesti ada
kekuatan ekonomi yang sanggup membelanjai pembaharuan dalam bidang militer, dan
bidang-bidang yang bersangkutan dengan urusan militer. Jadi, ada dua hal yang
penting baginya, kemajuan ekonomi dan kemajuan militer. Kedua hal tersebut
menghendaki ilmu-ilmu modern yang telah dikenal orang di Eropa.
Ide dan gagasan Muhammad Ali
Pasya yang sangat inovatif pada zamannya antar lain bahwa, untuk mendirikan
sekolah-sekolah modern dan memasukkan ilmu-ilmu modern dan sains ke dalam
kurikulum. Sekolah-sekolah inilah yang kemudian yang dikenal sebagai sekolah
modern di Mesir pada khususnya dan dunia Islam pada umumnya.
3. Al-Tahtawi (1801-1873)
Rifa’ah Baidawi Rafi’
Al-Tahtawi demikian nama lengkapnya. Ia lahir pada tahun 1801 M di Tahta, suatu
kota yang terletak di Mesir bagian selatan dan meninggal di Kairo pada tahun
1873 M. ide dan gagasannya diantaranya
Ajaran
Islam bukan hanya mementingkan soal akhirat, tetapi juga soal hidup di dunia.
Umat Islam juga harus memperhatikan kehidupan dunia. Kekuasaan raja yang absolut
harus dibatasi oleh syariat, raja harus bermusyawarah dengan ulama dan kaum
intelektual. Syariat harus diartikan sesuai dengan perkembangan modern. Inilah
dari gagasan Al-Tahtawi yang berpengaruh bagi pembaharuan Islam.
4.
Jamaluddin Al Afghani (1839-1897)
Pemikiran Wahabi diteruskan oleh
Jamaluddin Al Afghani yang lahir di Afghanistan tahun 1839 dan meninggal di
Istambul, Turki tahun 1897. Jamaluddin Al Afghani dalam perjalanan hidupnya
tidak menetap dalam suatu daerah tertentu, tetapi pindah dari suatu negara ke
negara yang lain.
Setelah pemikirannya dibatasi di negeri
kelahirannya (Afghanistan), ia pergi ke India tahun 1869. di India juga merasa
tidak bebas bergerak, karena negara ini jatuh ke tangan Inggris, sewaktu ia
pindah ke Mesir tahun 1871 dan ia menetap di Cairo, semula ia menjauhi
persoalan politik dan memusatkan perhatian pada bidang Ubudiyah dan sastra
Arab, tempat tinggalnya menjadi tempat pertemuan murid dan pengikutnya.
Diantara murid Al Afghani ada yang
kemudian menjadi pemimpin terkemuka seperti Muhammad Abduh. Tahun 1876 Al
Afghani mulai terlibat dalam urusan politik dan pada tahun 1879 berhasil
membentuk partai Al Hizb Al Wathani (Partai Nasional). Karena pengaruhnya yang
besar dalam berbagai bidang, Inggris yang menguasai Mesir pada saat itu
mengusir Al Afghani keluar dari Mesir tahun 1879. Masa delapan tahun menetap di
Mesir membagkitkan pemikiran modern di Mesir.
Atas undangan Sultan Abdul Hamid, Al
Afghani selanjutnya pindah ke Istambul Turki sampai akhir hayatnya.
Pemikirannya yang modern dalam bidang agama dan politik yang selalu
mengedepankan perlunya negara demokrasi, dan itu bertentangan dengan bentuk
pemerintahan yang dijalankan Sultan yaitu otokrasi. Sampai gerakan Al Afghani
dibatasi dan akhirnya tidak dapat keluar dari Istambul, Al Afghani wafat pada
tahun 1897.
5.
Muhammad Abduh
(1849-1905)
Pemikiran Muhammad Abduh yang menonjol
adalah faktor penyebab kemunduran umat Islam. Salah satunya adanya faham
kejumudan yang tidak mau menerima adanya perubahan. Dan banyak dipengaruhi oleh
berbagai macam bid’ah yang membuat umat Islam lupa akan ajaran Islam yang
sebenarnya yaitu Al Qur’an dan Hadist.
Oleh karena itu pembekuan pintu Ijtihad
perlu dihilangkan, dan kembali kepada sunatullah dengan cara memfungsikan peran
akal yang mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam Al Qur’an.
6.
Rasyid Ridha
(1965-1935)
Rasyid Ridha adalah murid terdekat
Muhammad Abduh, ia lahir di Al Qalamun suatu desa di Libanon pada tahun 1865.
pemikiran Rasyid Ridha sama dengan pemikiran pendahulunya yaitu pembersihan
semua tradisi yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan hadist. Pemikirannya tidak
banyak berbeda dengan gurunya. Perbedaannya hanya: Muhammad Abduh terlepas dari
semua aliran mazhab, sedangkan Rasyid Ridha tetap terikat pada mazhab, yaitu
mazhab Hambali, pemikiran Ibnu Taimiyah dan gerakan Wahabi.
7.
Muhammad Iqbal
(1876-1938)
Muhammad Iqbal berasal dari
keluarga golongan menengah di.Punjab dan lahir di Sialkot pada tahun 1876.
Berbeda dengan pembaharu-pembaharu lain, Muhammad Iqbal adalah penyair dan filosof.
Tetapi, pemikirannya mengenai kemunduran dan kemajuan umat Islam mempunyai
pengaruh pada gerakan pembaruan dalam Islam.
Pemikiran Muhammad Iqbal
tentang pembaruan Islam diantaranya : Ijtihad mempunyai kedudukan penting dalam
pembaruan Islam dan pintu ijtihad tetap terbuka. Umat Islam perlu mengembangkan
sikap dinamisme. Dalam syiarnya, ia mendorong umat Islam untuk bergerak dan
jangan tinggal diam.
Disamping tokoh-tokoh tersebut
juga masih terdapat banyak tokoh yang berjasa dalam pembaharuan Islam.
C. Gerakan Pembaharuan Islam di Beberapa Negara
Pada akhir abad 19 dan awal abad 20
beberapa negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Mulai mengadakan
pembaharuan kembali pemikiran Islam dengan cara kembali ke pada Al Qur’an dan
Sunah Rasul serta Ijtihad. Sumber hukum yang ketiga ini selalu terbuka
sepanjang masa. Sejalan dengan itu, melepas belenggu taqlid (jumud) yang telah
ada di kalangan umat Islam selama kurang lebih 500 tahun. Negara yang telah
mengadakan pembaharuan antara lain :
1. Arab Saudi
Gerakan pembaharuan Islam di Arab Saudi
dimulai oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab (1703-1778). Pokok pemikirannya seperti
yang telah diuraikan di atas yaitu kembali kepada ajaran pokok yaitu Al-Qur’an
dan hadist serta memberantas segala bentuk bid’ah dan khufarat yang telah lama
mengakar di kalangan sebagian umat.
Namun gerakan ini di negara-negara Asia
Teanggara tidak begitu populer dan kurang diterima oleh masyarakat setempat
2. Mesir
Gerakan pembaharuan Islam di Mesir lebih
giat setelah masuknya Jamaluddin Al-Afghani, kemudian diteruskan dengan
Muhammad Abduh (1849-1905). Gerakan pembaharuan di Mesir selanjutnya
dikembangkan oleh murid Muhammad Abduh seperti Rasyid Ridha, Zahlul, dan Farid
Wajdi.
3. India dan Pakistan
Ide pembaharuan di India dan Pakistan
dicetuskan oleh Syaikh Waliyullah pada abad ke 18., kemudian diteruskan oleh
anaknya Syaikh Abdul Aziz (1746-1823) dan dikembangkan oleh Sayyid Ahmad Khan
dan Sayid Ahmad Syahid. Mereka berpendapat bahwa muslim India mundur karena
agama yang mereka anut tidak lagi Islam yang murni, tetapi telah tercampur
dengan ajaran-ajaran Hindu dan Budha. Oleh karena itu umat Islam India harus
kembali kepada ajaran yang murni yaiut Al-Qur’an dan Hadist.
Gerakan pembaharuan di India terus
berkembang terutama setelah munculnya tokoh muda Muhammad Iqbal dan Muhammad
Ali Jinnah. Gerakan pembaharuan yang dilakukan kedua tokoh tidak hanya dalam
bidang aqidah dan syari’ah, tetapi juga politik sehingga berhasil mendirikan
negara Islam Pakistan yang terlepas dari India.
4. Turki
Turki adalah satu-satunya kerajaan Islam
di Barat sampai pertengahan abad 20. karena itu, tidak heran kalau pembaharuan
pemikiran Islam banyak dipengaruhi oleh faham yang berkembang di Barat seperti
Nasionalisme, Liberalisme, Sosialisme dan Demokrasi. Di satu sisi, ingin
mempertahankan sistem kerajaan yang dipimpin oleh seorang khalifah, sementara
di sisi lain ingin mengubah bentuk negara menjadi Republik. Dalam
perkembangannya ternyata yang dipilih rakyat Turki adalah sistem Republik
sehingga berdiri Republik Turki pada tanggal 3 Maret 1924 dengan presiden
pertama Musthafa Kemal Pasha.
D. Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia
1. Gerakan pembaharuan Islam di Indonesia
diawali dengan datangnya Haji Miskin dan kawan-kawannya dari menunaikan ibadah
haji tahun 1802 di Minangkabau, Sumatera Barat. Mereka dinamai kaum Padri, berpakaian serba putih, mengadakan
perubahan secara radikal dan membawa ajaran salaf.
Ajaran salaf adalah ajaran yang telah dijalankan oleh para sahabat nabi dan
tabi’in, pahamnya adalah Al-Qur’an dan Sunnah dijalankan secara murni dan
konsekwen bila terjadi suatu permasalahan mereka menggunakan ijtihad sebagai
sumber hukum ketiga.
Gerakan salaf dengan mazhab Wahabi
yang telah dirintis oleh Haji Miskin dan kawannya diteruskan oleh para
ulama di Sumatera Barat terutama dipelopori oleh Syaikh Muhammad Abdullah Ahmad
(1878-1933) dan Syaikh Haji Abdul Karim Amrullah (1879-1945), ayahanda Prof.
DR. HAMKA, serta Syaikh Muhammad
Jamil Jambek (1860-1947) yang selanjutnya membuka lembaga pendidikan modern,
berupa pesantren Tawalib bahkan membuka pesantren putri “Diniyah Putri” Padang
Panjang.
Gerakan pembaharuan ini terus berkembang sampai pergerakan
nasional dengan munculnya organnisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah
yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan (1912) di Yogyakarta yang fahamnya
menolak semua bentuk tradisi-tradisi yang telah mengakar di masyarakat yang
tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Kemudian Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan
oleh Hadratusy Syaikh KH.Hasyim Asy’ari
pada tanggal 31 Januari 1926. organisasi ini memiliki peran besar
dalam perjalanan bangsa dan kebangkitan umat yang basisnya kepada para kyai dan
ribuan pondok pesantren yang tersebar di pelosok Indonesia. Organisasi lain
adalah Persis (Persatuan Islam) didirikan oleh A.Hasan (1926) di Bandung,
Al-Irsyad di Medan, Al-Khairat di Sulawesi dan lain-lain.
E. Menunjukkan perilaku yang mencerminkan
penghayatan sejarah perkembang Islam pada masa pembaharuan.
1. Mempertahankan kebiasaan lama yang baik, sekaligus mengambil sesuatu
yang baru yang lebih baik
2. Mempunyai
motivasi untuk mempelajari Islam dari sumber aslinya yaitu Al-Qur’an dan
Hadist.
3. Meneruskan
perjuangan yang telah dirintis oleh para ulama terdahulu, dengan mengambil
semangat dan motivasinya.
4. Menjauhkan
diri dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist.
5. Berusaha
memberantas faham yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist.
6.
Membangun masa depan berdasarkan pijakan-pijakan yang telah ada di masa
lalu sehingga dapat membangun negara senantiasa menjadi baldatun tayyibatun wa
rabbun gafūr atau negara yang baik dan mendapat ampunan dari Allah SWT
7. Mencari upaya antisipasi agar kekeliruan
yang mengakibatkan kegagalan di masa lalu tidak terulang di masa yang akan
datang.
0 komentar:
Posting Komentar