Selamat Datang di Situs Resmi MGMP PAI SMKN 5 Surabaya

"Tata Niat, karena baik buruknya niat akan kembali pada yang berniat"

Nasionalisme sebagai bagian dari kerakter religius Murid

Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman.

Gerakan Menulis Mushaf Al-Qur'an

Antusiasme Para Murid SMKN 5 Surabaya dalam belajar menulis Ayat-AYat Al-Qur'an.

Istiqomah Dalam Dendirikan sholat 5 Waktu

Dimulai dari Program Penguatan Karakter dan Materi PAI (PPKM PAI) di SMKN 5 Surabaya .

Pembiasaan Cinta Al-Qur'an

Pengembangan Program Tahfidz AL-Qur'an SMKN 5 Surabaya.

Subscribe Us

# SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI GURU MAPEL PAI SMKN 5 SURABAYA, NGAJI SEPANJANG HAYAT | INFO : SELAMA MASA PEMBELAJARAN DI RUMAH, PEMBELAJARAN PAI DIPUSATKAN DI SITUS RESMI INI, BAGI SISWA-SISWI SMKN 5 SURABAYA SILAHKAN KOORDINASI DENGAN GURU PAI MASING-MASING UNTUK BERSAMA-SAMA MEMBERDAYAKAN SITUS INI DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH # .....

Rabu, 28 Oktober 2020

ADA OKTOBER DALAM ROBIUL AWWAL (Merangkai Nasionalisme dan Menjemput Syafa’at Sang Kekasih)

Oleh : Muhammad Alfithrah Arufa, M.Pd.I*

 

Bulan Rabiul Awwal  1442 H saat ini bertepatan pada Bulan Oktober 2020 M, dan masa pandemi Covid-19 yang masih juga belum berakhir, Walau demikian SMK Negeri 5 semangat dan antusias dalam memuliakan Bulan Rabiul Awwal yang menjadi bulan Kelahiran Nabiyullah Muhammad SAW. Serasa mengkolaboraskan rutinitas Nasional negara dan agama yang tumpah di bulan yang sama. Setidaknya yang kita kenal dan telah lalui adalah mulai dari Hari kesaktian pancasila (1 Oktober 2020), hari Batik Nasional (2 Oktober 2020), hari TNI (5 Oktober 2020), hari Santri Nasional (22 Oktober 2020), Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober 2020) dan Maulid Nabi Muhammad SAW ( 12 Robiul Awwal bertepatan pada 29 Oktober 2020).

Rangkaian Moment-moment penting tersebut adalah bukan hanya sekedar catatan nama (baca: judul/label) dan cerita sejarah saja, namun penting  untuk diambil nilai-nilai atau hikmah yang terkandung di dalam peristiwa tersebut, mulai dari penghayatan (nasionalisme dan religius) hingga implemantsinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Rangkaian kegiatan yang biasanya dapat diselanggarakan dengan semarak dan syiar yang kuat kini di masa pandemi agak sedikit berbeda penerapannya, hal ini dikarenakan mempertimbagkan protokol kesehatan yang harus ditaati bersama-sama (seperti Bermasker, Cuci tangan, dan jaga jarak).

Dari rangkaian peristiwa, mulai awal oktober  hingga akhir oktober 2020 ini, seolah-olah terlintas gambaran akan semangat baru, kekuatan baru dan pembaharuan yang lebih maju yang akan dihadapi oleh seluruh eleman masyarakat. Bagaimana tidak, jika saja semua memahami dan mengambil hikmah di balik peristiwa yang mungkin dalam keadaan pandemi akan menjadi  vaksin utama, dan menjadi (semacam) “vitamin istiqamah” dalam meingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dalam berbangsa bernegara dan beragama.

Landasan atau pondasi bangsa sudah terbangun kuat pada Pancasila, membungkus pancasila dengan pakaian Batik merupakan  simbol budaya yang terjaga dari terbukanya “aurat” mulai batas kebodohan hingga batas kedzoliman, terjaganya tubuh  dari bahaya kerasnya alam mulai dari angin radikalisme hingga terik panasnya intoleransi. Dari sini kekuatan lahir dan batin yang tergambar dari tubuh dan pakainnya, kita sebagai masyarakat masih dikuatkan dengan kemanan oleh perjuangan TNI dalam menjaga kedaulatan Bangsa dan ancaman gangguna dari pihak luar. TNI menjadi pagar negeri kita dalam hal keamanan baik fisik maupun psikis.

Namun perlu disadari bahwa ada benteng dari dalam negeri ini yang juga berjuang mengamankan seluruh pondasi dan pakaiannya, bahkan menjadi perekat pada pagar luar negri kita, mereka adalah santri pondok pesantren. Perjuangan santri tidak bisa dilihat sebelah mata sebab mereka memilki semangat perjuangan dalam pendidikan terutama pendidikan agama Islam khidmah pada Ulama, Kiyai dan Asatidz (guru-guru), serta kemandirian dan mental yang kokoh dalam bingkai keimanan dan ketaqwaan serta akhlakul karimah. Maka keberadaan santri merupakan catatan sejarah yang penting dalam merebut, memperjuangkan, membangun bangsa hingga “membonsai” (baca : menjadi solusi) Bangsa dengan ilmu dan akhlaqul Karimah (titik penanaman karakter religi sebuah bangsa). Belum berakhir hangatnya suasana peringatan Hari Santri Nasional di berbagai daerah bahkan di beberara negara lain, para pemuda menjemput semangat hari santri yang masih hangat itu dengan Sumpah Pemuda di 28 Oktober 2020. Mengambil tema “Bersatu & bangkit”  dari nilai-nilai bertanah air Indonesia, berbangsa Indonesia, dan Berbahasa Indonesia.

Pada pengunjung akhir Oktober 2020, ummat Islam seluruh dunia menumpahkan kecintaannya pada Sang kekasih, Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw makin memperindah dan menguatkan suasana cinta seluruh Ummat Islam dunia termasuk pada Indonesia pada Nabi Kekasih Allah. Berbagai acaa diselenggaran dengan tetap memperhatikan tertib protokol kesehatan di masa pandemi. Walau demikian pandemi seharusnya bukan menjadi alasan untuk memperingati maulid nabi atau setidaknya mengambil nilai-nilai maulid Nabi Muhammad SAW yang paripurna keteladanan dan akhlaqnya. SMKN 5 Surabaya memperingati  Maulid Nabi Muhammad SAW dengan sederhada dan terbatas, dimulai dari khataman AL-Qur’an dan pengajian Fiqih Nisa  (sebagai rangkaian hari santri) dan acara Pembacaan Maulid Diba’ oleh Bapak/Ibu Guru NA SMKN 5 Surabaya di Ruang Pendidikan (Rupen) pada 26 Oktober 2020,mendahlui dari 12 Rabiu; Awwal. Hal ini tidak menjadi masalah sebab mencintai Nabi Muhammad seyogyanya kapan dan di mana saja, namun kebersamaan dan kekeluargaan makin terbentuk dalam sebuah majelis Sholawat bersama para Guru SMKN 5 Surabaya. Hilir mudik sumbangan konsumsi sebagai bentuk shadaqah hingga masuk dalam khidmatnya acara lantunan sholawat Nabi dan Doa.

Oktober 2020 memberikan pelajaran bahwa keteladanan Rasulullah memeberikan banyak inspirasi nasionalisme seperti pancasila sebagai falsafah negara, khas kebudayaan bangsa, perjuangan tentara, benteng kailmuan agama di pesantren, hingga perkumuplan kekuatan pemuda yang menjadi kebanggan Nabi Saw, terutama pemuda yang memiliki ketergantungan pada ibadah dan tempat ibadah. Dalam menjalankan masa pandami ini seharusnya kita banyak belajar dari sejarah agar persatuan dan kesatuan bangsa tidak terlepas dari kekuatan ukhuwwah dan aqidah, dan akhlaqul karimah. Dengan demikian Madrasah Oktober dan Rabiul Awwal ini mengantarkan kita pada penemuan “vaksin” yakni cinta pada Rasulullah dalam hati dan aplikasi kehidupan sehari-hari.

Semoga kita kelak mendapatkan Syafa’at dari Nabiyullah Muhammad SAW, diberi kesempatan oleh Allah untuk dapat memenuhi undanganNya ke Makkah dan Madinah (untuk Sowan Pada Kekasih Allah). Maka tiap saat mengharap syafa’at  (Nabi Muhammad SAW) dengan berprilaku taat.

Wallahu A’lam Bishowwab

 

* Guru PAI SMKN 5 Surabaya


Sabtu, 17 Oktober 2020

DIBUKA PROGRAM TAHFIDZ AL-QUR'AN KE 5 SMKN 5 SURABAYA

TELAH DIBUKA  PROGRAM TAHFIDZ AL-QUR'AN (PTQ) 
SMKN 5 SURABAYA - TAHUN 2020-2021

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu'alaikum Wr Wb

Alhamdulillah, Wassholatu 'ala Rosulillah, La Haula Wa La Quwwata Illa Billah

Dengan mengharapRidho Allah Swt dan Syafaat dari Nabiyullah Muhammad Saw, walau dalam keadaan  pandemi COVID-19 Program Tahfidz Al-Qur'an SMKN 5 Surabaya akan tetap diselenggarakan baik secara online dan offline (Agenda menyesuaikan Tertib Protokol Kesehatan) Dengan mengucap Bismillah dan melalui semangat Cinta al-Qur'an (Tanpa batas ruang dan waktu), Pengelola PTQ Ke-5 SMKN 5 Surabaya mengundang semua siswa/siswi - Muslim/Muslimah SMKN  5 Sby untuk ikut serta (kembali) aktif dalam mempelajari Al-Qur'an baik tahap pemula (jalur BTQ) maupun mahir (Jalu PTQ) bersama Tim dan mentor PTQ SMKN 5 Surabaya. 

Jadilah yang terbaik dari perwakilan kelasmu, dan jurusanmu, dengan Al-Qur'an kita jadikan diri kita, jurusan kita, dan sekolah kita menjadi lebih berkah dan semoga bermanfaat bagi ummat dan bangsa.

Allahummarchamna bil Qur'an

Wassalamu'alaikum Wr Wb 

-------------------------
PERSAYARATAN
-------------------------
  1. Siswa/siswi SMKN 5 Surabaya
  2. Berakhlaqul karimah dan rajin ibadah
  3. Niat yang kuat (Lillahi Ta'ala) untuk belajar Al-Qur'an
  4. Komitment mengikuti pembinaan selama PTQ 5
  5. Komitment dan istiqamah berusaha menghafalkan Ayat-Ayat Al-Qur'an
  6. Biaya Semua Kegiatan : GRATIS
-------------------------
FASILITAS ANGGOTA
-------------------------
    1. Juz 'Amma dan Kartu Tahfidz
    2. Pembinaan 4 Kompetensi Unggulan PTQ Stemba Serta Layanan BTQ untuk pemula
    3. Pendampingan setoran Hafalan dan Muroja'ah
    4. Apresiasi Nilai Mapel PAI (KKM +) oleh GPAI*
    5. Piagam & Wisudah Tahfidz Al-Qur'an*
    6. Reward Special WisudawanTahfidz ke-5*
    7. Rekomendasi Beasiswa Tahfidz Perguruan Tinggi* 
    8. Studi Totor Sebaya dan Rekomendasi Imam Sholat*
    * Syarat & Ketentuan berlaku

    -------------------------
    CARA PENDAFTARAN
    -------------------------

    1. Bacalah Persyaratan yang ada
    2. Mintalah Restu Orang tua dan Guru PAI Anda
    3. Tata niat lillahi Ta'ala
    4. Klik 'DAFTAR SEKARANG' di bawah ini dan isilah Formulir Pendaftaranya
    5. Waktu Pendaftaran : 19 - 23 Oktober 2020 (online 24 Jam)


    ------------------------------


    Koleksi Video PTQ SMKN 5 Surabaya




    Sabtu, 19 September 2020

    URGENSITAS GENERASI SHOLEH-SHOLEHAH

    URGENSITAS GENERASI SHOLEH-SHOLEHAH

    (M. Alfithrah Arufa, M.Pd.I)

     



    Adalah menjadi faktor kesuksesan sesorang, kebahagiaan sesorang jika orang itu mempunyai anak-cucu yang sholih sholihah, bagaimana tidak ? dengan anak-cucu yang sholih-sholihah itulah saat kita mati ada yang menshalati, saat kita mati ada yang mendoakan, saat kita mati ada yang menziarahi makam kita, dengan adanya anak-cucu yang sholih sholihah itulah saat kita mati :

    1. (memang) saat kita mati, kita meninggalkan masjid sekaligus dengan rutinitas ibadah di dalamnya, tapi anak-cucu kita yang sholih sholihah akan meneruskan aktifitas kita jama’ah di masjid,
    2. (memang) dengan mati, kita meninggalkan Mushollah, tapi dengan anak-cucu yang sholih-sholihah itulah anak-cucu kita akan melanjutkan kegiatan kebiasaan kita ke Mushollah.
    3. (memang) dengan mati, kita pasti berhenti membeca Al-Qur’an, namun anak-cucu yang sholih sholihah meneruskan bacaan kita bahkan bisa jadi di Mushaf yang sama
    4. (memang) dengan mati, kita terhenti silaturahminya bersama keluarga, kerabat, dan sahabat baik kita, tapi dengan anak-cucu yang sholih sholihah silaturahmi itu bisa bersambung bahkan lebih baik dari kita sebelumnya
    5. (memang) dengan mati, kita berhenti beramal shaleh, kita behenti bershadaqah, dan bahkan kita pasti berhenti belajar atau megajar, tapi dengan adanya anak-cucu yang sholih sholihah mereka bisa lebih mengerti daripada kita tentang sabda Nabi Muhammad tentang :

      اِذَامَاتَ اْلاِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ اِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَاِلحٍ يَدْعُوْلَهُ. رواه مسلم

    Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW Bersabda: “Ketika anak adam meninggal, maka terputuslah pahala amalnya kecuali tiga hal, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakan kepadanya.” (HR Muslim).

     

    Kenapa contoh-contoh tadi hanya menggambarkan pendidikan agama? karena untuk melanjutkan karir, atau Skil orang tua, anak yang otaknya pintar mungkin bisa melanjutkannya namun tanpa keshalehan, juga akan hancur perjuangan tersebut, kariri dan skil mungkin bisa dipelajari dalam waktu singkat, namun untuk pendidikan agama dan nilai-nilai di dalamnya tidak bisa dengan waktu singkat. Harus dimulai sejak dini.  


    Rasulullah saw Bersabda :


    أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ اْلمَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا وَخُلَطَائُهُ صًالِحِيْنَ وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِى بَلَدِهِ *

     “Ada empat perkara dari kebahagiaan seseorang, yaitu : pasangan hidup  yang sholihat, anak – anak  yang baik / berbakti, pergaulaannya adalah dengan orang–orang yang sholeh dan rizkinya di negerinya sendiri”.  (HR Dailami)

    Teramasuk faktor kebahagiaan suksesnya sesorang jika sesorang itu mempunyai suami yang Sholih / Istri sholihah. Dari pasangan suami istri yang sholih sholihah itu kelak akan lahir anak-cucu yang sholih sholihah. Seolah Rasulullah ingin menyampaikan sistematika mendidik anak yang paling baik, yakni :

    1. Konsep Keshalehan Pasangan hidup menandakan keharusan adanya aliran genetika (gerakan perbaikan genetikan sholeh/Sholehah) dan keteladanan yang shaleh-sholehah dari orang tua, artinya orang tua menshalehkan diri terlebih dahulu.

    2.  Akan lahir generasi yang sholeh-sholehah dari genetik dan keteladanan yang shaleh sholehah

    3.   Jika sudah tertanam nilai-nilai dhahir dan bathin yang sholeh, maka anak ketika sudah terpisah jarak, tempat, dan waktu, maka genetika dan keteladana dari orang tua menjadikan anak diselamatkan Allah dengan mempunyai lingkungan dan teman yang sholeh-sholehah pula. Lingkungan dan teman ini bahkan dianggap menjadi seolah-oleh seperti kasih sayang, kebaikan dan kecintaan orang tua pada si anak.

    4. Kelak urusan rizkinya akan diatur selalu dekat dengan orang tua dengan keluarganya, kedekatan ini melekat dimana saja dan kapan saja, sehingga apapun kenikmatan yang dirasakan anak, sejatinya sang anak sedang dan akan berbagi nikmat bersama orang tuanya walaupun sebatas bacaan surat Al-Fatihah dan dapat nikmat makan yang enak, anak shaleh ingat orang tuanya lalu berdoa untuk orang tuanya lalu membaca doa makan. lintasan wajah orang tua saat mendapat nikmat yang besar akan mengikutinya.

     

    Salah satu kunci keberhasilan kuatnya konektifitas antara anak dan orang tua adalah dengan merenungi sabda Rasulullah ini :

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا

    “Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang yang dituakan diantara kami”.

    (Hadits Shahih, Riwayat, At-Tirmidzi, Lihat Shahiihul jaami’ no.5445)

    Ada orang tua tidak menyayangi anaknya, maka akan ada juga Anak yang tidak menghormati orang tua. (Na'udzu Billahi Min Dzalik)

    Runtutan sabda Nabi ini setidaknya memberi gambaran pada kita, bahwa nabi memulai dari menyangi yang kecil (anak-anak), maka pelakunya adalah yang dianggap tua (orang tua), jadi Ketaladanan adalah kuncinya.

    Jika anak sudah tidak memulyakan orang tua ini alamat rusaknya dunia. Anak kalau tidak memulyakam orang tua kelak akan memiliki anak turunan yang hatinya jelek, di sekolahkan bisa pintar namun hatinya tetap jelek. Nah... suatu saat model anak seperti ini akan hadir memenuhi dan mengurusi dunia, nah... rusaknya dunia ini sebab rusaknya manusia, rusaknya manusia sebab rusaknya hatinya manusia itu sendiri.

    Maka jika kita ingin punya anak yang sholeh, mari bersama-sama bahagiakan orang tua, anak nakal menjadi baik itu yang mengatur adalah Allah Swt. Guru, Ustadz, kiyai  itu tidak bisa menjadikan anak nakal jadi pinter atau baik, semua yang aturan Allah. Orang tua dan guru hanya menjembatani, mengantarkan, dan menyampaikan tentang kebaikan, urusan hasil adalah urusan Allah.

    Belum lama kita digegerkan dengan berita Orang tua membunuh anak karena anak sulit dalam belajar daring/online. Apa yang terlintas dalam benak kita saat melihat realita ini terjadi. Tuntu kita berharap hal ini tidak boleh terjadi pada diri kita dan anak-anak kita. Anak yang menjadi aset kita (sebagaiamana saya sampaiakn di awal tadi) dianggap sebagai benda mati yang ketika rusak harus digoyangkan tubuhnya, harus dibongkar fisiknya, dan harus dibuang potensinya di sampah. hal ini tentu tidak kita inginkan.

    Mari kita belajar sepert petani, yang hanya bertugas menanam dan merawat padi di sawah, tanpa harus ikut campur meninggikan batang padinya, tanpa ikutan menambah jumlah daun dan biji padinya. Dia sadar yang Juasa hanya Allah Swt untuk menjadikan Padi itu bisa dipanen. Harusnya Pendidikan anak pun demikian. Dimulai dari kasih sayang orang tua yang sholeh/Sholehah, sehingga anak akan siap untuk menghormati orng tuanya.

    Untuk itu, kita yang rata-rata awam, tidak bisa mengajari anak sendiri, tidak bisa mengajari kitab kuning pada anak sendiri, tidak bisa mendidik anak secara langsung, kita orang awwam mungkin juga repot dengan segala kesibukan, bisanya hanya titip pada orang lain, titip kepada lembaga pendidikan. Maka pastikan orang lain yang kita titipi untuk mendidik anak kita adalah orang yang benar akhlaknya, orang yang benar agamanya, orang yang benar aqidahnya. Pastikan lembaga yang kita titipkan anak kita, pastikan lewat pendidikan sekolah itu anak kita menjadi sholih sholihah, mereka tetap ngaji, mereka tetap menjaga sholat. Memang sejayinya favoritnya sekolah itu penting bagi kaum muslimin untuk masa depan keduniawiaan, namun sekali lagi kalaupun sulit mencari sekolah yang benar-benar menjamin sholih-sholihahnya anak cucu kita, mending memilih lembaga yang biasa namun menjamin anak kita bisa istiqmaha Sholat, bisa baca Al-Qur'an dan hafidz Al-Qur’an, anak kita bisa ngaji, anak kita bisa menjadi sholih sholihah.

    Sekali lagi mariah kia menitipkan anak kita kepada lembaga-lembaga pendidikan yang bisa menjamin anak-cucu kita Sholih Sholihah.

    Mari kita angan-angan Sabda Nabi Muhammad Saw :

    عن ايو ب موس عن ابيه عن جده ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ مَا نَحَلَ وَالَدُ وَالِدًا مِنْ نَحْلٍ اَفْضَلَ مِنَّ اَدَبٍ حَسَنٍ (أ خرجه التر مني : كتاب البرو الصلة : باب ما جاءفى اداب الولد)

    “Dari Ayyub bin Musa dari ayahnya dan kakeknya bahwa Rasulullah SAW bersabda : Tiada suatu pemberianpun yang dihadiahkan oleh orang tua kepada anaknya lebih utama dari pendidikan yang baik”. (HR. Tirmidzi).

    Pintar itu penting, tapi yang lebih penting dari itu adalah Akblaq, yang jujur, amanah, rajin sholat, rajin ibadah, rajin ta’at, tidak mau maksiat, ke orang tua pun nurut, kinerja dalam pekerjaannya baik apapun level pangkatnya dan jabatannya, walaupun anak itu agak bodoh, itu jauh ebih lebih mulya dari pada pintar namun akhlaknya buruk. dari pada pintar tapi korupsi. dst


    Sebagai penutup, Rasulullah saw.  :

    أَدِّبُـوْا أَوْلاَدَكُمْ عَـلَى ثَلاَثِ حِصَـالٍ: حُبِّ نَبِـيِّكُمْ وَحُبِّ أهلِ بَيْـتِهِ, وَتِـلاَوَتِ اْلقُـرْآنِ. فَإِنَّ حَمَـالَةَ الْقُـرْآنِ فِى ظِـلِّ عَـرْشِ اللهِ يَـوْمَ لاَ ظِـلَّ إِلاَّ ظِلُّـهُ مَعَ أَنْبِـيَآئِـهِ وَأَصْفِـيَآئِـهِ

    Artinya: “Didiklah anakmu tiga hal ini: mencintai nabimu, mencintai keluarganya, dan membaca Alquran. Sebab orang-orang yang ahli Alquran itu akan berada dalam naungan singgasana Allah, saat hari dimana tidak ada naungan selain naungannya semata, dikumpulkan beserta para nabi-Nya dan kekasih-kekasih-Nya.” (HR. at-Thabrani)


    Demikianlah Rasulullah memberikan petunjuk pada kita tentang hal-hal apa yang perlu ditanamakan sejak dini kepada anak-anak kita, diantara hikmah yang bisa kita  ambil adalah bagaimana kita diperintah untuk menanamkan rasa cinta pada baginda nabi, agar kelak sampai dewasa nanti yang selalu menjadi teladan adalah nabinya sendiri, karena bagaimanapun juga seseorang akan lebih cenderung mengikuti apa yang dicintainya. Demikian pula dengan mengajarkannya membaca Alquran, agar ia tidak asing dengan kitab pedomannya sendiri.


    Dengan pendidikan anak berbasis Al-Qur’an setidaknya, anak kita yang mungkin berada di Sekolah Umum, kurang jam pelajaran Agamanya, akan mensiasati belajar Al-Qur’an di luar jam sekolah, seperti TPQ, TPA di sore hari, Madrasah diniyah di malam hari, bahkan Pondok pesantren dan sejenisnya, hal ini bukan masalah tempat dan kegiatannya saja, namun dengan Belajar Al-Qur’an di tempat yang tepat, maka lingkungan dan sahabat terbaik bisa ditemukan dan akan menjaga Anak-anak kita dari buruk-buruknya akhlaq.


    Semoga kita senantiasa dijadikan orang-orang yang menjadi lantaran kemanfaatan kepada orang lain, khusunya keluarga, anak-cucu dan dzurriyah kita serta orang-orang terdekat kita. Aamin Ya Rabbal 'Alamin.



    Wallahu A'lam

    gpaismkn5sby. Diberdayakan oleh Blogger.

    Popular Posts