Selamat Datang di Situs Resmi MGMP PAI SMKN 5 Surabaya

"Tata Niat, karena baik buruknya niat akan kembali pada yang berniat"

Nasionalisme sebagai bagian dari kerakter religius Murid

Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman.

Gerakan Menulis Mushaf Al-Qur'an

Antusiasme Para Murid SMKN 5 Surabaya dalam belajar menulis Ayat-AYat Al-Qur'an.

Istiqomah Dalam Dendirikan sholat 5 Waktu

Dimulai dari Program Penguatan Karakter dan Materi PAI (PPKM PAI) di SMKN 5 Surabaya .

Pembiasaan Cinta Al-Qur'an

Pengembangan Program Tahfidz AL-Qur'an SMKN 5 Surabaya.

Subscribe Us

# SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI GURU MAPEL PAI SMKN 5 SURABAYA, NGAJI SEPANJANG HAYAT | INFO : SELAMA MASA PEMBELAJARAN DI RUMAH, PEMBELAJARAN PAI DIPUSATKAN DI SITUS RESMI INI, BAGI SISWA-SISWI SMKN 5 SURABAYA SILAHKAN KOORDINASI DENGAN GURU PAI MASING-MASING UNTUK BERSAMA-SAMA MEMBERDAYAKAN SITUS INI DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH # .....

Rabu, 18 Maret 2020

BAB 7 KELAS X - ILMU : DICARI DAN DIBAGIKAN

NIKMATNYA MENCARI ILMU
DAN INDAHNYA BERBAGI PENGETAHUAN

A.  Memahami Makna Menuntut Ilmu dan Keutamaannya
1.      Kewajiban Menuntut Ilmu
Ilmu pengetahuan adalah sebaik-baik sesuatu yang disukai, sepenting-penting sesuatu yang dicari dan merupakan sesuatu yang paling bermanfaat, dari pada selainnya. Kemuliaan akan didapat bagi pemiliknya dan keutamaan akan diperoleh oleh orang yang memburunya. Allah SWT berfirman :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَاَلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya:  “Katakanlah (Wahai Muhammad!): ‘Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?’”. (QS. Az-Zumar: 9)

Hasil gambar untuk SANTRI NGAJIDengan ayat ini Allah SWT, tidak mau menyamakan orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu, disebabkan oleh manfaat dan keutamaan ilmu itu sendiri dan manfaat dan keutamaan yang akan didapat oleh orang yang berilmu.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode  yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya.
Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia .
Di dalam Islam, menuntu ilmu merupakan perintah sekaligus kewajiban. Manusia diperintahkan untuk menuntut ilmu, karena dengan ilmu pengetahuan dia bisa mencapai apa yang dicita-citakan baik di dunia maupun di akhirat. Apalagi sebagai seorang muslim itu wajib hukumnya seperti dalam Al Quran dan Al Hadits  disebutkan bahwa :
Artinya:“Dan tidak sepatutnya orang-orang Mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya” (QS.At-Taubah:122)
Artinya :”Dari Anas bin Malik dia berkata Rasulullah SAW bersabda : Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim (laki-laki maupun perempuan)”. (HR. Ibnu Majah)

Dan Imam Syafi’I berkata  :
مَنْ أَرَا دَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَالْاآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Artinya :“Barangsiapa yang menghendaki dunia, maka hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki akherat, maka hendaknya dia berilmu. Dan barangsiapa yang menghendaki dunia akherat, maka hendaknya dia berilmu.”

Selain kewajiban menuntut Ilmu kita juga diperintahkan untuk mengajarkan Ilmu pengetahuan yang kita miliki agar bermanfaat demi kebaikan sesama. Keutamaan-keutamaan berbagi ilmu pengetahuan digambarkan dalam hadits Rasulullah SAW berikut ini:
تَعَلَّمُوْاالْعِلْمَ ، فّإِنَّ تَعَلُّمُهُ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَتَعْلِيْمَهُ لِمَن ْ لاَ يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَإِنَّ الْعِلْمَ لَيَنْزِلُ بِصَاحِبِهِ فِى مَوْضِعِ الشَّرَفِ وَالرِّفْعَةِ ، وَالْعِلْمُ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ فِى الدُّنْيَا وَالأَخِرَةِ . (الربيع)
Artinya :“Tuntutlah ilmu,sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza Wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat.” (HR. Ar-Rabii’)
Adapun orang yang tidak mau berbagi ilmu pengetahuan dengan sesama, maka Rasulullah SAW menggambarkan konsekuensinya seperti berikut:
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ . (أبو داود)
Artinya Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api neraka.” (HR. Abu Dawud)

2.  Hikmah dan Keutamaan Menuntut Ilmu
Beberapa hikmah dan keutamaan menuntut dan berbagi ilmu dalam Islam adalah:
a.       Berada di jalan Allah
 “Barang siapa yang keluar rumah untuk menuntut ilmu, berarti dia berada di jalan Allah hingga pulang” (HR Ibn Majah)
b.     Mendapatkan pahala yang mengalir terus menerus
إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ , أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ , أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم
“Jika anak adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecualai 3 hal, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya.”(HR Muslim)
c.       Agar tidak terlaknat
“Dunia dan seisinya terlaknat, kecuali yang memanfaatkannya demi kepentingan dzikrullah dan yang serupa dengan itu, para ulama dan orang-orang yang menuntut ilmu.” (HR Turmudzi)
d.      Ditinggikan derajatnya
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.
e.     Dimudahkan jalan menuju surga.
“Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu agama, pasti Allah membuat mudah baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim)

Selasa, 17 Maret 2020

MENEROPONG COVID - 19


Hasil gambar untuk virus corona
Oleh : Muchamad Sofyan Hadi, M.Pd.I*

World Health Organization (WHO) menetapkan status pandemi global Covid-19 setelah virus berbahaya ini menyebar ke sebagian besar wilayah dunia. Jumlah yang tertular dan korban meninggal terus bertambah sedangkan titik terang pengobatannya yang efektif belum ditemukan. Pengumpulan massa dalam jumlah besar telah dihentikan untuk menghindari proses penularan seperti sekolah, kampus, tempat hiburan/wisata, dan termasuk di antaranya aktivitas ibadah seperti shalat Jumat. Iran dan Malaysia telah menghentikan jumatan di masjid. Sebelumnya, Arab Saudi telah menghentikan umrah di Masjidil Haram. Sekolah di DKI Jakarta, Jabar, dan Jateng telah diliburkan. Semuanya ditujukan untuk mencegah penularan.   Para ahli dalam bidang kesehatan menjadi rujukan utama untuk mengetahui perkembangan penyakit tersebut.
Namun, pihak lain pun tidak ketinggalan membahasnya sesuai dengan perspektif keahlian yang dimilikinya. Termasuk di antaranya kalangan ulama. Ketika wabah tersebut baru tersebar di China, sempat ramai di perbincangkan masyarakat terkait pendapat seorang dai yang mengatakan bahwa Covid-19 merupakan tentara Allah yang dikirimkan ke China karena menindas Muslim Uighur. Kontroversi pun merebak terutama di media sosial. Menjadi pertanyaan besar ketika virus itu pun tersebar ke komunitas Islam dan akhirnya menyebabkan terhentinya aktivitas umrah, shalat Jumat, dan aktivitas ibadah umat Islam lainnya yang melibatkan massa dalam jumlah besar.
Pandangan menghakimi pihak lain seperti itu sesungguhnya cerminan pola pikir dari sebagian umat Islam. Dalam kasus-kasus sebelumnya, terdapat dai yang menuduh daerah yang tertimpa bencana karena terkena laknat Allah sebagaimana terjadi pada bencana gempa atau tsunami yang terjadi di Lombok, Palu, Banten dan lainnya. Ayat Al-Qur’an dan hadits tertentu yang terkait dengan bencana dikutip sebagai pembenar pendapatnya untuk menghakimi orang lain sedang tertimpa musibah. Mereka tidak berpikir bagaimana jika terdapat keluarga atau bahkan dirinya sendiri yang terkena bencana tersebut.   Ketika bencana juga menimpa umat Islam di seluruh dunia, sebagaimana yang terjadi dalam kasus Covid-19 ini, akhirnya orang-orang yang suka menghakimi tersebut terdiam. Kasus ini seharusnya menjadi pelajaran untuk tidak dengan gampang menghakimi orang lain, apalagi dengan menggunakan ayat atau hadits yang ketika disampaikan oleh ulama yang dianggap kompeten dalam bidang agama kepada orang awam sebagai sebuah kebenaran yang tak terbantahkan.
Teologi yang diyakini oleh para dai berpengaruh terhadap apa yang disampaikannya. Pandangan yang menyerah saja kepada “takdir Allah” (jabariyah), sehingga tak ada tindakan antisipatif terhadap Covid-19, dapat membahayakan orang lain. Sikap tersebut menyebabkan mereka mengabaikan aturan kesehatan sehingga berpotensi tertular dan menularkannya kepada orang lain. Alam berjalan sesuai dengan hukum alam atau sunnatullah yang dapat diuji melalui proses sebab akibat. Ketika kita tahu bahwa sebuah virus menyebar melalui interaksi antara penderita dan orang di sekitarnya, maka mencegah terjadinya kerumunan merupakan sebuah tindakan pencegahan yang harus dilakukan.   Keyakinan tokoh agama bahwa yang penting yakin saja kepada Allah untuk membenarkan dirinya menggelar acara yang dihadiri oleh banyak orang merupakan bentuk keyakinan jabariyah (fatalis). Ini dapat membahayakan banyak orang. Ketika hal buruk terjadi, dengan cepat mereka mengatakan bahwa situasi itu terjadi dikarenakan takdir. Padahal hal tersebut dikarenakan tindakan yang gegabah.
Kegampangan menggunakan perspektif takdir menyebabkan kita tidak belajar atas kejadian buruk yang dialami karena takdir merupakan kehendak Allah yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Dengan demikian, tak ada proses evaluasi yang perlu dilakukan, dan akhirnya tak ada perbaikan. Akhirnya, kesalahan yang sama mungkin saja terjadi di masa depan.   Usaha dalam bentuk doa merupakan bagian dari upaya kita sebagai orang yang beriman. Namun, Allah sendiri tidak memberi kepastian kapan doa akan dikabulkan. Apakah seketika atau jangka waktu yang kita sendiri tidak tahu. Sains, yang didasarkan pada empirisme mampu melakukan pengujian atas proses sebab akibat. Misalnya, sebuah virus dapat menyebar dengan cara tertentu, seperti karena interaksi dengan orang lain. Vaksin dengan formulasi tertentu dapat menyembuhkan sebuah virus tertentu. Hal-hal seperti itu merupakan bagian dari sunnatullah dalam sebuah kehidupan normal, sebagaimana api akan membakar suatu benda. Kisah-kisah tentang keistimewaan yang dimiliki oleh orang tertentu yang keluar dari hukum sunnatullah seperti Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh api, tidak dapat digunakan sebagai ukuran bagi publik.
Kini Covid-19 telah ada di depan mata kita. Cara kita dalam menyikapi penyakit tersebut akan menentukan kemampuan kita mencegah penyebarannya atau kecepatan penanganannya. Masing-masing telah memiliki keahlian sesuai dengan kompetensi yang telah dibangun. Kita kawal upaya pengambil kebijakan membuat langkah-langkah pencegahan dan penanganannya. Kita patuhi saran dari ahli kesehatan untuk pola hidup sehat yang mengurangi risiko kita terpapar virus tersebut. Para ulama, jika pengetahuannya terbatas pada bidang agama, maka sebaiknya tidak keluar dari ranah kompetensinya, yaitu dengan cara mengajak umat untuk menjadikan peristiwa saat ini sebagai momen untuk melakukan muhasabah, meningkatkan keimanan kita kepada Allah, memperbanyak berdzikir dan doa, atau hal-hal lain yang terkait keagamaan.

* Guru PAI SMKN 5 Surabaya - Waka Kesiswaan SMKN 5 Surabaya




SMK NEGERI 5 SURABAYA ; “NEGERINYA PECINTA DAN PENGHAFAL QUR’AN”

Oleh : M. Alfithrah Arufa, M.Pd.I*


“KEGAGALAN ADALAH JALAN”
“Kalian akan diwisuda di Masjid Al-Akbar Surabaya” tegas Koordinator PAI di SMKN 5 Surabaya setelah melaksanakan seleksi calon wisudawan-wisudawati Tahfidz AL-Qur’an se Kota Surabaya. Hal ini dilaksankan oleh tim PAI SMKN 5 Surabaya berdasarkan permohonan delegasi oleh Pemkot Surabaya melalui Dinas Pendidikan Kota Surabaya kepada seluruh sekolah di bawah naungan pemkot Surabaya termasuk SMKN 5 Surabaya.

Seleksi pun berlangsung singkat dan apa adanya, dimulai dari pencarian siswa/siswi lewat proses pembelajaran PAI di tiap kelas masing-masing Guru PAI, hingga pemberdayaan rekomendasi antara siswa/siswi itu sendiri. Namun informasi dan impian tersebut terkadang terlintas begitu saja bahkan dianggap sebuah keanehan, bagaiaman tidak?, Seolah mencari jarum dalam jerami, sebegitu mustahilnya menemukan penghafal Qur’an di sekolah yang notabene adalah Negeri dan sekolah umum bukan sekolah berbasis Islam.

Kurang dari sebulan, 12 anak ditemukan (baca: dimulyakan) dengan membawa kekuatan dan kemampuan hafalannya masing-masing. Mereka kami sebut sebagai “santri perdana Tahfidz SMKN 5 Surabaya”. H-7 keberangkatan menuju Masjid Akbar Surabaya untuk mengikuti Wisuda Akbar 1000 Tahfidz di Surabaya tiba-tiba kandas. Tak terbayangkan bagaimana kekecewaan 12 santri perdana kami ini jika mendengar pengumuman kandas wisuda bersama huffadz se kota Surabaya lainnya. Team Guru Pendidikan Agama Islam dan Takmir Masjid Darul Ilmi SMKN 5 pun mulai merembugkan masalah penting ini. kenapa penting ?, ini bukan hanya masalah hati 12 anak perdana kami, melainkan karena keindahan Qur’an yang menghiasi hati mereka dan jauh lebih penting lagi Qur’an yang masih jauh dan belum mengisi hati selain 12 Santri pilihan ini, mereka adalah Siswa-siswi (muslim-muslimah) di SMKN 5 Surabaya yang jumlahnya lebih dari 2500 anak yang kami harapkan potensi Qur’annya dapat berkembang di kemudian hari.

Terkirim kabar dari dunia pendidikan Nasional, bahwa SMA/SMK akan dikelola di bawah naungan Pemerintah Provinsi bukan lagi pemerintah kota/kabupaten. Disinilah sumber “hantaman” itu bermula, awal 2017 pergeseran kebijakan ini bukan hanya merubah seluruh ketentuan birokrasi di instansi, juga sekaligus memangkas jatah undangan delegasi SMK untuk naik di panggung Wisuda 1000 Tahfidz Al-Qur’an se Surabaya kala itu. Hal ini disebabkan kebijakan wisuda itu adalah milik Pemkot Surabaya dalam hal ini Wali kota Surabaya – Ibu tri Risma Harini. Untuk kasus ini, Maka secara otomatis SMK yang pindah ke “Rumah” Pemprov tidak bisa ikut mencicipi program Pemkot terutama dalam masalah Wisuda Tahfidz Akbar ini.

Wisuda Mandiri adalah hasil keputusannya. Kegagalan adalah jalan, Dengan bekerjasama dengan manajemen sekolah dan guru-guru PAI, takmir Masjid Darul Ilmi SMKN 5 Surabaya, dan JQH Surabaya wisuda pun direalisasikan pada tanggal 31 Maret 2017 di Masjid Darul ilmi SMKN 5 Surabaya. 12 Santri perdana Tahfidz dinyatakan lolos oleh ketua JQH Surabaya dan layak diwisuda oleh Kepala SMKN 5 Surabaya, Bpk. Drs. Rinoto, MM. Disinilah titik awal lahirnya Program Tahfidz Al-Qur’an yang kini dikenal dengan sebutan PTQ SMKN 5 Surabaya.

“13 GENERASI PEJUANG AL-QUR’AN”
Terpampang rentetan nama-nama pendaftar (Baca : Peminat) program Tahfidz Al-Qur’an SMKN 5 Surabaya di papan pengumuman Masjid SMKN 5 Surabaya, urutan terakhir tertulis nomor 215. Memang kecil dibandingkan jumlah siswa keseluruhan, namun Pengaruh 12 wisudawan Tahfidz perdana cukup besar untuk kalangan pemula kegiatan Program Tahfidz, tidak kurang dari 1000 pasang mata dan kuping menerima informasi tentang “Open Recrutment” PTQ SMKN 5 Surabaya angkatan ke-2. 215 lah yang Allah kirimkan pada Pengurus PTQ 2 kala itu.

Seolah tidak ingin tertimpa tangga yang sama (dalam kegagalan berbuah jalan), pengelolaan PTQ mulai ditata dengan manajerial yang perlahan membaik dan terarah, terbentuknya kepengurusan dan program kerja, anggaran kegiatan serta agenda yang detail demi keberlangsungan PTQ ke depannya.

Ikrar santri Tahfidz dan BTQ dari 215 peserta pendaftar PTQ menjadi ide awal untuk membangun komitemen awal sebagai kade-kader pecinta dan penghafal Al-Qur’an. Mereka akan behadapan dengan Agenda yang padat yang terkadang harus berbenturan dengan tugas dan kegiatan sekolah. Memang butuh pengorbanan untuk mencapai suatu impian, namun Al-Qur’an hadir bukan sebagai korban atau mengorbankan yang lain, sebab Al-Qur’an sejatinya telah dan terus menjadi solusi dalam hidup dan menjalani kehidupan hingga kiamat tiba.

[... BERSAMBUNG ...]

         
     




gpaismkn5sby. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts