Selamat Datang di Situs Resmi MGMP PAI SMKN 5 Surabaya

"Tata Niat, karena baik buruknya niat akan kembali pada yang berniat"

Nasionalisme sebagai bagian dari kerakter religius Murid

Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman.

Gerakan Menulis Mushaf Al-Qur'an

Antusiasme Para Murid SMKN 5 Surabaya dalam belajar menulis Ayat-AYat Al-Qur'an.

Istiqomah Dalam Dendirikan sholat 5 Waktu

Dimulai dari Program Penguatan Karakter dan Materi PAI (PPKM PAI) di SMKN 5 Surabaya .

Pembiasaan Cinta Al-Qur'an

Pengembangan Program Tahfidz AL-Qur'an SMKN 5 Surabaya.

Subscribe Us

# SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI GURU MAPEL PAI SMKN 5 SURABAYA, NGAJI SEPANJANG HAYAT | INFO : SELAMA MASA PEMBELAJARAN DI RUMAH, PEMBELAJARAN PAI DIPUSATKAN DI SITUS RESMI INI, BAGI SISWA-SISWI SMKN 5 SURABAYA SILAHKAN KOORDINASI DENGAN GURU PAI MASING-MASING UNTUK BERSAMA-SAMA MEMBERDAYAKAN SITUS INI DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH # .....

Minggu, 19 Juli 2020

BAB I KELAS XI - MEMBANGUN BANGSA MELALUI PERILAKU TAAT, KOMPETITIF DAN KERJA KERAS

MEMBANGUN BANGSA MELALUI PERILAKU TAAT,
KOMPETITIF DAN KERJA KERAS

Membangun Bangsa Dengan Bahasa Indonesia | Bahasakita.com

DOWNLOAD BUKU PAI BAB I KELAS XI

Perlu anda ketahui, manusia diciptakan oleh Allah SWT semata-mata untuk beribadah kepadaNya. Tentunya beribadah dengan pengertian yang luas, tidak hanya menjalankan sholat, puasa, atau zakat. Akan tetapi setiap aktivitas dalam kehidupan sehari-hari pun merupakan bagian dari ibadah, jika anda meniatkan semua itu untuk ibadah. Ini artinya kita dituntut oleh Allah untuk mempersembahkan yang terbaik dalam arti kita harus senantiasa termotivasi untuk berkompetisi dalam kebaikan. Dalam modul ini, anda akan diajak untuk mengkaji bagiamana sikap kompetitif yang harus dimiliki oleh setiap muslim sebagai bentuk implementasi pemahaman dari QS. Al Maidah (5): 48;Q.S. Az-Zumar (39) : 39; dan Q.S. At Taubah (9): 105 serta Hadits yang terkait

 

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

 

Artinya :

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” (QS. Al Maidah (5): 48)

 

Dari terjemahan ayat diatas dapat dipahami bahwa Allah SWT. menghendaki manusia itu sebagai makhluk yang dapat mempergunakan akal dan pikirannya, dapat maju dan berkembang dari zaman ke zaman. Dari masa kanak-kanak ke masa remaja meningkat jadi dewasa dan seterusnya.

Demikianlah Allah SWT. menghendaki dan memberikan kepada tiap-tiap umat syariat tersendiri untuk menguji sampai di mana manusia itu dapat dan mampu melaksanakan perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya. Sebagai mana yang telah ditetapkan di dalam kitab Samawi-Nya, untuk dapat diberi Pahala atau disiksa.

Oleh karena itu sudah seharusnyalah manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan dan amal saleh, sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Nabi penutup, Rasul terakhir Muhammad SAW. Syariat yang menggantikan syariat sebelumnya. untuk kepentingan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.

Pada suatu waktu nanti, mau tak mau manusia akan kembali kepada Allah SWT. memenuhi panggilan-Nya, ke alam Baqa. Di sanalah nanti Allah SWT. akan memberitahukan segala sesuatunya tentang hakikat yang diperselisihkan mereka. Orang-orang yang benar-benar beriman akan diberi pahala, sedang orang-orang yang ingkar dan menolak kebenaran, serta menyeleweng dari-Nya tanpa alasan dan bukti akan diazab dan dimasukkan ke dalam neraka.

 

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Artinya :

Katakanlah: "Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,(Q.S. Az-Zumar (39) : 39)

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 

Artinya :

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".(Q.S. At Taubah (9): 105)

 

Allah memerintahkan kita untuk bekerja, dan Allah pasti membalas semua apa yang telah kita kerjakan. Yang paling unik dalam ayat ini adalah penegasan Allah bahwa motivasi atau niat bekerja itu mestilah benar.  Sebab kalau motivasi bekerja tidak benar, Allah akan membalas dengan cara memberi azab. Sebaliknya, kalau motivasi itu benar, maka Allah akan membalas pekerjaan itu dengan balasan yang lebih baik dari apa yang kita kerjakan. Lebih jauh Surat An-Nahl : 97 menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan gender dalam menerima upah / balasan dari Allah.  Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada diskriminasi upah dalam Islam, jika mereka mengerjakan pekerjaan yang sama.  Hal yang menarik dari ayat ini, adalah balasan Allah langsung di dunia (kehidupan yang baik/rezeki yang halal) dan balasan di akherat (dalam bentuk pahala).

 

Hadits tentang keutamaan bekerja keras

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah ShallAllahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik, daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Dalam sebuah hadits yang lain Rasul ShallAllahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah” (Hadits Riwayat Ahmad & Ibnu Asakir )

 

Dalam hadits-hadits yang disebutkan di atas, menunjukkan bahwa bekerja merupakan perbuatan yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Rasulullah ShallAllahu 'Alaihi wa Sallam memberikan pelajaran menarik tentang pentingnya bekerja. Dalam Islam bekerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut, tapi juga untuk memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Karenanya, bekerja dalam Islam menempati posisi yang teramat mulia. Islam sangat menghargai orang yang bekerja dengan tangannya sendiri.

Kerja juga berkait dengan martabat manusia. Seorang yang telah bekerja dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya akan bertambah martabat dan kemuliannya. Sebaliknya, orang yang tidak bekerja alias menganggur, selain kehilangan martabat dan harga diri di hadapan dirinya sendiri, juga di hadapan orang lain. Jatuhnya harkat dan harga diri akan menjerumuskan manusia pada perbuatan hina. Tindakan mengemis, merupakan kehinaan, baik di sisi manusia maupun di sisi Allah SWT. Akan tetapi perlu diingat bahwa yang dimaksud dalam hadits-hadits di atas adalah orang yang bekerja sesuai dengan ajaran Islam. Bekerja pada jalur halal dan bukan bekerja dengan pekerjaan yang diharamkan oleh Allah. Allah Subhanhu Wa Ta'ala. telah membentangkan bumi dan langit ini adalah sebagai karunia yang teramat besar untuk seluruh umat manusia. Yuk kita makmurkan bumi ini melalui kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas, agar pintu keberkahan mengalir ke segala penjuru bumi ini, amin.

Wallahu a'lam

------------------------------------

SIMAKLAH VIDEO BERIKUT INI DENGAN BAIK !

------------------------------------

1. VIDEO PERTEMUAN 1 TENTANG TAAT ATURAN


2. VIDEO PERTEMUAN 2 KOMPETISI DALAM KEBAIKAN


3. VIDEO PERTEMUAN 3 ETOS KERJA

VIDEO BELUM DISAMPAIAKN





BAB I KELAS X - MENITI HIDUP DENGAN KEMULIAAN

Husnudzan Kepada Allah Swt (Pengertian, Contoh, & 4 Bentuk, Hikmah ...
MENITI HIDUP DENGAN KEMULIAAN

A.   Mujahadah An-Nafs (Pengendalian Diri)
Setiap agama pada dasarnya pasti mengajarkan pemeluknya agar menjaga kedamaian dalam kehidupannya. Menjaga kedamaian berarti menjaga suasana agar tentram dan rukun. Terlebih kita seorang muslim, agama sangat menganjurkan agar kita sedapat mungkin menjaga kedamaian dan keselamatan diri dan lingkungan kita. Hal ini tersirat dalam anjuran Nabi agar kita senantiasa menebar salam (keselamatan).
Sedangkan Mawas diri merupakan sikap waspada atau berhati-hati dalam bertindak. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Mawas diri merupakan suatu tindakan yang penting untuk dilakukan agar kita tidak salah dalam mengambil sebuah keputusan. Sikap mawas diri dalam bahasa arab disebut dengan Mujahadah an-Nafs. Arti mujahadah menurut bahasa adalah perang, menurut syara’ adalah memerangi nafsu amarah dan memberi beban kepadanya. Sebagian ulama’ mengartikan mujahadah adalah tidak menuruti keinginan nafsu dan menahan nafsu dari hal yang disenanginya. Dengan demikian mujahadah adalah tindakan yang berkaitan dengan perlawanan terhadap nafsu, yang lazim disebut dengan mujahadah an nafs.Sikap mawas diri (Mujahadah an Nafs) juga berfungsi sebagai pembatas atau pengontrol dalam kehidupan sehingga kita tidak akan terjurumus jalan yang salah. Namun bila sikap mawas diri itu menjadi berlebihan dalam diri seseorang, maka sikap mawas diri itu akan berubah menjadi ketakutan yang akan menghambat kemajuan orang tersebut.
Firman Allah SWT berkaitan dengan Mawas diri (Mujahadah an-Nafs)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَوا۟ وَّنَصَرُوٓا۟ أُو۟لَٰٓئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يُهَاجِرُوا۟ مَا لَكُم مِّن وَلَٰيَتِهِم مِّن شَىْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا۟ ۚ وَإِنِ ٱسْتَنصَرُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ فَعَلَيْكُمُ ٱلنَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍۭ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَٰقٌ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Anfal ayat 72)

Diantara Hikmah sikap mawas diri (Mujahadah an-Nafs) antara lain :
1)    Hati semakin bersih dan tenang
2)    Memperoleh kebahagiaan lahir dan batin
3)    Diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam mengerjakan amal shaleh
4)    Dijauhkan dari sifat-sifat tercela, seperti iri, dengki dan sombong
5)    Dicintai Allah SWT dan sesama manusia
6)    Mendapatkan hidayah yang sempurna dari Allah SWT
7)    Mendapatkan ridha dari Allah SWT

B.   Husnudzan (Prasangka Baik)
Husnudzan merupakan salah satu bagian dari akhlaq terpuji yang wajib dimiliki oleh seorang Muslim.Dalam Bahasa Arab Husnudzan sendiri terdiri dari dua kata yaitu Husnu yang berarti baik dan dzan yang berarti sangka. Jadi husnudzan dapat diartikan sebagai sikap berbaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah SWT.
Firman Allah SWT berkaitan dengan sikap husnudzan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat ayat 12)

Diantara Hikmah sikap Husnudzan antara lain :
1)     Hidup menjadi tenang dan penuh optimis.
2)     Yakin bahwa terdapat hikmah di balik segala cobaan
3)     Membentuk pribadi yang tangguh
4)     Menjadikan seseorang kreatif
5)     Menyebabkan seseorang tidak mudah putus asa
6)     Terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama.

C.   UKHUWWAH (PERSAUDARAAN)
Persaudaraan adalah jalinan kekeluargaan atau kekerabatan antara satu individu dengan individu yang lain baik disebabkan karena faktor keturunan,  perkawinan, kesamaan keyakinan atau sebab yang lain. Menjalin tali persaudaraan atau ukhuwwahmerupakan salah satu hal yang diperintahkan oleh Allah SWT, sebagaimana yang tercantum dalam firmannya Q.S. Al Hujurat : 10

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat ayat 10)

 Dan sabda Rasulullah SAW, yang berbunyi :
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. (رواه المسلم(
Artinya : “Dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda: "Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi.” (HR Muslim)

Wallahu A'lam 

------------------------------------

SIMAKLAH VIDEO BERIKUT INI DENGAN BAIK !

------------------------------------

1. VIDEO PERTEMUAN I TENTANG HUSNUDZAN


2. VIDEO PERTEMUAN II TENTANG UKHUWWAH
   Belum diposting

3. VIDEO PERTEMUAN III TENTANG ASMAULHUSNAH
     Belum diposting

Rabu, 03 Juni 2020

NGAJOL 18 : APAKAH SHALAT JUM'AT MINIMAL 40 ORANG ?


DMI Atur Salat Jumat 2 Gelombang yang Didasarkan Ganjil-Genap Nomor HP

APAKAH SHALAT JUM'AT MINIMAL 40 ORANG ? 
oleh : Ust. Muchamad Sofyan Hadi, M.Pd.I*

PERTANYAN 1 :
Assalamu'alaikum, saya mau tanya mengenai landasan atau dasar dalil "mengapa Imam Syafi'i mengharuskan di dalam shalat jum'at jama'ahnya minimal 40 orang ?" mengapa harus 40 ? kemudian apa landasan dalilnya ?

PEMBAHASAN :
Ada beberapa hadits yang menjadi landasan syarat 40 orang dalam shalat jum'at, Salah satunya hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud RA:
أنه صلى الله عليه وسلم جمع بالمدينة وكانوا أربعين رجلا

Sesungguhnya Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat jum'at di madinah dan jumlah mereka sebanyak 40 orang laki-laki.
 Dalam  hadits lain  Rosulullah bersabda:

إذا اجتمع أربعون فعليهم الجمعة

Jika berkumpul 40 orang maka wajib pada mereka shalat jum'at.
Dalam satu hadits Rosulullah juga bersabda:
ﻻ جمعة إﻻ في أربعين
Tiada kewajiban shalat jum'at kecuali dalam 40 orang. (I'anah Tholibin 2/56)

_______________________________________

PERTANYAAN 2 :
Lalu kemudian apakah ada pendapat yg memperbolehkan dilaksanakannya Jumatan jika jamaahnya kurang dari 40 orang ????

PEMBAHASAN :
Manurut madhab Syafi'i tidak sah salat jum'at dengan hitungan kurang dari 40 orang. Dan sebagian Ash-habus Syafi'iyyah memilih pada bolehnya salat jum'at dengan hitungan kurang dari 40 dengan taqlid pada pendapat yang membolehkannya.

ثم قال الشيخ سالم الحضري في كتابه المذكورة نمرة 21 ان للشافعي رحمهالله تعالى فب العدد الذي تنعقد به الجمعة اربعة اقوال قول معتمد وهو الجديد وهو كونهم اربعين بالشروط المذكورة , وثلاثة اقوال في المذهب القديم ضعيفة احدها اربعة احدهم الامام والثاني ثلاثة احدهم الامام والثالث اثنى عشر احدهم الامام , فعلى العاقل الطالب ما عند الله تعالى من ثوابه ورضاه ان لايترك الجمعة ما نأتي فعلها على واحد من هذه الاقوال الاربعة ولكن اذا لم تعلم الجمعة انها متوفرة فيها الشروط على القول الاول وهو القول الجديد فيسن اعادة الظهر بعدها احتياطا فرارا من خلاف من منعها بدون اربعين اهـ . رسالة الجمعة
Berkata as-syaikh salim al-hudlori  : dalam madzhab syafi’i mengenai jumlah yang menjadi ketentuan jum’at ada empat qoul, yang mu’tamad adalah qoul jadid mengharuskan jumlah jum’at 40 orang. Tiga qoul lain adalah qoul qodim dan hukumnya dlo’if yaitu :

ü  4 orang salah satunya imam
ü  3 orang salah satunya imam
ü  12 orang salah satunya imam

Qoul Qodim tersebut boleh diikuti/ diamalkan karena Qoul tersebut telah dikuatkan oleh ASHHABUS SYAFI'I yaitu Imam Al-Muzaniy, Imam Ibnu Al-Mundzir, dan Imam As Suyuthiy. Bughyah Al-mustarsyidin halaman 81

قوله أى غير الإمام الشافعي أى باعتبار مذهبه الجديد فلا ينافي أن له قولين قديمين في العدد أيضا أحدهما أقلهم أربعة حكاه عنه صاحب التلخيص وحكاه في شرح المهذب واختاره من أصحابه المزني كما نقله الأذرعي في القوت وكفى به سلفا في ترجيحه فإنه من كبار أصحاب الشافعي ورواة كتبه الجديدة وقد رجحه أيضا أبو بكر بن المنذر في الأشراف كما نقله النووي في شرح المهذب ثاني القولين اثنا عشر وهل يجوز تقليد أحد هذين القولين الجواب نعم فإنه قول للإمام نصره بعض أصحابه ورجحه وقولهم القديم لا يعمل به محله مالم يعضده الأصحاب ويرجحوه وإلا صار راجحا من هذه الحيثية وإن كان مرجوحا من حيث نسبته للإمام وقال السيوطي كثيرا ما يقول أصحابنا بتقليد أبي حنيفة في هذه المسئلة وهو إختياري إذ هو قول للشافعي قام الدليل على رجحانه إه وحينئذ تقليد أحد هذه القولين أولى من تقليد أبي حنيفة فتنبه وقد ألفت رسالة تتعلق بجواز العمل بالقول القديم للإمام الشافعي رضي الله عنه في صحة الجمعة بأربعة وبغير ذلك فانظرها إن شئت. إعانة الطالبين ٢/٥٨-٥٩
Dalam kasus di atas menurut imam Al Bulqiniy harus shalat zhuhur, akan tetapi kalau shalat jum'at karena taqlid pada imam yang memperboleh kurang dari 40 orang jga boleh dan lebih baik lagi bila shalat jum'at kemudian disertai dengan shalat zhuhur. Bahkan menurut sebagian Ulama, takutlah meninggalkan shalat jum'at walaupun kurang dari 40 orang karena shalat jum'at bagian dari rahmat Allah dan pelebur dosa dalam seminggu. :


.وسئل البلقيني عن أهل قرية لا يبلغ عددهم أربعين يصلون الجمعة أو الظهر فأجاب رحمه الله يصل

Wallahu A'lam Bis Shawaab

 * Narasumber Koordinator GPAI SMKN 5 Surabaya

gpaismkn5sby. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts