Selamat Datang di Situs Resmi MGMP PAI SMKN 5 Surabaya

"Tata Niat, karena baik buruknya niat akan kembali pada yang berniat"

Nasionalisme sebagai bagian dari kerakter religius Murid

Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman.

Gerakan Menulis Mushaf Al-Qur'an

Antusiasme Para Murid SMKN 5 Surabaya dalam belajar menulis Ayat-AYat Al-Qur'an.

Istiqomah Dalam Dendirikan sholat 5 Waktu

Dimulai dari Program Penguatan Karakter dan Materi PAI (PPKM PAI) di SMKN 5 Surabaya .

Pembiasaan Cinta Al-Qur'an

Pengembangan Program Tahfidz AL-Qur'an SMKN 5 Surabaya.

Subscribe Us

# SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI GURU MAPEL PAI SMKN 5 SURABAYA, NGAJI SEPANJANG HAYAT | INFO : SELAMA MASA PEMBELAJARAN DI RUMAH, PEMBELAJARAN PAI DIPUSATKAN DI SITUS RESMI INI, BAGI SISWA-SISWI SMKN 5 SURABAYA SILAHKAN KOORDINASI DENGAN GURU PAI MASING-MASING UNTUK BERSAMA-SAMA MEMBERDAYAKAN SITUS INI DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH # .....

Minggu, 19 Juli 2020

BAB I KELAS XII - MENGHIDUPKAN NURANI DENGAN BERPIKIR KRITIS


MENGHIDUPKAN NURANI DENGAN BERPIKIR KRITIS
Langkah-langkah Berpikir Kritis – ut est scribere

A.   Tadarus al-Qur’an
Membaca QS. Ali-Imran (3) : 190-191 :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Membaca QS. Yunus  (10) : 101 :
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لا يُؤْمِنُونَ

B.   Penjelasan ayat
QS. Ali-Imran (3) 190-191, tentang perintah menggunakan akal untuk berfikir.
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah minta izin untuk beribadah pada suatu malam, kemudian bangunlah dan berwudu lalu salat. Saat salat beliau menangis karena merenungkan ayat yang dibacanya. Setelah salat beliau duduk memuji Allah SWT. dan kembali menangis lagi hingga air matanya membasahi tanah.
Setelah Bilal datang untuk azan subuh dan melihat Nabi menangis ia bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa Anda menangis, padahal Allah SWT. telah  mengampuni dosa-dosa  Anda baik yang terdahulu maupun yang akan datang?” Nabi menjawab, “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah SWT.?”dan bagaimana aku tidak menangis, pada malam ini Allah SWT. telah menurunkan ayat kepadaku. Kemudian beliau berkata,“alangkah  ruginya  dan celakanya  orang-orang yang membaca ayat ini tetapi  tidak merenungi kandungannya.”

Ayat itu QS. Ali-Imran 190-191, yang artinya :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, dan memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari siksa api neraka
Memikirkan terciptanya siang dan malam serta silih bergantinya secara teratur, menghasilkan perhitungan waktu bagi kehidupan manusia. Semua itu menjadi  tanda  kebesaran Allah SWT. bagi orang-orang yang berakal sehat. Selanjutnya mereka akan berkesimpulan bahwa tidak ada satu pun ciptaan Tuhan yang sia-sia, karena semua ciptaan-Nya adalah inspirasi bagi orang berakal.
Pada ayat 191 Allah SWT. menjelaskan ciri khas orang yang berakal, yaitu apabila  memperhatikan sesuatu, selalu memperoleh manfaat  dan terinspirasi oleh tanda-tanda besaran Allah SWT. di alam ini. Ia selalu ingat Allah SWT. dalam  segala  keadaan,  baik waktu berdiri, duduk, maupun berbaring. Setiap waktunya  diisi untuk  memikirkan keajaiban-keajaiban yang terdapat dalam ciptaan-Nya yang menggambarkan kesempurnaan- Nya.

QS. Yunus (10) : 101 tentang perlunya meperhatikan kejadian Alam
Setiap manusia dikaruniai Allah akal dan pikiran, sehingga mereka dapat memilih antara iman dan kufur, antara kebaikan serta kejahatan. Dengan akal dan pikiran itu pula, manusia dapat memahami tanda-tanda kebesaran Allah di bumi maupun di langit yang menyimpan manfaat yang besar. Namun demikian, tanda-tanda kebesaran Allah tersebut sama sekali tidak akan bermanfaat apabila manusia tidak menggunakan akalnya dengan baik. Hal itulah yang diungkap dalam SurahYanus [10]: 101 berikut ini:
Artinya: Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi !” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman. (Q.S. Yunus [10]: 101)
Dalam ayat 101 Surah Yanus [10], Allah memerintahkan kepada kita semua untuk memerhatikan dan merenungkan segala kejadian di langit serta di bumi. Berulang-ulang Al-Qur’an mengajarkan manusia agar menggunakan akalnya dengan ungkapan: apakah kamu tidak berpikir, apakah kamu tidak merenungkan, dan terhadap dirimu apakah kamu tidak memerhatikan. Semua redaksi ayat-ayat Al-Qur’an tersebut mengajarkan kita supaya dapat meyakini betapa besarnya kekuasaan Allah dan indahnya ciptaan Allah SWT.
Ilmu pengetahuan modern telah menerangkan bahwa ruang angkasa (tempat bintang-bintang) menyimpan keajaiban-keajaiban yang dapat dilihat dari cepatnya peredaran dan bentuknya yang besar. Di ruang angkasa terdapat sekitar tiga puluh miliar bintang-bintang. Setiap bintang adalah matahari yang kedudukannya sama seperti matahari yang menjadi pusat tata surya. Umur matahari sendiri sekitar lima milyar tahun. Inilah sedikit dari kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Suatu keanehan apabila manusia enggan memerhatikan semua itu, padahal ia telah dianugerahi akal dan pikiran.
Surah Yunus [10]: 101, dengan tegas mengajak kita untuk berpikir dan mengkaji fenomena alam agar manusia mengakui kekuasaan Allah serta mengimani-Nya. Oleh karena itu, diperkenalkannya proses kejadian alam semesta dan proses penciptaan manusia, serta keajaiban dan fenomena alam di beberapa ayat Al-Qur’an yang merupakan tanda-tanda Allah Maha kuasa berbuat segala sesuatu menurut iradat-Nya. Dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa segala apa yang telah Allah ciptakan didunia ini dan segala peringatan yang disampaikan oleh para rasul-Nya sama sekali tidak akan bermanfaat bagi orang yang tidak beriman kepada-Nya. Artinya, untuk menemukan hikmah dan manfaat dari segala apa yang Allah ciptakan serta ajaran-ajaran luhur para rasul-rasul-Nya, syarat utama yang perlu kamu penuhi adalah keimanan. Tanpa itu, semuanya akan sia-sia belaka.

C.   Makna Berpikir Kritis
Berpikir kritis didefinisikan beragam oleh para pakar. Menurut Mertes, berpikir kritis adalah “sebuah proses  yang sadar dan sengaja  yang digunakan  untuk menafsirkan dan mengevaluasi  informasi dan pengalaman dengan sejumlah sikap reflektif dan kemampuan yang memandu keyakinan dan tindakan”.
Sedangkan menurut Mustaji berpikir kristis adalah “berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan”. Salah satu contoh kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan “membuat ramalan”, yaitu membuat prediksi tentang suatu masalah, seperti memperkirakan  apa yang akan terjadi besok berdasarkan  analisis terhadap kondisi yang ada hari ini.
Berangkat dari definisi di atas, sikap dan tindakan yang mencerminkan berpikir kritis terhadap ayat-ayat Allah SWT. (informasi Ilahi) adalah berusaha memahaminya dari berbagai sumber, menganalisis, dan merenungi kandungannya, kemudian menindaklanjuti dengan sikap dan tindakan positif.
Dalam Islam, masa depan yang dimaksud bukan sekedar masa depan di dunia, tetapi lebih jauh dari itu, yaitu di akhirat. Orang yang dipandang cerdas oleh Nabi adalah orang yang pikirannya jauh ke masa depan di akhirat. Maksudnya, jika kita sudah tahu bahwa kebaikan dan keburukan akan menentukan nasib kita di akhirat, maka dalam setiap  perbuatan kita, harus ada pertimbangan akal sehat. Jangan dilakukan perbuatan yang akan menempatkan kita di posisi yang rendah di akhirat. “Berpikir sebelum bertindak”, itulah motto yang harus menjadi acuan orang “cerdas”. Pelajari baik-baik sabda Rasulullah saw. berikut:
Dari Abu Ya’la yaitu Syaddad Ibnu Aus r.a. dari Nabi saw. Beliau bersabda: “Orang yang cerdas ialah orang yang mampu  mengintrospeksi dirinya dan suka beramal untuk kehidupannya setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang selalu mengikuti  hawa  nafsunya  dan berharap kepada Allah dengan harapan kosong”. (HR. At-Tirmizi  dan beliau berkata: Hadits Hasan).
Dalam hadis ini Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang pandangannya jauh ke depan, menembus dinding duniawi, yaitu hingga  kehidupan  abadi  yang  ada  di balik kehidupan fana di dunia ini. Tentu saja, hal itu sangat  dipengaruhi oleh keimanan seseorang kepada adanya kehidupan kedua, yaitu akhirat. Orang yang tidak meyakini adanya hari pembalasan, tentu tidak akan pernah berpikir untuk menyiapkan diri dengan amal apa pun. Jika indikasi “cerdas” dalam  pandangan Rasulullah adalah jauhnya orientasi dan visi ke depan (akhirat), maka pandangan-pandangan yang hanya terbatas pada dunia, menjadi pertanda tindakan “bodoh” atau “jahil” (Arab, kebodohan = jahiliyah). Bangsa Arab pra Islam dikatakan jahiliyah bukan  karena  tidak bisa baca  tulis, tetapi  karena  kelakuannya  menyiratkan kebodohan, yaitu menyembah berhala dan melakukan kejahatan-kejahatan. Orang “bodoh” tidak pernah takut melakukan korupsi, menipu, dan kezaliman lainnya, asalkan dapat selamat dari jerat hukum di pengadilan dunia.
Jadi, kemaksiatan adalah  tindakan “bodoh” karena hanya memperhitungkan pengadilan  dunia  yang  mudah   direkayasa,  sedangkan  pengadilan  Allah di akhirat  yang  tidak  ada tawar-menawar malah ”diabaikan”. Orang-orang tersebut dalam hadis di atas dikatakan  sebagai  orang “lemah”, karena tidak mampu melawan nafsunya sendiri. Dengan demikian, orang-orang yang suka bertindak bodoh  adalah orang-orang  lemah. Orang yang cerdas juga tahu bahwa kematian bisa datang kapan saja tanpa diduga. Oleh karena itu, ia akan selalu bersegera melakukan kebaikan (amal saleh) tanpa menunda.

D.   Manfaat Berpikir Kritis
Adapun manfaat berfikir kritis di antaranya adalah:

  1. Dapat menangkap makna dan hikmah di balik semua ciptaan Allah SWT.;
  2. Dapat  mengoptimalkan pemanfaatan  alam  untuk  kepentingan  umat manusia;
  3. Dapat  mengambil  inspirasi dari semua  ciptaan  Allah SWT. dalam mengembangkan IPTEKS;
  4. Menemukan jawaban dari misteri penciptaan alam (melalui penelitian);
  5. Mengantisipasi    terjadinya   bahaya,   dengan   memahami  gejala   dan fenomena alam;
  6. Semakin bersyukur kepada Allah SWT. atas anugerah akal dan fasilitas lain, baik yang berada di dalam tubuh kita maupun yang ada di alam semesta;
  7. Semakin bertambah keyakinan tentang adanya hari pembalasan;
  8. Semakin termotivasi untuk menjadi orang yang visioner;
  9. Semakin bersemangat dalam mengumpulkkan bekal untuk kehidupan  di akhirat, dengan meningkatkan amal salih dan menekan  /meninggalkan kemaksiatan.

E.   Perilaku Mulia Penerapan Berpikir Kritis
Berikut ini adalah  sikap dan perilaku terpuji yang harus dikembangkan terkait dengan berpikir kritis berdasarkan  ayat al-Qur'an dan hadis di atas ialah: 
  1. Senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. atas anugerah akal sehat;
  2. Senantiasa bersyukur  kepada Allah SWT. atas  anugerah alam semesta  bagi manusia;
  3. Melakukan kajian-kajian terhadap ayat-ayat al-Qur'an secara lebih mendalam bersama para pakar di bidang masing-masing;
  4. Menjadikan ayat-ayat al-Qur'an sebagai inpirasi dalam melakukan penelitian- penelitian ilmiah untuk mengungkap misteri penciptaan alam;
  5. Menjadikan ayat-ayat kauniyah (alam semesta) sebagai inspirasi dalam mengembangkan IPTEK;
  6. Mengoptimalkan  pemanfaatan alam dengan ramah untuk kepentingan umat manusia;
  7. Membaca  dan  menganalisis  gejala  alam  untuk  mengantisipasi  terjadinya bahaya;
  8. Senantiasa berpikir jauh ke depan dan makin termotivasi untuk menjadi orang yang visioner;
  9. Senantiasa berupaya meningkatkan amal salih dan menjauhi kemaksiatan sebagai tindak lanjut dari keyakinanannya tentang adanya kehidupan kedua di akhirat dan sebagai perwujudan dari rasa syukur kepada Allah SWT.atas semua anugerah-Nya;
  10. Terus memotivasi diri dan berpikir kritis dalam merespons semua gejala dan fenomena alam yang terjadi.



BAB I KELAS XI - MEMBANGUN BANGSA MELALUI PERILAKU TAAT, KOMPETITIF DAN KERJA KERAS

MEMBANGUN BANGSA MELALUI PERILAKU TAAT,
KOMPETITIF DAN KERJA KERAS

Membangun Bangsa Dengan Bahasa Indonesia | Bahasakita.com

DOWNLOAD BUKU PAI BAB I KELAS XI

Perlu anda ketahui, manusia diciptakan oleh Allah SWT semata-mata untuk beribadah kepadaNya. Tentunya beribadah dengan pengertian yang luas, tidak hanya menjalankan sholat, puasa, atau zakat. Akan tetapi setiap aktivitas dalam kehidupan sehari-hari pun merupakan bagian dari ibadah, jika anda meniatkan semua itu untuk ibadah. Ini artinya kita dituntut oleh Allah untuk mempersembahkan yang terbaik dalam arti kita harus senantiasa termotivasi untuk berkompetisi dalam kebaikan. Dalam modul ini, anda akan diajak untuk mengkaji bagiamana sikap kompetitif yang harus dimiliki oleh setiap muslim sebagai bentuk implementasi pemahaman dari QS. Al Maidah (5): 48;Q.S. Az-Zumar (39) : 39; dan Q.S. At Taubah (9): 105 serta Hadits yang terkait

 

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

 

Artinya :

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” (QS. Al Maidah (5): 48)

 

Dari terjemahan ayat diatas dapat dipahami bahwa Allah SWT. menghendaki manusia itu sebagai makhluk yang dapat mempergunakan akal dan pikirannya, dapat maju dan berkembang dari zaman ke zaman. Dari masa kanak-kanak ke masa remaja meningkat jadi dewasa dan seterusnya.

Demikianlah Allah SWT. menghendaki dan memberikan kepada tiap-tiap umat syariat tersendiri untuk menguji sampai di mana manusia itu dapat dan mampu melaksanakan perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya. Sebagai mana yang telah ditetapkan di dalam kitab Samawi-Nya, untuk dapat diberi Pahala atau disiksa.

Oleh karena itu sudah seharusnyalah manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan dan amal saleh, sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Nabi penutup, Rasul terakhir Muhammad SAW. Syariat yang menggantikan syariat sebelumnya. untuk kepentingan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.

Pada suatu waktu nanti, mau tak mau manusia akan kembali kepada Allah SWT. memenuhi panggilan-Nya, ke alam Baqa. Di sanalah nanti Allah SWT. akan memberitahukan segala sesuatunya tentang hakikat yang diperselisihkan mereka. Orang-orang yang benar-benar beriman akan diberi pahala, sedang orang-orang yang ingkar dan menolak kebenaran, serta menyeleweng dari-Nya tanpa alasan dan bukti akan diazab dan dimasukkan ke dalam neraka.

 

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Artinya :

Katakanlah: "Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,(Q.S. Az-Zumar (39) : 39)

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 

Artinya :

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".(Q.S. At Taubah (9): 105)

 

Allah memerintahkan kita untuk bekerja, dan Allah pasti membalas semua apa yang telah kita kerjakan. Yang paling unik dalam ayat ini adalah penegasan Allah bahwa motivasi atau niat bekerja itu mestilah benar.  Sebab kalau motivasi bekerja tidak benar, Allah akan membalas dengan cara memberi azab. Sebaliknya, kalau motivasi itu benar, maka Allah akan membalas pekerjaan itu dengan balasan yang lebih baik dari apa yang kita kerjakan. Lebih jauh Surat An-Nahl : 97 menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan gender dalam menerima upah / balasan dari Allah.  Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada diskriminasi upah dalam Islam, jika mereka mengerjakan pekerjaan yang sama.  Hal yang menarik dari ayat ini, adalah balasan Allah langsung di dunia (kehidupan yang baik/rezeki yang halal) dan balasan di akherat (dalam bentuk pahala).

 

Hadits tentang keutamaan bekerja keras

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah ShallAllahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik, daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Dalam sebuah hadits yang lain Rasul ShallAllahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah” (Hadits Riwayat Ahmad & Ibnu Asakir )

 

Dalam hadits-hadits yang disebutkan di atas, menunjukkan bahwa bekerja merupakan perbuatan yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Rasulullah ShallAllahu 'Alaihi wa Sallam memberikan pelajaran menarik tentang pentingnya bekerja. Dalam Islam bekerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut, tapi juga untuk memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Karenanya, bekerja dalam Islam menempati posisi yang teramat mulia. Islam sangat menghargai orang yang bekerja dengan tangannya sendiri.

Kerja juga berkait dengan martabat manusia. Seorang yang telah bekerja dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya akan bertambah martabat dan kemuliannya. Sebaliknya, orang yang tidak bekerja alias menganggur, selain kehilangan martabat dan harga diri di hadapan dirinya sendiri, juga di hadapan orang lain. Jatuhnya harkat dan harga diri akan menjerumuskan manusia pada perbuatan hina. Tindakan mengemis, merupakan kehinaan, baik di sisi manusia maupun di sisi Allah SWT. Akan tetapi perlu diingat bahwa yang dimaksud dalam hadits-hadits di atas adalah orang yang bekerja sesuai dengan ajaran Islam. Bekerja pada jalur halal dan bukan bekerja dengan pekerjaan yang diharamkan oleh Allah. Allah Subhanhu Wa Ta'ala. telah membentangkan bumi dan langit ini adalah sebagai karunia yang teramat besar untuk seluruh umat manusia. Yuk kita makmurkan bumi ini melalui kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas, agar pintu keberkahan mengalir ke segala penjuru bumi ini, amin.

Wallahu a'lam

------------------------------------

SIMAKLAH VIDEO BERIKUT INI DENGAN BAIK !

------------------------------------

1. VIDEO PERTEMUAN 1 TENTANG TAAT ATURAN


2. VIDEO PERTEMUAN 2 KOMPETISI DALAM KEBAIKAN


3. VIDEO PERTEMUAN 3 ETOS KERJA

VIDEO BELUM DISAMPAIAKN





BAB I KELAS X - MENITI HIDUP DENGAN KEMULIAAN

Husnudzan Kepada Allah Swt (Pengertian, Contoh, & 4 Bentuk, Hikmah ...
MENITI HIDUP DENGAN KEMULIAAN

A.   Mujahadah An-Nafs (Pengendalian Diri)
Setiap agama pada dasarnya pasti mengajarkan pemeluknya agar menjaga kedamaian dalam kehidupannya. Menjaga kedamaian berarti menjaga suasana agar tentram dan rukun. Terlebih kita seorang muslim, agama sangat menganjurkan agar kita sedapat mungkin menjaga kedamaian dan keselamatan diri dan lingkungan kita. Hal ini tersirat dalam anjuran Nabi agar kita senantiasa menebar salam (keselamatan).
Sedangkan Mawas diri merupakan sikap waspada atau berhati-hati dalam bertindak. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Mawas diri merupakan suatu tindakan yang penting untuk dilakukan agar kita tidak salah dalam mengambil sebuah keputusan. Sikap mawas diri dalam bahasa arab disebut dengan Mujahadah an-Nafs. Arti mujahadah menurut bahasa adalah perang, menurut syara’ adalah memerangi nafsu amarah dan memberi beban kepadanya. Sebagian ulama’ mengartikan mujahadah adalah tidak menuruti keinginan nafsu dan menahan nafsu dari hal yang disenanginya. Dengan demikian mujahadah adalah tindakan yang berkaitan dengan perlawanan terhadap nafsu, yang lazim disebut dengan mujahadah an nafs.Sikap mawas diri (Mujahadah an Nafs) juga berfungsi sebagai pembatas atau pengontrol dalam kehidupan sehingga kita tidak akan terjurumus jalan yang salah. Namun bila sikap mawas diri itu menjadi berlebihan dalam diri seseorang, maka sikap mawas diri itu akan berubah menjadi ketakutan yang akan menghambat kemajuan orang tersebut.
Firman Allah SWT berkaitan dengan Mawas diri (Mujahadah an-Nafs)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَوا۟ وَّنَصَرُوٓا۟ أُو۟لَٰٓئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يُهَاجِرُوا۟ مَا لَكُم مِّن وَلَٰيَتِهِم مِّن شَىْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا۟ ۚ وَإِنِ ٱسْتَنصَرُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ فَعَلَيْكُمُ ٱلنَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍۭ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَٰقٌ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Anfal ayat 72)

Diantara Hikmah sikap mawas diri (Mujahadah an-Nafs) antara lain :
1)    Hati semakin bersih dan tenang
2)    Memperoleh kebahagiaan lahir dan batin
3)    Diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam mengerjakan amal shaleh
4)    Dijauhkan dari sifat-sifat tercela, seperti iri, dengki dan sombong
5)    Dicintai Allah SWT dan sesama manusia
6)    Mendapatkan hidayah yang sempurna dari Allah SWT
7)    Mendapatkan ridha dari Allah SWT

B.   Husnudzan (Prasangka Baik)
Husnudzan merupakan salah satu bagian dari akhlaq terpuji yang wajib dimiliki oleh seorang Muslim.Dalam Bahasa Arab Husnudzan sendiri terdiri dari dua kata yaitu Husnu yang berarti baik dan dzan yang berarti sangka. Jadi husnudzan dapat diartikan sebagai sikap berbaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah SWT.
Firman Allah SWT berkaitan dengan sikap husnudzan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat ayat 12)

Diantara Hikmah sikap Husnudzan antara lain :
1)     Hidup menjadi tenang dan penuh optimis.
2)     Yakin bahwa terdapat hikmah di balik segala cobaan
3)     Membentuk pribadi yang tangguh
4)     Menjadikan seseorang kreatif
5)     Menyebabkan seseorang tidak mudah putus asa
6)     Terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama.

C.   UKHUWWAH (PERSAUDARAAN)
Persaudaraan adalah jalinan kekeluargaan atau kekerabatan antara satu individu dengan individu yang lain baik disebabkan karena faktor keturunan,  perkawinan, kesamaan keyakinan atau sebab yang lain. Menjalin tali persaudaraan atau ukhuwwahmerupakan salah satu hal yang diperintahkan oleh Allah SWT, sebagaimana yang tercantum dalam firmannya Q.S. Al Hujurat : 10

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat ayat 10)

 Dan sabda Rasulullah SAW, yang berbunyi :
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. (رواه المسلم(
Artinya : “Dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda: "Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi.” (HR Muslim)

Wallahu A'lam 

------------------------------------

SIMAKLAH VIDEO BERIKUT INI DENGAN BAIK !

------------------------------------

1. VIDEO PERTEMUAN I TENTANG HUSNUDZAN


2. VIDEO PERTEMUAN II TENTANG UKHUWWAH
   Belum diposting

3. VIDEO PERTEMUAN III TENTANG ASMAULHUSNAH
     Belum diposting

gpaismkn5sby. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts